Jumat, 20 November 2015

My New Favo !

Setelah baca postingan terdahulu tentang Internship RSUD I Laga Ligo, ternyata ada satu dokter yang belom disebut karena waktu saya sekelompok pertama kali di RS beliaunya lagi pelatihan gitu. Jd kurang familiar deh sama nama beliau. 
So.. now I will introduce to you all my new favo doc,welcome !!!

dr. Sa'diyah Manda Sp.A 


Sekarang saya kebetulan di stase Anak nih -ciyeee iship punya stase kayak koass ciyeee :p- dan beliau deh yang saya kejar-kejar tiap hari buat nunggu visite, buat diskusi, buat poli dan lain-lain. Pokonya selama di RS ya sama beliau :)

Awal denger nama beliau rada nakutin sih, karena katanya belau itu orangnya tegas dan bla bla bla
But, setelah kenal...WOW ! Beliau baik bangeeet, sebaik-baiknya konsulen Anak yang pernah saya temuin, seriusan :)
Kalau ada tiga kata yang bisa deskripsiin beliau ya : Pinter, Cerdas, Cekatan !

Inspirasi banget sih dari beliau. Semua tindakan di perinatologi ya beliau yang kerjain sampe ke urusan ambil sample darah. Beliau mau banget tuh nungguin bayi yang kira-kira emang butuh pengawasan lebih berjam-jam, padahal banyak bgt kan kerjaan yang lainnya, dan padahal juga bisa diserahin ke petugas ruangan untuk ngamatin trus lapor. Selain itu, beliau orangnya teliti banget. Beberapa kali aja entah salah nulis, salah gomong, pasiennya salah nyebut, atau apapun yang remeh-temeh selalu ketangkep basah sama beliau. Jadi kadang suka malu sendiri deh :p

Sadly, besok udah hari terakhir bareng beliau. Antara sedih karena mau pisah konsulen sebaik dan seupdate beliau dan seneng karena stase berikutnya jumlah pasiennya lebih sedikit jd bs dateng ke RS rada siang hehehe :p 
Kalau selama 2 minggu di Anak ini kan pasiennya banyak tuh, apalagi beberapa hari belakangan lagi musim banget Demam Berdarah jadi itu bangsal anak sampe tumpeh-tumpeh, penuh pasien anak. Konsekuensinya ya dateng follow up nya rada pagi gitu supaya keburu buat follow up semua pasien. Etapi dokternya emg pengertian banget dah. Beliau gak pernah ngelama-lamain kami di poli, malah kalau bisa pasien yang gak perlu ditunggu ya gausah ditunggu, jadi kami bisa rada gasik pulang dari RS nya :)

Minggu lalu nih, kami diajak nginep dan jalan sama dr.Sa'diyah ke rumah beliau di Wawondula yang jaraknya sekitar 3 jam dari Wotu. Kebetulan disana ada beberapa tempat cihuy. Beberapa destinasi nya nanti saya bahas di bab yang laen ye :D Yang jelas... happy banget bisa kenal sama keluarga besar beliau yang super rukun, ramah, rame karena banyak krucil-krucilnya yang kira-kira umur 3-5 tahunan, dan yaa happy lah bisa diajak jalan-jalan kesana kemari ...

Last but not least,
Saya cuma bisa ngasih hadiah doa untuk Guru dan Konsulen hebat saya ini...
Semoga dr.Sa'diyah Sp.A selalu diberi keberkahan, kemudahan dan kesuksesan dalam semua hal yang ingin dan belum dicapai beliau ...
Semoga beliau dan keluarga besar selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan ...
AMIN !

Thx dok buat semua ilmu, pengalaman, kesan-kesannya yang manis, dan segalanya :)


Suami, dr. Sa'diyah Sp.A, dan saya :)



Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

Senin, 16 November 2015

Fakta-Fakta Mengenai Dokter yang Belum Diketahui Orang Banyak

Banyak hal yang gak banyak orang tau tentang dokter, nah saya selaku dokter -ciyee- mau bocorin sedikit nih beberapa fakta-fakta mengenai dokter. Yuk mare :

1. Biaya Pendidikan Dokter Selangit


Ini contoh aja nih, dari salah satu universitas yang ada Fakultas Kedokterannya. See ? Fakultas Kedokteran jadi ranking 1 penyumbang terbesar kas Kampus. Makanya pelayanan mulai dari pengurusan masalah akademik, semester, bayaran, ujian dan lain-lain biasanya jauh lebih dimudahkan dan fasilitasnya pun jauh lebih bagus. Ya masa udah bayar mahal terus dikasihnya sama aja, kan gak mungkin dong ... Itu baru biaya secara umum. Di beberapa universitas bahkan ada yang tiap mau ujian bayar, ngulang ujian bayar, praktikum bayar, ngulang praktikum bayar. Belom lagi harga buku-buku nya yang setebel-tebel bantal tidur, gausah ditanya deh harganya berapa. 

Selain itu,  setelah lulus dari kampus kami anak kedokteran ada yang namanya pendidikan klinik atau koass daaaan sebelum bisa berangkat koass harus diuji lagi, ya pasti ujiannya bayar dong. Setelah ujian lulus, mau berangkat koass yaaa bayar lagi. Biasanya bayaran untuk koas ini bisa hampir setengahnya dari biaya bayaran kampus, diitung sendiri yah kira-kira berapa :) 

2. Lama Kuliah Dokter setara S1+S2 jurusan lain




Biasanya untuk lama pendidikan S1 jurusan lain diluar kedokteran bisa memakan waktu 5-7 tahun khususnya di Indonesia. Sedangkan untuk kami anak kedokteran 2 kali lipatnya coy. Beberapa tahap pendidikannya udah di jelasin gambar diatas. Tahap Sarjana Kedokteran tercepat bisa dilalui dalam waktu 3.5 tahun, terlama bisa sampe maksimal 7 tahun, diatas itu biasanya sudah di DO. Setelah itu program profesi dokter alias koass sekitar 1,5-2 tahun bergantung kurikulum yang dianut masing-masing universitas, namun sebelumnya kami harus diuji dulu untuk tau layak atau gak menjadi koass, proses Ujian dan pembimbingannya sekitar 6 bulan. Selesai Koass tahap selanjutnya adalah mengikuti ujian nasional atau yang biasa disebut dengan UKDI yang diadakan pertiga bulan, diantara nya ada waktu menunggu dan waktu bimbingan, total sekitar 6 bulan-1 tahun. Kemudian diangkat sumpah dokter (alias mendapat gelar dr.) lanjut program internship yang lamanya 1 tahun. Nah setelah selesai internship ini baru deh kami bisa jadi dokter yang praktek mandiri. So, total untuk kami anak kedokteran mulai masuk hingga bisa bekerja sendiri adalah selama 7.5-13 tahun. Itu rata-ratanya, ada yang lebih lagi loh :D

3. Pendidikan Dokter memiliki JUMLAH UJIAN terbanyak

Biasanya jurusan diluar kedokteran dengan sistem semester memiliki jumlah ujian formal dua kali dalam setahun, yaitu tengah semester dan akhir semester, ditambah ujian akhir skripsi, ya kan ? Kami anak kedokteran memiliki sistem yang sedikit berbeda. Kami yang dengan model paket alias blok memiliki 3-5 blok/paket pelajaran dalam 1 semester. . Masing-masing ujian terdiri dari ujian tertulis dan ujian praktek, jadi satu blok ada 2x ujian. So minimal ada 6-11 ujan formal dalam satu tahun sudah ditambah dengan ujian akhir skripsi atau karya tulis namun diluar ujian per 1 paket yang terdiri dari 5-6 materi yang tiap materi ada ujiannya tiap minggu. Setelah lulus kampus, kami ada ujian kelayakan untuk menentukan pemberangkatan koass. Semua materi yang ada di kampus menjadi materi ujian koas. Dalam 1.5-2 tahun koas terdiri dari 10-12 bagian, dan tiap selesai bagian kami ada ujian tersendiri baik ujian tulis maupun ujian lisan. Dalam pendidikan koass minimal ada 10-12 kali ujian. Lulus koass, kami belum langsung jadi dokter karena harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Ujian UKDI ini terdiri dari 2 kali ujian yaitu ujian percobaan dan ujian formal. Masing-masing terdiri dari dua tahap yaitu ujian tertulis dan ujian praktek, jadi total untuk menjadi dokter ada 4 ujian yang harus dilewati. 

Nah....sekarang kita total semua ya, total ujiannya anak kedokteran adalah 20-27 ujian formal diluar ujian per paket tiap minggu nya selama 3.5-7 tahun pendidikan kampus.

Masih ada yang ragu sama dokter setelah diuji bertubi-tubi begini ? Masih ada yang bilang dokter umum bodo dan gatau apa-apa setelah ngelewatin pilihan ujian begini? Sungguh Terlalu :p 

4. Dokter Internship TIDAK DIGAJI


Dulu, sebelum ngejalanin semua tahap pendidikan dokter ... saya pikir jadi Dek Koass adalah bagian ter-ter-ter- ... eh ternyata saya salah. Waktu Koass, wajar kami dimarahin. Waktu Koass, wajar kami disuruh. Waktu Koass, sangat wajar kami diuji. Waktu Koass, sangat wajar kami tidak digaji. Waktu Koass, yaa wajar lah kami tidak dihargai. Karena memang masih proses belajar, dan belum punya titel apapun.

Tapi sekarang, setelah menjalani internship. Rupanya semua keperihan lebih banyak ada di proses ini. Sudah bertitel tapi tidak dihargai. Sudah bertitel tapi dipandang sebelah mata. Sudah bertitel tapi malah seperti dek koass. Sudah bertitel tidak digaji.

Kami paham betul bahwa menjadi dokter berarti belajar seumur hidup. Bahwa menjadi dokter internship juga salah satu pembelajaran bagi kami. Bahkan fase hidup setelah internship pun juga fase pembelajaran bagi kami. Tapi, pasti banyak cara yang lebih baik untuk sekedar menghargai profesi kami kan ?

Kami yang sudah bekerja, menerima pasien, jaga malam, dan sebagainya diberikan oleh pemerintah bantuan hidup dasar (BHD) sebesar 2.5 jt rupiah (saya angkatan berangkat tahun 2016), berlaku untuk seluruh Indonesia. Entah ada di jawa yang semua serba murah dan serba terjangkau, atau entah yang seperti saya di daerah yang serba mahal dan semua serba jauh, atau malah seperti banyak teman sejawat lain yang di pedalaman yang bahkan sinyal saja tidak ada. BHD itu dipotong pajak pula, entah pajak apa karena kami belum berpenghasilan, masa iya ada pajak penghasilannya ?

BHD ini jauh sekali dari gaji para pegawai lain yang setara kami. BHD ini jauh sekali dari harapan kami yang ada di pedalaman yang bahkan untuk makan saja tidak cukup. Bagaimana dengan kami yang sudah berkeluarga ? Bagaimana dengan kami yang menjadi tulang punggung keluarga ? karena selama internship kami sama sekali tidak punya hak untuk bekerja di klinik/RS lain, sekedar cari penghasilan tambahan. Gak heran sih, banyak dokter internship yang jualan lah, jadi pegawai mini market lah, jadi buruh lah, demi hidup coy ! :p

Mengeluh ? Tentu tidak. Kami tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Demo ? Tidak juga. Apa pula nanti pandangan masyarakat kalau dokternya demo. Bukannya mendapat simpati, pasti malah dicibir sana sini. Dikira menelantarkan pasien. Dikira matre. Dikira tidak bersyukur. Dikira ini dan itu.

Padahal harapan kami simple....sekedar pekerjaan kami dihargai sebagaimana beratnya resiko dan tanggung jawab kami terhadap nyawa banyak manusia, cukup itu :)
Kami sudah dokter loh ini, dokter internship yang sudah diuji bertubi-tubi, yang sudah berijazah, yang sudah bertitel :p

6. Dokter Umum diberikan 2.500 per pasien sebagai upah

Berbeda dengan banyak pekerjaan lain, beberapa fasilitas kesehatan membayar dokternya per kepala. Kini, sebagian besar masyarkat Indonesia telah memiliki asuransi kesehatan yaitu BPJS. Nah dari pasien-pasien BPJS ini, dokter dibayar 2.500/kepala yang berobat di sebagian besar klinik dan rumah sakit. Bagaimanapun bentuk sakitnya. Bagaimanapun resiko nya. Bagaimana pun keadaan pasiennya. Apapun tindakan yang dilakukan. TIDAK PANDANG BULU alias TIDAK PANDANG BESAR RESIKO :)

Padahal dokter dihadapkan pada resiko medis yang besar. Dokter dihadapkan pada tuntutan pasien yang harus sembuh, harus cepat, harus tanpa efek samping. Dokter dihadapkan pada tantangan hukum yang membayangi nya. Dokter dihadapkan pada sorotan media yang sering malah membuat profesi dokter di pihak antagonis. 

Hal tersebut, sangat berbeda dengan yang kami rasakan. Saya rasa sebagai dokter kami semua sama. Dokter manapun pasti ingin yang terbaik bagi pasiennya. Kami ingin pasien kami sehat dan terlayani dengan baik. Kami ingin pasien kami mendapat obat yang terbaik. Kami ingin memberikan penanganan yang terbaik. Tapi, ah sudah lah kami ini pada dasarnya cuma buruh rumah sakit. Apa sih yang bisa dilakuin selain ikut peraturan dan manajemen?

7. Beban Pendidikan Dokter Tinggi

Setelah lulus dokter umum, kami para dokter bisa memilih ingin terus menjadi dokter umum, pendidikan spesialis atau lain-lainnya. Tentu banyak yang ingin menjalani pendidikan spesialis dong karena secara keilmuan lebih spesifik dan secara tingkat pendidikan tentunya lebih tinggi dibandingin dr. umum -yaiyalah :p- Zaman makin berkembang, sekarang gak hanya ada satu atau dua spesialis bahkan puluhan dan berkembang lagi menjadi puluhan sub spesialis dan konsultan. So, kalau cita-cita nya klinis dan pengen pendidikan spesialis, subspesialis atau konsultan mesti nyiapin budget dan waktu lagi deh buat pendidikan. Selain waktu yang lumayan lama, biaya masuk nya yang tinggi, selama menjalani pendidikan kami gak diperkenankan untuk buka praktek lain, so selama pendidikan harus udah punya modal yang cukup bro. Makanya selama masih muda banyak dokter umum yang mati-matian kejar setoran -salah satunya gue bray, demi mencapai cita-cita dan demi masa depan yang lebih cerah- hahaha AMIN :)


Demikian, beberapa fakta-fakta tentang dokter. Masih banyak fakta lainnya loh. Semoga saya ada kesempatan untuk mengupdate ya :)
Yang jelas, tulisan ini tidak ada maksud negatif apapun. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun atau mengecilkan profesi manapun. Sekedar share, sekedar info. 
Semoga kesehatan Indonesia kedepan semakin baik dan semakin maju :)

#SAVEDOCTOR
#SAVEPEOPLE

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | 3 comments

Kamis, 12 November 2015

Profesi Dokter :)

Dulu waktu kecil, pas ditanya apa cita-cita nya kalau sudah besar ? Mesti banyak diantara jawaban kita pengen jadi dokter atau gak polisi ...

Sebegitu populernya profesi dokter, bahkan anak kecil yang belum sekolah aja tau, bahkan cita-cita jadi dokter gak hanya dimiliki oleh lapisan masyarakat tertentu, bahkan profesi dokter juga menjadi impian banyak orang tua di Indonesia ...

Jas putih, pengabdian, kaya raya, malpraktek, itu lah cap untuk profesi ini sekarang ...
Dokter belakangan menjadi sorotan publik dengan banyaknya coreng-moreng disana sini
Dokter belakangan seakan menjadi musuh bagi pasien
Dokter belakangan seakan menjadi sosok yang jahat, tidak berhati ...
Entah dokter mana yang dibicarakan ...

Dokter di pedalaman tanpa akses, tanpa jaminan kesehatan, tanpa tunjangan yang layak, tanpa kecukupan, tidak pernah ada yang menyorot ...

Dokter di perbatasan tanpa peralatan medis, tanpa obat yang memadai, tanpa dukungan maksimal dari pemerintah daerah, tidak pernah ada yang menyorot ...

Dokter di banyak daerah dengan jumlah pasien yang ratusan per hari tanpa pemberian hak yang pantas tidak pernah ada yang menyorot ...

Yang banyak disorot justru adalah, 

Kejadian akibat efek samping obat yang jumlahnya tidak banyak, itupun tidak bisa diprediksi sebelumnya, bahkan cuma Tuhan yang tau ... karena respon orang terhadap obat sangat personal, dan sulit untuk diprediksi ...

Kejadian dokter yang memberikan obat paten yang relatif mahal tetapi tetap memberikan obat tersebut sesuai indikasi ... karena banyak obat generik yang tersedia toh tidak memiliki kualitas yang baik ... karena bahkan jaminan kesehatan yang ada sekarang yaitu bpjs sangat terbatas dalam memberikan pilihan obat, sedangkan dokter dihadapkan pada tuntutan pasien yang harus sembuh, harus tanpa efek samping, dan harus cepat ...

Bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, salah satu teman sejawat kami, Internship di Kepulauan Aru yaitu dr.Andra meninggal dunia akibat infeksi virus yang berkomplikasi di otak ...
Dalam prosesnya alhamdulilah banyak pihak yang membantu termasuk RS terkait dan pemerintah daerah ...

Tapi tahukah masyarakat bahwa kesehatan kami, para dokter internship tidak ditanggung ?
Kami yang setiap hari bergelut dengan kesehatan masyarakat, memberikan terapi, edukasi, berkutat dengan darah, nanah, dan nyawa ...bahkan harus membayar untuk sekedar berobat di rumah sakit tempat kami bertugas ... adakah yang tau ini ?

Padahal banyak dari kami ditugaskan di daerah terpencil, penuh dengan penyakit infeksius, bahkan untuk vaksin saja kami harus mengeluarkan uang pribadi kami ...

Dengan gaji yang alhamdulilah lebih rendah dari pendapatan tukang parkir di Jakarta selama sebulan ini, kami masih harus mengeluarkan biaya besar untuk vaksin ini itu, untuk membeli obat ini itu, demi dapat bertugas dengan baik, menyelamatkan dan mengobati banyak orang, tanpa kami harus tertular ...

Jam kerja kami yang tidak mausiawi, tanggung jawab profesi kami yang sangat besar, tuntutan masyarakat yang begitu tinggi, dukungan dari pemerintah pusat yang begitu minimal, resiko pekerjaan kami yang sangat ekstrim .... ah sudahlah ...

Alhamdulillah, saya dan banyak teman sejawat saya terpilih menjalani profesi ini ...

Profesi yang sekolahnya saja melebihi profesi lain dalam lama masa studi, dalam jumlah uang yang harus dibayar ... tetapi diberikan penghargaan justru jauh dibawah profesi lain ...

Profesi yang masa sekolahnya, masa pendidikan profesinya, harus mengorbankan banyak hal ... tetapi setelah lulus kami juga masih harus berkorban lebih banyak hal lagi ...

Profesi yang katanya dituntut harus mengabdi, dituntut harus ikhlas, dituntut harus selalu memberikan pelayanan ... dengan mengesampingkan hak kami bahkan sebagai manusia bebas, hak kami sebagai pekerja, hak kami sebagai buruh di RS ...

Kami, harus bangga, karena tidak banyak orang yang mau memilih profesi ini, 

Karena kalau mau banyak uang kerja saja di bagian perpajakan, kuliahnya sebentar, setelah lulus bisa langsung bekerja dan gaji puluhan juta ... Kami ? Ah kami hanya seperempatnya dari itu dengan jumlah kerja, tanggung jawab, dan resiko yang lebih tinggi ...

Karena kalau mau cepat kaya masih banyak pekerjaan lain, yang kerjanya cukup tanda tangan dan nilai tanda tangannya jutaan rupiah ... Kami ? Ah sudah lah tidak usah dibahas ...

Insyallah kami paham betul, bahwa profesi ini adalah profesi mengabdi bagi kesehatan banyak orang ...
Insyallah keiklhlasan sudah pasti selalu kami jaga dan kami pegang teguh ...
Insyallah kesabaran dan kebanggaan kami akan profesi ini akan selalu kami pupuk, apapun berita yang beredar diluar sana mengenai profesi kami ...
Insyallah, meski jutaan mata manusia tertutup... Allah tidak akan menyia-nyiakan semua yang sudah kami lakukan ...
Insyallah, meski jutaan mulut manusia berkomentar pedas ... Allah tidak akan membiarkan kami terpuruk dengan semua niat dan usaha yang kami berikan ...

Kami akan terus mengabdi untuk negeri,
Kami akan terus memberikan pelayanan hingga pelosok negeri,
Kami akan terus bertatap muka dengan jutaan pasien yang menanti kami dengan penuh harap,
Kami akan terus membangkitkan profesi kami...

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, keberkahan, dan rahmat-Nya kepada seluruh dokter di Indonesia, amin :)


#HKesehatanNasional
#DokterBerduka
#RIPtemansejawat
#HidupDokterIndonesia









Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

Rabu, 11 November 2015

Mengulang Koass :D

Alhamdulilah setelah beberapa waktu di rumah, yang dikira orang liburan padahal gak ada libur-liburnya ...
Yang dikira orang gimana-gimana padahal gak segitunya ...
Sekedar pengen punya kegiatan yang lebih bermanfaat ...
Sekedar pengen punya quality time buat diri sendiri dan banyak orang ...
Sekedar itu aja :)

But well, gatau kenapa setiap perjalanan saya selalu dan selalu aja bermasalah
Kemaren karena banyak huru-haranya sebelom ke bandara akhirnya berangkat dr rumah rada nelat dari planning awal
Padahal di papan pengumuman bandara pesawat lio* air jurusan makassar delay, tapi gatau kenapa hari itu perasaan gak enak aja pengennya buru-buru masuk dan check in ..
Eh bener ... sampe dalem ternyata udh gabisa check in alias TELAT, bete aja gitu kenapa papan pengumumannya bilang delay ternyata enggak -.- telatnya 10 menit dari batas check in terakhir aja coba,
Yaudah akhirnya reschedule dan bla bla bla seharusnya kami berangkat jam 13.10 so kami jadi berangkat di pesawat jam 21.10 yang akhirnya delay dan baru berangkat jam 21.45 WIB
Dalem otak udah gak bisa mikir apapun lagi, yang penting sampe deh di Makassar apapun yang terjadi
Kami sampe jam 02.00 WITA dalam keadaan setengah mabok karena ngantuk berat, dihadapkan pada kenyataan terminal daya dan sekitarnya kosong babar blas gak ada tanda-tanda mahluk hidup kecuali rumput yang bergoyang ....
Dengan amat sangat berat akhirnya nginep dulu di hotel nunggu pagi, alhamdulilah deh nemu kasur dan bisa langsung pelor aka. nempel molor
Beberapa jam kemudian, setelah seger dan matahari kayaknya udah tinggi, kami out dan akhirnya naik mobil pete-pete (mobil keluarga yang dipake buat angkutan umum jarak jauh) ke wotu hari itu juga ...
AND FINALLY jam 22.00 WITA nyampe deh kami di asrama yeyeye :D

Itu cerita balik WOTU, cerita balik BEKASI belom denger ya ?

Cerita dimulai dari salah pesen tiket bus, 
Rencana awal adalah kami pesen tiket bintang timur (nama bus yang biasa dipesan sm temen-temen yang udah pulang bolak balik), lah gatau kenapa yang kebeli malah tiket bus kharisma
Gak terlalu masalah sih cuma akhirnya miskom, kaminya nunggu dimana eh si busnya nunggu dimana 0.0
Akhir cerita, itu bus kharisma mogok tengah jalan tengah malem tengah sawah coy ! 
Malah tiket pesawat nya ambil jam pagi kan, udah jedag jedug aja takut telat
Akhirnya setelah nunggu radak lama, kami mutusin buat ganti bus dan taraaaa busnya seadanya banget, yaaaah syudahlah apa boleh buat daripada tiket melayang
Nyampe bandara udah dalam keadaan lusuh, bau, muka berminyak, muncul jerawat, dan gagal gaul banget lah -.-
But... kami cukup bergembira karena akhirnya bisa pulang dengan keadaan bagaimanapun , ciyeee :p

Nah inti cerita nya bukan pada cerita saya pulang dan pergi Wotu saudara-saudara ! hehehe
Itu tadi cuma preambule alias pembukaan aja, karena saking serunya perjalanan saya jadi yaa... sayang aja gitu kalau gak dipost :D

Jadi saya pengen banget ngasih kabar gembira buat anak kedokteran yang suka banget sama masa-masa koass
Karena internship adalah pengulangan koass ...

Yap ! kayak saya sekarang yang kebetulan dapet di rawat inap dan kegiatannya bener-bener koass-able deh. Mulai dari pagi follow up, lanjut nunggu konsulen dateng, nemenin visite, trus terakhir nongkrong dah di poli.
Perbedaannya cuma di panggilan aja, kalau dulu dipanggil dek atau mbak koass sekarang alhamdulilah udah dipanggil dok :')
But over all, internship gak ada bedanya ama koass 
Ya ... semua hal tetep ada positif dan negatifnya ya bro ...
Positifnya, insyallah nambah pengalaman sih karena pastinya ketemu tipe pasien yang beda
Udah gitu bisa nambah dan ngerefresh ilmu karena konsulennya cihuy-cihuy !

Semoga dua bulan sisa ini berjalan cepat, cepat dan cepat
Semoga dua bulan sisa ini berjalan lancar, lancar dan lancar
AMIN !
Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments