Minggu, 25 Desember 2016

Sayangilah Istrimu, Bahagiakanlah Dia...

Menjadi istri adalah sebuah pilihan bagi beberapa orang dan kebutuhan bagi beberapa yang lain ...
Setelah menjadi istri bertambahlah satu tugas dan tanggung jawab penting yaitu memenejeri urusan rumah dengan segala tetek bengeknya ...

Agak risih sama orang yang gak menghargai istrinya ...
Agak risih dengan keluarga yang memandang remeh menantunya ...

O hei hallo ?
(Anak) Andalah orang yang memilih perempuan itu menjadi istri ...
(Anak)Andalah orang yang menjemput dia dari rumahnya dibesarkan, rumah yang baginya adalah segala-galanya ..

Karena,
Disanalah kebahagiaannya selama ini ...
Disana ada memori kecilnya yang berharga ...
Disana ada Ibu Bapak yang (mungkin) menjadikan dia sebagai ratu, karena begitu sayangnya ...
Disana ada keluarga yang bagi perempuan sama penting nya dengan dirinya sendiri ...

Anda meminangnya untuk mengurus semua urusan rumah anda, untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak anda, dan entah untuk apalagi ...

Apapun itu perannya,
Dia lah yang akan mendampingi anda dalam suka duka
Dia lah yang akan menemani anda menua
Dia lah yang akan ada disamping anda saat anda sakit
Dia lah, anak perempuan yang sudah menyerahkan hidupnya pada anda ...

Jadi please ... hargai dan berikan dia kebahagiaan yang pantas sebagai ganti atas banyak hal yang ia tinggal kan ...
Jadi please ... berikan apapun yang bisa anda beri sebagai tanda bahwa andapun menganggapnya ratu di rumah...
Jadi please ... bersabarlah yang banyak atas banyak kesenangan yang ia lepaskan demi banyak hal bersamamu ...

Bukankah sebaik-baiknya laki-laki adalah yang paling baik sikapnya terhadap istri dan anaknya ?

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

Selasa, 20 Desember 2016

Ketika Prioritas Berubah

Jika ditanya, apa tidak ingin melanjutkan sekolah seperti si A ?
Apa tidak ingin lulus langsung lanjut ambil spesialis di luar negeri seperti si B ?
Jawaban keduanya?
Sama seperti orang pada umumnya yang tentu ingin mencapai puncak karir setinggi-tingginya.

Tapi, jika pertanyaannya berlanjut mengenai kapan ?
Inshallah secepatnya, hanya itu yang saya bisa jawab ...

Karena,
Kini, prioritas saya telah banyak berubah
Bukan lagi tentang cita-cita pribadi
Bukan lagi tentang ego saya sendiri
Bukan lagi tentang keinginan ini itu

Ada orang tua yang sejak dulu selalu membahagiakan saya dan memenuhi semua keinginan saya, (hampir) semuanya...

Rasanya begitu kejam jika masih harus berkutat dengan keinginan diri sendiri yang masih banyak ingin ini itu ini itu...

Sementara tua mereka tidak bisa lagi menunggu kan ?

Waktu mereka untuk dibahagiakan mau tertunda berapa lama lagi  ?

Selain itu,

Ada bayi mungil yang juga tidak bisa distop tumbuh kembangnya, bukan lagi hari bahkan detik...

Ada bayi mungil yang tidak bisa menunggu lama untuk dihujani kasih sayang agar bertumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih ...

Ada bayi mungil yang tidak bisa menunggu barang sebentar untuk dididik dengan penuh cinta agar kelak menjadi pribadi yang dirindukan banyak orang ...

Maka sejak lama saya putuskan untuk memilih jalan sedikit memutar, dan menempatkan karir dibelakang...
Maka dengan yakin saya telah banyak merubah prioritas hidup saya, demi banyak hal yang lebih berharga, untuk saat ini 💓

Bismillah ❣

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

Kamis, 15 Desember 2016

Menjadi Ibu Sesungguhnya

"oeaaaa oeaaaa...." begitu kira-kira suara lengkingan tangis bayi yang sayup saya dengar karena dalam kelelahan setelah proses melahirkan panjang 3x24 jam.

Masih samar saya melihat dokter kandungan yang sudah setengah baya tersenyum lega mencium saya sembari memberikan ucapan selamat "selamat ya dek akhirnya bayinya bisa lahir normal, sehat dan selamat." Kemudian beliau terlarut lagi dengan dentingan suara ini itu untuk memulai proses penjahitan karena saya harus di episiotomi atau dilakukan pengguntingan pada dinding jalan lahir agar memudahkan proses pengeluaran bayi.

Disusul oleh bidan muda yang dengan cekatan meletakkan bayi mungil diatas dada saya dalam posisi telungkup setelah melakukan tata laksana bayi baru lahir bersama dokter anak yang juga masih muda untuk dilakukan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD), "ini ya bu anaknya, IMD dulu", katanya.

Entah perasaan dan pikiran apa yang ada saat itu, semua jadi satu. Lelah, lega, bahagia, sedih, sakit, haru, bercampur aduk hingga tidak ada satu katapun yang bisa saya ucap selain tetesan air mata.

Anak perempuan yang dulu begitu polah dengan banyak kegiatan. Anak perempuan yang sama sekali tidak terbayang menjadi istri sekaligus Ibu di usia muda. Kini di atas dadanya (read: saya) tergolek bayi mungil yang dengan penuh semangat menggeliat demi menjemput rejeki pertama nya dari Sang Pencipta melalui puting susu. Kini anak perempuan itu telah menjadi Ibu, ya Ibu sesungguhnya ...

Melewati proses persalinan yang cukup melelahkan memutar kembali memori di kepala saya tentang banyak Ibu yang proses persalinannya telah saya saksikan, saya bantu bahkan saya lakukan sendiri. Ternyata mudahnya memberikan istruksi berbanding terbalik dengan usaha yang harus dilakukan si Ibu yang harus dengan "tenang" menghadapi rasa sakit yang teramat sangat. Padahal saya dengan mudahnya memberikan aba-aba "ayo bu, tenang yaa, tarik nafas panjang, jangan dulu ngeden ya bu...." dan sebagainya.
But, now... I know that feel... Bahkan teknik hypnobearthing yang sudah saya pelajari jauh sebelum proses ini, entah kemana perginya...

Hari-hari pertama menjadi Ibu adalah sebuah perjuangan versi lain. Saya yang notabene orang medis harus dihadapkan pada mitos pasca persalinan yang masih sangat kental. Begitu juga dengan mitos merawat bayi baru lahir yang masih sangat lekat. Dan "lawan" saya adalah orang tua dan orang terdekat saya sendiri :)

Sempat mengalami baby blues yang lumayan "ringan" tidak membuat saya sampai tega menelantarkan anak bayi kebanggaan saya. Saya harus bisa bertahan, begitu saya membatin. Toh meski dengan "cara nenek" si anak akan tetap tumbuh tetapi tidak ada salahnya memperbaiki banyak hal yang sebatas mitos kan ? Mungkin egois, tapi saya ingin anak saya dibesarkan dengan cara-cara yang baik dan "benar", bukan sekedar "tumbuh besar".

Kini bayi mungil saya telah berusia 4 bulan dengan segudang keistimewaannya, karena setiap bayi dilahirkan istimewa, bukan ?

Perasaan campur aduk masih mengisi hari-hari saya, dan kini ditambah dengan kebanggaan. Kebanggaan karena memiliki anak luar biasa dengan tumbuh kembang yang luar biasa. Kebanggaan karena akhirnya bisa mengalahkan banyak mitos yang ada.

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments