Sabtu, 01 April 2023

Ambisi, itu apa ?

Belakangan ... 

Sempat ada di fase ingin hilang saja, ingin pergi, terlalu lelah bahkan untuk mengurus diri sendiri 

Sempat ada di fase memiliki pemikiran sepertinya rehat beberapa saat mungkin adalah jalan keluar 

Energi untuk melangkah saja rasanya kurang, apalagi harus bertemu banyak orang setiap hari, dan tampak baik-baik saja

Tapi, saat tiba-tiba tersadar bahwa aku kini adalah kondisi yang dulu ku semoga-kan 

Pikiran dan keinginan itu menjauh ... sedikit ....

Kemudian, muncul pertanyaan

Apa semua perasaan dan pikiran ini muncul karena ambisiku terlalu kecil ? 

Atau mungkin dibanding yang lain, bahkan tidak ada nilainya?

Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa orang yang memiliki energi begitu besar untuk melakukan banyak hal .... adalah orang yang memiliki ambisi besar ...

Dulu, 

Aku sempat percaya, aku salah satu orang yang memiliki ambisi besar itu 

Tapi nyatanya, mungkin bukan ...

Untukku, 

Berada di keadaan dan di titik ini, sudah menjadi satu hal besar dengan segala ketidakmudahan dan kekurangan yang ada, namun alhamdulilah hari-hari ini sudah menjadi bagian dari perjalanan ku sekarang

Kerena itu ...

Rasanya bahkan, untuk memiliki ambisi lebih besar lagi .... gak mudah 

Keinginanku setiap harinya sebatas how to survive the day, day by day ....

Mungkin berlebihan ... 

Tapi memiliki kepercayaan bahwa kita ternyata tidak cukup layak

Bahwa ternyata mungkin yang orang bilang benar, bahwa kita bukan orang yang cukup baik 

Gak menyenangkan ....

Selain untuk survive, ternyata membuktikan bahwa kita layak dan cukup baik juga menjadi beban tersendiri, dan sekali lagi ... itu kurang menyenangkan 

Maka, 

Aku memutuskan untuk tidak melakukannya ...

Tidak ingin membuktikan apapun 

Tidak juga ingin memperlihatkan aku cukup baik kepada siapapun 

Karena rasanya, untuk apa ?

"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." ( Ali Bin Abi Thalib)

Meski, masih ada juga pertanyaan yang muncul apakah pilihan ini cukup tepat ?

Entah lah ...

Apakah sebaiknya memang kembali menjadi ambisius saja sekalian ? seambisius itu setiap hari ...

Toh sama saja, sama-sama melelahkan bukan?

....

Sekali lagi, entah lah ..

Satu hal yang pasti, entah itu pilhan untuk menjadi ambisius (yang kecil kemungkinan aku pilih saat ini) atau tidak

Terus berbuat yang benar, terus berbuat dan memilih yang baik adalah prinsip yang hingga kini kupegang

All of the good will always back to you 

Meski tidak saat ini, meski tidak dalam bentuk yang mungkin dibayangkan 

Tapi pasti ... suatu saat ...

Entah kapan ...

Di titik ini, aku akhirnya memutuskan untuk terus maju 

Masih lekat di ingatan kalimat dari salah satu konsulenku 

"..apapun yang akan terjadi dan dialami nanti, ingat perasaan hari ini ya ... hari saat pengumuman penerimaan PPDS"

Terima kasih dok, atas satu kalimat yang terus menjadi pendorong untukku berjalan dan berdiri lagi setiap harinya 

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dokter.. amiin ...

Air mata yang bahkan sudah tidak bisa keluar, karena kering ? 

Kelelahan yang sampai di fase sudah tidak bisa mengeluh 

Waktu, tenaga, pikiran, perasaan, semua nyaa ....

Akan terbayar 

Insyallah ... semua ada waktunya ...

Sabtu, 28 Januari 2023

Bersyukur

Katanya, semua nikmat yang akan kita rasakan kemudian berasal dari bersyukur 

Katanya, bersyukur itu perlu ilmu .. gak cuma sekedar kata-kata yang mudah diucap 

Katanya, bersyukur itu bisa membuat kita lebih mudah menerima apapun itu, ya senang juga sedih 

Ya, bersyukur adalah kata yang saat ini sedang berusaha saya pahami 


Ternyata, 

Memang ga mudah ya 

Memang butuh ilmu 

Dan butuh waktu ...


Ternyata, 

Saya masih sedangkal itu untuk bisa mengucap dan memaknai 

Bahkan satu kata saja hingga saat ini belum sanggup 


Bersyukur akan mudah jika yang kita temui adalah kemudahan di tiap harinya 

Bersyukur akan mudah jika yang kita rasakan adalah kebahagiaan 


Tapi, 

Bersyukur saat sedang merasa dibawah 

Saat sedang sedih dan kurang bahagia 

Saat bahkan belum sanggup menerima kebelum berhasilan diri sendiri 

Sama sekali gak mudah 


Namun, kata Allah SWT

"Bersyukur maka akan Ku tambah ..."

Bukankah sudah jelas dan tidak perlu ada pembuktian apa pun kalau Allah saja sudah menuliskannya dalam Al Quran ?

Mengapa masih batu dan gundah ?


Tenang saja, 

Allah pasti melihat, apa yang sudah dilewati detik demi detik 

Allah pasti tau, apa yang sudah diusahakan detik demi detik 

Penilaian manusia mungkin bisa salah 

Tapi penilaian Allah bukannkah lebih penting?

Tentu ada alasan atas apapun yang terjadi 

Pasti ada alasan 

Entah apa


Walau belum akan tau saat ini, suatu hari akan sadar, bukan ?

Mungkin satu hal yang ditangisi hari ini akan jadi hal sangat disyukuri kemudian

Bisa saja kan?


Tenang saja,

Bukan gagal, tapi memang belum berhasil 

Ada banyak hari-hari didepan

Bukan bodoh, tapi diminta untuk belajar lagi agar lebih mengerti 


Jadi ...

Yuk semangat lagi 

Bersyukur dulu maka akan lebih mudah  


Tidak perlu ada yang disesali, 

Posisi yang saat ini disesali mungkin adalah masih mimpi untuk oranglain 


Yuk bersyukur, 

Alhamdulilahirabbilalamin ... 

Mudahkan, lapangkan dan jangan dipersulit ya Allah 

Minggu, 01 Januari 2023

Dear 2022,

Dear 2022, 

Terima kasih sudah banyak memberi kenangan ya 

Ada baik dan buruk

Ada senang juga sedih 

Ada murung, ada semangat 

Ada tawa dan tentu ada air mata


Dear 2022, 

Terima kasih untuk semua pelajarannya ya 

Bahwa banyak hal, hingga terjadi bahkan masih misteri untuk kita

Ada hal-hal diluar dugaan dan perhitungan kita, bisa terjadi 

Banyak hal memang terjadi begitu saja, diluar kuasa kita

Ya namanya juga manusia kan 

Wajar saja 

Bahwa terkadang semua usaha yang menurut kita sudah maksimal, belum tentu sama di mata Allah 

Maka saat Allah bilang "coba usaha lagi" 

Lalu kita, tinggal menjalaninya (lagi)

Beberapa hal yang kita suka dan anggap bisa, ternyata gak semudah itu 

Atau mungkin kita yang belum pandai mengukur diri ?


Dear 2022, 

Terima kasih untuk siapapun yang pernah datang dan pergi 

Ada teman baru, namun ada juga teman yang perlahan hilang 

Ada circle baru yang nyaman, tapi juga beberapa kali merindukan sahabat lama 

Ya begitu lah manusia 

Datang silih berganti 


Dear 2022, 

Banyak hal terjadi tetapi banyak juga harapan yang belum jadi nyata 

Tidak apa, karena tidak semua hal harus terjadi saat ini 

Tidak semua hal baik, harus datang sekarang, kan ?


Satu hal bahwa, 

Tidak ada satu daun pun yang gugur diluar Kuasa Allah Swt 

Semua yang datang dan pergi tentu atas seizin Allah Swt

Semua yang sudah dan belum tercapai juga atas pemberian Allah Swt 

Untuk apa kita risau?


Alhamdulilahirabbilalamin atas semua yang sudah, sedang dan akan terjadi  ...

Dear 2023,

Bismillah ya semoga semua usaha sampai 
Semoga semua harapan satu persatu semakin dekat
Semoga kemudahan selalu hadir dalam setiap langkah 

Amiin ...

Sabtu, 17 Desember 2022

Fair enough ?

Halo, sudah lama ya belum menulis. 

Saat menulis ini, saya sedang berada di posisi yang kurang menyenangkan dan mempertanyakan apa itu makna adil?

Adil dalam KBBI berarti:

  1. a  sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak
  2. a  berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran
  3. a  sepatutnya; tidak sewenang-wenang:

Sedangkan di kehidupan nyata, gemilang cahaya, menuju bintang (apasi) gak mudah ya menempatkan adil dalam arti sebenar-benarnya. 

Pada nyatanya, ada loh yang kayaknya kok kurang effort, kayaknya kok banyak mangkirnya, kayaknya kok ya gak bener-bener amat tapi lurus aja loh, selancar itu punya jalan tol...

Ada juga yang rasanya sudah korban ini itu, menangis dan berdarah-darah ada aja gitu kurang beruntungnya. 

Itu namanya sawang sinawang kalau kata orangtua...

Semua sudah ada takarannya masing-masing, jangan bersedih, begitu katanya ...


Menjalani kehidupan PPDS kita bukan hanya punya tanggung jawab di bidang pelayanan tetapi juga pendidikan. Memastikan semua pelayanan terkait pasien pada porsi PPDS berjalan dengan baik, terapi diberikan tepat waktu dan sebagainya ...

Begitu juga dalam hal pendidikan, ada porsi ilmiah rutin, tugas stase, belum lagi ujian yang datang silih berganti...

Ada yang sudah sebaik-baiknya melakukan pelayanan eh ternyata dalam hal pendidikan kurang beruntung 

Pun sebaliknya ..


Semua sudah ada porsinya masing-masing 

Sawang sinawang 

Yang kita lihat belum tentu itu yang sebenarnya terjadi 

Yang kita anggap selalu mudah belum tentu menjalani nya betul-betul dengan kemudahan


Tapi satu yang saya yakini, bahwa semua yang dimulai dengan niat baik dan dikerjakan dengan sebaik-baiknya, kebaikan itu akan kembali...

Mungkin bukan saat ini, tapi nanti ...

Mungkin bukan dalam bentuk kegemilangan hakiki, bisa jadi dalam hal kesehatan atau mungkin ketenangan hati menjalani hari, itu juga patut disyukuri kan?


Semua yang terjadi, apapun itu, sudah ada perhitungannya, baik dan buruknya 

Mungkin bukan adil dalam versi KBBI atau juga bukan adil menurut definisi pribadi 

Tetapa ada yang Maha Adil dan Maha Melihat, bukankah itu cukup?


Sebuah kotemplasi,

Dari siswa di tahap Madya Tengah yang sedang ada di roller coaster dunia per-PPDS-an

Bismillah, yakin usaha sampai ...



Senin, 16 Mei 2022

PPDS: Tahap Madya

Sebelumnya mau mengucap alhamdulilahirabbilalamin telah bisa melewati tahap junior selama 4 stase dan saat ini sudah masuk ke tahap Madya. 

Waktu berlalu, hari berganti, cerita silih datang ...
Begitu juga dalam dunia PPDS. 

Mungkin tahapan per-PPDS-an akan berbeda antar Departemen maupun antar Center pendidikan
Nah untuk Pediatri UI, setelah lolos masuk ke tahap pengayaan, junior, madya kemudian senior dan akhirnya lepas modul.

Berbeda tanggung jawab dengan Junior, saat menjadi PPDS Madya lebih banyak belajar untuk membuat perencanaan pada pasien, bisa merondekan pasien dan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan dokter penanggung jawab pasien (DPJP). 

Pada tahap madya kewajiban lainnya adalah ikut dalam pelayanan poli rawat jalan juga berjaga sebagai jawah (jaga bawah) di IGD diluar jam pelayanan poli. Memang pada divisi/stase tertentu terasa cukup berat, karena pasca jaga IGD, paginya berlanjut dengan follow up pasien yang tidak sedikit, ronde, belum lagi jika ada jadwal poli pada hari tersebut. Pasca pelayanan poli, masih harus kembali untuk memastikan hasil ronde berjalan baik, dan menjawab konsultasi dari divisi lain maupun dari Departemen yang lain. 

Memang dibutuhkan stamina yang baik dan management waktu yang dituntut untuk baik, agar dapat menyelesaikan satu hari full dan pulang ke rumah (insyallah) tidak prolong :)

Gak ada tips and trick, gak ada juga ritual khusus, cita-cita pendeknya cuma 1 yaitu dapat menjalani hari demi hari dengan baik, day by day, day by day...

Ada yang bilang untuk menjadi expert di suatu bidang kita harus berlatih dahulu selama 3000 jam 
Setelah 3000 jam menjalani hari yang sama, melakukan hal yang sama, menemui kesulitan, melewati kesalahan demi kesalahan barulah akan expert.

Gak ada proses yang singkat...

Saya sadar bahwa pada tiap tahap pendidikan akan memiliki tantangan dan problematikanya sendiri, jadi gak bisa di compare lebih nyaman/enak tahap apa. Namun, jika disuruh memilih saya memilih untuk tetap maju ke tahap-tahap selanjutnya, walaupun tau harus melewati hari-hari yang mungkin berdarah-darah :)

Untuk siapapun di luar sana yang ada di tahap yang sama, yuk semangat yuk 
Insyallah yakin usaha sampai ...






Senin, 18 Oktober 2021

PPDS: Tahap Junior

Banyak yang bilang pendidikan spesialis tahap awal (Junior) itu masa yang paling berat, masa transisi dari yang tadinya belum terjun ke pasien, belum ke lapangan, auto nyebur. 

Ya ada bener, ada gaknya. Tergantung gimana kita menjalani dań tergantung bagaimana kita menyikapi...

Salah udah pasti terjadi namanya juga baru nyemplung, tapi gimana menyikapi salah itu buat jadi pembelajaran dan kedepan ga terulang, itu yang penting 

Bodoh, wajar aja karena namanya juga lagi belajar. Di awal wajar banget masih bingung atau banyak belum taunya. Tapi gimana bodohnya ga berkepanjangan dan terus berusaha lebih baik itu yang penting

Kadang kalau lagi capek atau pas kurang tidur atau badmood nah ada banget tuh masa-masa ngerasa males mau berangkat pagi buta ke RS atau pengen banget tidur-tiduran di rumah lebih lama barang 10 meniiitttt aja. 

Wajar, sesekali gapapa.

take your time as much as you can, as much as you need

Setelah melewati dua stase Junior banyak sekali pembelajaran bukan cuma sekedar belajar lihatin pasien, hitung balans diuresis, atau tau cara-cara koding obat. 

Bukan ...

Lebih ke belajar menata diri dan menata hati lagi bahwa sebenarnya sekolah menjadi PPDS itu bukan sekedar butuh ilmu aja, tapi juga niat yang lurus, dan juga perlu mindset yang (harusnya) benar.

Agar supaya apa ...

Agar bisa menjalani hari-hari dengan lebih ringan 

Agar bisa menjalani hari-hari dengan lebih berbahagia 

Agar bisa dapat banyak ilmu dari banyak hal yang kita hadapi sehari-hari 

Ya dari lingkungan pasien, dari lingkungan di RS juga teman-teman sendiri, belum di rumah ya kan ...

Rendahkan ego 
Rendahkan suara

Untuk kamu diluar sana yang juga masih ada di tahap PPDS Junior, semangat terus ya!

Apapun yang terjadi di satu hari itu, itu cuma satu dari sekian banyak hal besar yang akan terjadi kemudian ...

Hal yang saat itu kamu anggap besar (read: besar-besarkan) akan jadi hal yang kecil setelah kamu bisa lewatin 

Inget terus bahwa kamu yang sekarang secara fisik sedang bersekolah tapi nyatanya bukan cuma kamu yang sedang berjuang sendiri, ada anak, ada suami atau istri juga ada orangtua dan keluarga besar yang juga ikut berkorban walaupun dalam bentuk yang lain di belakang kamu 

Jadi, bismillah... one step closer :)


*Tulisan ini dibuat dari orang yang sering salah, dari yang sering berbuat bodoh. Maka baru bisa berucap, bukan karena sudah baik atau benar...
Tulisan ini dibuat dari orang yang sudah pernah merasa punya hari yang kurang menyenangkan tapi akhirnya sadar bahwa itu bukan apa-apa
Yuk bisa yuk!

Sabtu, 22 Mei 2021

Pernikahan akan Diuji

Hai !

Pernah saya menulis tentang apa itu pernikahan dan kapan laki-laki juga perempuan diuji. Gak kerasa sekarang pernikahan saya sudah berjalan hampir hmmmmm 7 tahun (sekitar itu, jujur lupa :p). Sekarang saya mau share bagaimana menjalani pernikahan versi saya yang juga masih sambil sekolahlah, kerjalah dan tanpa ART sama sekali.

Menurut saya gak ada yang salah dengan nikah muda atau nikah di usia muda selama sudah siap. Walaupun well ga akan ada (mungkin) yang namanya siap 100% karena akan ada aja kurangnya atau gak siapnya.

Cerita dikit waktu awal nikah saya belum ada di fase "siap" itu baik secara mental maupun secara finansial. Menikah karena dorongan dan permintaan orangtua, kasarnya. Walau di waktu itu sudah ada di umur yg ga muda juga 23-an kalau gak salah wqwq, sudah selesai sekolah dan baru akan internship di luar pulau. Alasan keamanan dan supaya ada yg jagain kayaknya waktu itu yg bikin orangtua segitunya minta nikah.

Oke yaudah, saya menikah (ini orangtua mengerahkan segala daya dan upaya bujukin saya yang waktu itu masih belom mau nikah wqwq)

Tahun-tahun pertama menikah buat saya sama sekali ga mudah. Selain masih strugling sama diri sendiri juga harus strugling penyesuaian hidup berdua dengan "org lain". Percaya deh walau kita rasanya sudah kenal luar dalem sama pasangan pas nikah tetep aja kayak "loh kok begini loh kok begitu" semua yang jelek keluar semua, gitu satu sama lain. Mungkin suami saya juga banyak kagetnya ternyata saya begini dan begitu. Kalau di awal pacaran semuanya keliatan indah percaya deh pas nikah semua yang indah itu mungkin sisa-sisa ampasnya aja walau ada juga pasangan yang tetep bisa sweet, salut :)

Dua tahun pertama bener-bener ga stabil secara mental dan emosional buat saya. Hampir setiap hari berantem kali, hahahaha. Semua hal diberantemin. Ya ada juga masa-masa damai tapi banyak banget masa ga enaknya. Saya paham kenapa banyak pasangan muda yang akhirnya bercerai di tahun-tahun awal, iya sebegitunya. Masalah remeh temeh pun bisa jadi bahan berantem jadi salah satu harus banget ada yang penyeimbang. Alhamdulilah suami saya cukup sabar (gatau sabar gatau bodo amat, kayaknya lebih ke cuek si wqwq jadi kayak "bodo amat lo mo ngomong apa").

Masuk tahun ke tiga sampai ke lima sudah ada anak dan sudah muncul kebahagiaan baru, mainan baru, dan plus calon sumber problem baru. Di masa ini bukan cuma tentang pasangan dan keluarga sekarang bahan berantemnya ada juga tentang anak. Anak sakit, gamau makan dan anak ini itu bisa jadi bahan berantem. Tapi lucunya si anak ini juga yang jadi "lem" nya. Kalau lagi emosi sekali, karena capek lah, kurang tidur lah, dan macem-macem lihat anak bobok dengan nyamannya aja udah langsung adem di hati. Kadang pas bete sama bapake, eh lihat anaknya deket sama bapake jadi ilang betenya, gak jadi deh mau ribut, hehehe.
Makasi ya el sudah jadi pereda emosi dan penghapus laranya umi, i love you.

Di fase-fase ini berantem masih ada. Walau levelnya udah beda, karena udah mulai stabil secara mental, emosional dan finansial. Walaupun jujur masih belom ngerasa oke dan nyaman 100% karena kayak "wah sekarang jadi keluarga utuh beneran sudah ada ayah ibu anak, jadi harus ini itu ini itu" ada list keharusan-keharusan baru versi sendiri (yang kadang gak sejalan sama pasangan). Jadi wajar juga beberapa pasangan berpisah pada fase ini karena emang level nya sudah makin up, kalau yang diawal2 dulu (berantem 1-2 tahun belom beres atau ada salah satu pihak yang bikin salah fatal) akan bikin di fase kedua pernikahan ini lebih gak nyaman.
Nah pesen banget di 5 tahun pertama, banyakin sabar, banyakin ngobrol maunya apa, rencana masing-masing apa, karena akan banyak bentrokan ego. Suami mau A, istri mau B. Belum lagi kalau ada kendala sama anak lah, keluarga lah. So pasti, bubar jalan. Lagi-lagi pasangan giamana caranya harus bisa-bisanya jadi penyeimbang. Silih ganti aja saat satunya high satunya down, gantian.

Nah sekarang saya sudah ada di fase 7 tahun. dimana anak sudah mulai besar, bahkan sudah usia sekolah. Selain itu, alhamdulilah sudah ada pencapaian2 baik dari sisi suami atau istri. Buat laki-laki (di usia pernikahan segini) mungkin sudah banyak yang sampe fase stabil secara finansial dan bisa berdiri di kedua kakinya sendiri jadi waktu untuk kerjaan porsinya mungkin jauh lebih banyak. Buat saya lebih banyak nyaman di fase ini, bahkan kadang lebih ke flat karena sudah mulai gak ada lagi ribut besar.
Ya bisa dihitung jari banget lah kapan ributnya.

Selama gak macem-macem (bikin kesalahan fatal banget), selama gak neko-neko (gak nakal ngapa-ngapain) insyallah bisa melewati fase ini dengan baik. Cuma karena masing-masing sudah ada forming baru dan ada deal sama rencana sendiri2 buat pribadinya jadi komunikasi jadi sangat amat makin penting banget, dimana biasanya justru sudah sangat kurang. Entah karena chemistry harus komunikasinya udah ga ada (ngerasa ah di rumah juga ketemu, ah dia pasti ngerti) atau karena masing-masing sudah sibuk dengan urusan sendiri karena urusan anak udah ga banyak jadi bahan diskusi, pembahasan anak lebih ke penghibur dari celoteh2nya dia. 

Padahal once again, komunikasi adalah kunci dan faktor terpenting please :) 

Ya ...
Dalam 7 tahun pernikahan ini satu hal yang saya pahami bahwa pantas aja pernikahan dibilang beribadah seumur hidup karena memang banyak banget ujian dan masalahnya silih berganti. Akan banyak banget juga hal yang akan dilewati berdua dan harus mau ga mau kerja sama dan gotong royong berdua, kebayang kan kalau arah jalannya beda ? Ga akan bisa nyatu. Harus banget bisa ngatur ego, bisa jaga komunikasi dan bisa jaga chemistry satu sama lain. Dan jujur itu PR banget. Gak mudah sama sekali. Sayapun sampai detik ini belom khatam dan masih masih masih terus berusaha belajar.

Jadi kalau ada pertanyaan baiknya menikah dan punya anak itu kapan ? 
Menikah dan punya anak lah saat siap, saat sudah bisa matang menyusun rencana hidup mau ini dan itu. Saat sudah siap ada kehadiran orang baru lagi (anak), setelah strungling berdua bisa diredam.

Apakah mungkin mencapai cita-cita setelah menikah? 
Iya mungkin aja, tapi memang perlu banget banget komunikasi antar suami istri dan juga ke keluarga besar. Karena kalau sudah menikah bukan cuma ada dua kepala tapi banyak kepala (dari masing-masing keluarga) apalagi soal anak (kalau sudah ada anak), akan banyak banget bisikan gaib sana sini. Jadi komunikasi dan pengertian pasangan adalah kunci. Semakin bisa terkomunikasi, semakin mungkin juga semua cita-cita yang mau dicapai bisa terealisasi. 

Bisa ga jadi perempuan yang tetap bekerja dan tanpa ART?
Sejauh ini saya dan suami bisa banget tapi bukan gak ada bantuan sama sekali ya. Tetep butuh support system yang bisa back up terutama dari keluarga besar, entah orang tua, entah adik. Jadi saat jadwal suami istri bentrok atau ada hal yang gak bisa ditinggal atau bawa anak, anak bisa di handover dulu dan gak terlantar. So, kapanpun perlu bantuan segera shout for help!

Capek? iya capek,
kadang lelah banget? iya parah,
nangis sendiri? sering. 
Tapi ya semua ada harga yang harus dibayar, kalau maunya banyak ya harga yang harus dibayar juga banyak. Yang perlu disadari banget selain ada ego pasangan dan kepentingan pasangan juga anak di setiap pilihan kita, bahwa kita juga human, manusia. Gak perlu semua berjalan dan harus sempurna, karena gak ada yang sempurna. Turunin ego, turunin ekspektasi. Jangan menaruh semua kebahagiaan di orang lain, karena nanti kalau gak bisa accepting semua itu akan capek ke diri sendiri. Daaan jangan menuntut pasangan apapun itu bentuknya, percayalah nanti kita yang capek capek dan capek. Gak akan bisa orang seketika minta orang lain berubah dan melakukan ini itu dengan super baik, selain kesadaran dan kemauan dari orangnya sendiri. So langkah pertama, accepting, lalu kita yang merubah diri sendiri dulu:)

Yap itu lah sharing tentang pernikahan versi saya yang semoga ada manfaatnya. Buang yang jelek ya. 

Harapan saya semoga bisa makin sabar, makin bisa ngatur ego, makin kuat dan masih bisa terus beribadah di perahu yang sama barenga anak dan suami till jannah. 
Amiiin :)

Kamis, 11 Maret 2021

Menjadi PPDS FKUI

Halo !!!

Sesuai janji, saya mau share sedikit tentang Tips Khusus untuk menjadi PPDS di FKUI. Pada postingan sebelumnya saya sudah sempat cerita sedikit tentang Tips Umum untuk menjadi PPDS nah sekarang lebih spesifik di FK UI. Oke langsung aja ya, berikut tipsnya :


1. Kamu harus tau proses pendaftarannya

Kamu bisa update mengenai info pendaftaran PPDS FK UI di laman resminya Penerimaan PPDS FK UI Nah disitu akan ada informasi mengenai persyaratan dan kapan jadwal pendaftaran tiap periode. 

Jauh-jauh hari dari tenggat pendaftaran ditutup sebaiknya sudah mulai siapkan syarat-syaratnya, dicicil. Untuk beberapa syarat pelatihan wajib (berbeda masing-masing prodi) itu juga kamu perlu cek dari masing-masing pelatihan kapan dan dimana pelatihan tersebut terselenggara.

Jadi pastiin selalu update dari jauh-jauh hari ya !(dari satu periode ke periode berikutnya gak banyak berubah kok)

2. Siapkan ujian SIMAK 

Pertama sekali tes yang harus dilewatin adalah ujian SIMAK. Simak ini wajib untuk semua prodi atau departemen. Materinya ada matematika, logika, dan bahasa inggris. Banyak banget buku-buku latihan atau tempat-tempat khusus bimbingan belajar SIMAK. 

Kamu juga bisa mulai search di youtube atau instagram kalau mau ikut bimbingan belajarnya. Saran sekali untuk SIMAK ini kamu harus siapin waktu khusus untuk belajar ya!

Sebelum pandemi Covid-19 ujian SIMAK diadakan secara offline serentak di kampus UI Depok. Untuk yang rumahnya jauh bisa cari kostan atau mini hotel sehari atau dua hari sebelum ujian supaya lebih fresh waktu ujian. Nah selama pandemi Covid-19 ujian SIMAK diadakan secara online dengan syarat-syarat dan tata cara khusus yang nanti akan dibertahukan oleh panitia. 

Intinya mau offline atau online harus persiapkan sebaik mungkin kesehatan dan kesiapan mental juga materi ya :)

3. Siapkan ujian Prodi/Departemen

Untuk ujian Prodi ini akan sangat berbeda antara satu dan lain Prodi karena tergantung kebijakan masing-masing Prodi. Nah pastikan kamu juga update mengenai jadwal ujian Prodi ini ke sekretaris Prodi yang kontaknya tercantum di Web Penerimaan PPDS.

Kamu bisa tanyakan apakah ada ujian prodi dan bagaimana mekanismenya. Jika ada ujian Prodi baik secara online maupun offline, tertulis ataupun bukan kamu harus persiapkan betul materinya seputar prodi yang akan kamu tuju. Berbeda dengan Ujian SIMAK, untuk ujian Prodi kamu harus benar-benar pelajari sendiri materinya. Mungkin bisa dimulai dengan membuat catatan atau highlight materi-materi yang menurut kamu penting untuk dibaca dan diketahui.

4. Ujian Wawancara

Lagi-lagi ujian wawancara sama seperti Ujian Prodi akan berbeda mekanisme dan penjadwalannya dari masing-masing Prodi. Biasanya akan diinfokan oleh sekretaris Prodi yang mengurusnya kapan, dan bagaimana. 

Persiapkan semua kemungkinan pertanyaan dengan jawaban terbaik kamu ya. Menurut saya pribadi jawaban terbaik itu jawaban jujur dan tidak mengada-ada juga bisa jawaban-jawaban teknis. Karena biasanya penguji ingin mengetahui seberapa jauh kesiapan kamu baik secara fisik maupun mental untuk menjadi PPDS. 

Pertanyaan yang umum sekali ditanyakan : Kenapa memilih menjadi PPDS A/B, Bagamana persiapannya, apakah keluarga mendukung, dan sebagainya yang sifatnya pribadi juga tergantung jawaban kamu dari pertanyaan sebelumnya. So, sebelum menjawab pikirkan baik-baik ya jangan sampai menggali lubang sendiri. 

5. Berdoa dan Tawakal

Rata-rata deretan ujian PPDS di FKUI seperti no 2-4 h sisanya tinggal banyak berdoa dan tawakal. Karena seberapapun PD nya kamu, jika Allah tidak berkehendak gak akan terjadi. Tapi juga mesti ingat usaha gak mengkhianati hasil. Hehehe

Jadi harus balance ya. Banyak sekali faktor yang berkontribusi dalam penerimaan ini (menurut saya pribadi) dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan tentunya. Batasan kita hanya berusaha dan berdoa. 

Untuk siapapun kamu di luar sana yang berminat mau menjadi PPDS, siapkan diri sebaik mungkin. Insyallah jika ada rezekinya tidak ada yang mustahil 

Goodluck!


 

Jumat, 18 Desember 2020

Tips Menjadi PPDS

Beberapa kali saya berjanji terhadap diri sendiri untuk bisa membantu apapun yang dibutuhkan teman-teman yang ingin berjuang menjadi PPDS. Entah itu sekedar memberikan dorongan semangat dan doa. Karena ya, saya cukup paham bagaimana rasanya berjuang "sendiri". Meski kita sudah sama-sama dewasa dan akan punya strugling masing-masing dalam setiap proses yang kita pilih, tapi gak ada salahnya kan meringankan orang lain?

 Tips ini murni dari diri sendiri yang saya pikir works untuk dijalani, bisa jadi masukan untuk teman-teman yang ingin menjadi PPDS di Universitas tertentu. Oke, Here we goooooo ....

1. NIAT 

Niat ini nomer satu dan terpenting, saya baru bisa menemukan niat saya sesungguhnya di titik justru saya sudah akan menyerah. Salah satu syarat untuk menemukan niat kita yang sebenar-benarnya adalah dengan jujur sama diri sendiri.

Apakah yang sebenarnya kita cari, apakah harus dengan menjadi PPDS ?

Apakah harus PPDS A?

Bagaimana hidup kita kedepan jika tidak menjadi Spesialis A?

Apakah ada pilihan lain?

Jawab pertanyaan ini sebelum benar-benar yakin dan melangkah lebih jauh.

2. KOMITMEN 

Ketika berjuang untuk menjadi PPDS sesungguhnya bukan hanya membutuhkan pengorbanan diri sendiri, tetapi juga keluarga, anak, orang tua ataupun suami/istri. Banyak waktu yang akan kita habiskan untuk "diri sendiri", banyak pengeluaran yang pasti kita butuhkan untuk semua persiapan, pendaftaran, akomodasi dan biaya lain yang tidak terduga.

Juga setelah diterima (AMIN) akan banyak sekali support yang dibutuhkan dari keluarga mulai dari waktu, tenaga, uang, pikiran, juga perasaan. Pikirkan segala jenis kemungkinan dan apakah akan bisa sekuat itu komitmennya ?

So ya, pastikan jalan menuju PPDS ini adalah jalan yang sudah diridhoi oleh suami/istri dan orang tua, karena akan membutuhkan komitmen bersama. 

3. PERSIAPKAN WAKTU 

Dulu saya berpikir "ah yaudah lah daftar aja dulu" tenyata itu kurang tepat sama sekali. Butuh waktu untuk banyak persiapan yang seharusnya sudah dilakukan jauh-jauh hari. Pastikan kita punya waktu untuk melakukan research mengenai apa-apa saja yang dibutuhkan, bagaimana proses ujian yang akan dilewati, apakah mungkin ada les atau bimbingan terlebih dulu dan sebagainya. Untuk persiapan ini sebaiknya dilakukan 3-4 bulan minimal untuk best result.

Tapi kalau kamu sangat yakin "seyakin itu" dan "sepintar itu" go ahead gak ada salahnya langsung coba ikut tes.

Ini gak berlaku buat "pure blood" ya, bebas aja mau daftar kalau pure blood sih.

4. MAGANG

Beberapa bagian memang menawarkan untuk magang atau asistensi, sebenenarnya tidak menjamin lulus atau ada jalan tol walau sudah magang bertahun-tahun. Tapi, percaya deh gak akan ada ruginya membina hubungan baik apalagi dengan konsulen ataupun lingkungan dimana kita ingin hidup kemudian. Sama sekali gak ada salahnya.

Jadi, maganglah jika bisa dan mungkin walau sekedar 6 bulan. Its good for you. 

5. BERDOA

Banyak hal yang tidak bisa diprediksi dengan hitungan logika dan akal manusia, ada faktor "X", ada faktor "luck". Dua faktor ini yang sejak dulu gak tau gimana "not me" tapi memang tidak ada tempat terbaik untuk kembali selain kepada Allah lah segala urusan di kembalikan. Saran terbaik adalah banyak-banyak berdoa, banyak-banyak mencari jawaban dari sang Maha Mengetahui. Sesungguhnya banyak hal yang kita pikir baik itu gak sebenar-benarnya baik, dan banyak hal yang kita pikir buruk, itu gak buruk sama sekali. Pasti ada alasan dibalik semua yang kita hadapi, entah itu baik atau buruk. Hanya Allah yang tau.

So, dekati Yang Maha Mengetahui :)

Itu semua tips umum yang bisa saya kasih, untuk tips khusus nanti insyallah saya share ya. Perjuangkan apapun yang kita pikir itu akan jadi masa depan kita, no more excuse. Siapapun bisa, siapapun mampu, hanya mau atau tidak mau untuk berproses. Wajar sesekali belum berhasil, wajar sesekali menangis, lelah, capek, insecure dan banyak perasaan lain.

Saya juga begitu. 

Itu manusiawi, bukan?

Tapi hanya kita juga lah yang menentukan, akan mau berjalan lagi lebih jauh atau berhenti. Semua ada di keputusan kita :)

I hope the best for your choices ...


Minggu, 13 Desember 2020

Finally, I'm HERE !!! (PPDS Anak FKUI)

Belakangan ini berada dalam fase acceptance, bisa ikhlas dan menerima apapun yang ditakdirkan Allah SWT walaupun yang akan terjadi adalah yang paling tidak diinginkan. Belajar menata kembali  jawaban dari pertanyaan, sebenarnya apa yang dicari ? 

Apakah hanya dengan menjadi spesialis Anak semua keinginan dan mimpi lainnya bisa terwujud ?

Apakah hanya dengan menjadi spesialis Anak semua kebahagiaan bisa datang?

Apakah hanya dengan menjadi spesialis Anak bisa membahagiakan dan bermanfaat untuk orang lain?

Jawabannya sama sekali enggak.

Tanpa menjadi menjadi spesialis Anak pun, dunia tidak runtuh, semua berjalan seperti biasa, meski tidak hati kita, iya semuanya hanya di hati dan pikiran sendiri. Banyak hal juga masih bisa dilakukan, meski tidak menjadi spesialis Anak.

Itulah kira-kira yang terus saya renungi setiap harinya menjelang pengumuman. Sampai pada titik, saya bisa menerima meski pada akhirnya cita-cita menjadi spesialis Anak harus dengan ikhlas saya gadaikan dan mulai mencari opsi-opsi lain yang teramat banyak ternyata. 


Tetapi, ternyata Allah berkata lain ...

Justru ketika saya mulai bisa mengikhlaskan semuanya, ketika saya mulai bisa menerima salah satu bentuk "ketidakberhasilan" saya, ketika saya mulai bisa menatap jalan lain. Justru Allah memberikan dan mengabulkan doa dan mimpi saya ini tepat di tanggal 7 Desember 2020 jam 13.00 menjadi hari dimana semua rasa lelah, harap, suka, dan duka menjadi satu.

 


 

Alhamdulilah, Alhamdulilah, Alhamdulilah ....

Setelah penantian panjang, akhirnya saya bisa masuk menjadi PPDS Anak FK UI yang selama ini saya pikir mustahil dan tidak mungkin. Jika bukan karena kebesaran dari Allah SWT juga doa dari suami, orang tua dan banyak orang baik lain yang mendoakan, ini semua tidak akan pernah saya raih.

Sama sekali bukan karena usaha saya pribadi yang bukan apa-apa ini, sungguh hanya karena Allah SWT semuanya terjadi ...

Dari proses ini saya banyak belajar, banyak sekali belajar. Tentang bagaimana itu kebesaran Allah yang bertubi-tubi, tentang kasih sayang dan dukungan dari banyak orang di sekitar, tentang kesabaran, tentang pengharapan, tentang niat, dan tentang apa itu perjuangan ...

Terima kasih ya Allah atas nikmat yang tiada tara ini, mungkin ini lah waktu yang tepat, bukan dari kaca mata diri sendiri atau siapapun, semua terjadi di waktu terbaik menurutMu 

Pasti ada alasan kenapa harus sekarang, kan ?

Terima kasih kepada banyak orang baik yang menemani perjuangan saya selama ini

Terima kasih ...

Semoga semua kebaikan kembali kepada kalian ya dengan berkali-kali lipat 

 

Salam sayang dengan segala kerendahan hati,

Astri Sulastri Prasasti 

si Pejuang  :)

 

 

Selasa, 01 Desember 2020

Bye-Bye Gedung IDAI

Hari ini secara resmi saya resign dari dunia permagangan di BP IDAI. Hari yang sudah sejak lama hanya wacana sekarang menjadi kenyataan. Cukup menguras emosi ya ternyata. 

Banyak sekali hal yang sudah saya lalui disini. Banyak orang-orang luar biasa yang bisa saya temui karena berada disini. Banyak pelajaran yang menempa diri saya setiap harinya, dan akan menjadi bekal juga cerita manis bagi saya di kemudian hari.

Hal terberat dari sebuah perpisahan adalah bukan ketika berpisah tetapi ketika sadar bahwa setelah ini banyak hal akan berbeda

Selama 2 tahun ini, gedung IDAI sudah menjadi seperti rumah kedua saya. Pulang jaga dan ngantuk datang ke IDAI, mau ngerjain sesuatu pasti datang ke IDAI bahkan perlu tempat belajar juga datang ke IDAI. 

Bukan hanya ruang gedung yang homie tetapi juga karena orang-orang baik di dalamnya yang begitu hangat. Ada Dr Anna, mbak Irma, mbak Neng, Mbak Nora, Mbak Fani, Mbak Uci, Indira, Pak Diyan, Pak Ujang, Pak Dayat, Pak Roy, Minions dan banyak lagi yang lainnya. 

Selain penghuni gedung IDAI, tebak siapa yang paling menguras emosi untuk ucap pisah?
Iya, bos-bos saya yang sungguh sangat baik hatinya dan banyak memberikan saya pendampuingan dan bimbingan selama bekerja...
Dr. Nina, Dr. Tartila, Prof Hegar ;')
Saya sungguh berbangga pernah bekerja dan berada dalam keluarga Divisi Buku BP IDAI
Adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah saya ambil dan apapun yang pernah terjadi semuanya tidak akan pernah saya sesali sedikitpun
Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan dan keberkahan dunia dan akhirat bagi Prof dan dokter. Amiin.
 
Terima kasih semuanya atas semua sambutan dan sapaan hangat setiap harinya yang bikin kantukku hilang 
Terima kasih atas semua kerjasama, bantuan dan suppport nya selama ini 
Terima kasih sudah menerimaku dengan sangat baik 
Terima kasih atas semua candaan, tawa, dan air mata
Terima kasih atas semua godaan dan tantangannya
Kita tetap jadi keluarga kan ? 

Meski perpisahan bukan hal yang mudah dan menyenangkan tapi semoga akan menjadi tanda dimulainya awal baru yang jauh lebuh baik. Amin :) 

Jumat, 19 Juni 2020

Harapan yang Membuat Kita Kuat

Jadwal pengumuman penerimaan PPDS Anak FKUI dimajukan, dari yang sebelumnya tanggal 30 Juli 2020 menjadi 7 Juli 2020. Proses pendaftaran yang sudah dimulai sejak Februari 2020, tes demi tes dijalani dengan berbagai tantangannya. Ada satu hal yang saya syukuri, saya sudah mencoba dan sudah berusaha semaksimal yang saya bisa pada saat itu.

Namun ...

Semakin dekat dengan hari pengumuman, walau berusaha santai tetap saja ada ketegangan dan kekhawatiran
Kembali terbayang dan mencoba memikirkan jika A terjadi maka saya harus apa dan bagaimana jika B terjadi, apa yang akan saya lakukan
Karena kita harus jadi manusia yang bersiap-siap kan ?
Buat saya pribadi, akan lebih nyaman jika saya sudah tau apa yang akan dilakukan kemudian step by step nya

Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang ini kecuali memperbesar harap, mengecilkan ekspektasi, dan memperbanyak doa
Jika memang harus terjadi dan itu yang terbaik, maka akan terjadi
Tetapi jika memang tidak ditakdirkan terjadi maka tidak akan terjadi, seberapapun kuat dan seberapapun usaha yang dilakukan

Tapi,
Bagaimana jika Allah menginginkan kita berusaha sekali lagi, sekali lagi ?
Darimana kita tahu kapan kita harus stop dan kapan kita harus maju ?
Aaaaaaahhhhh, kembali pikiran-pikiran kompleks itu masuk

Insyallah apapun hasilnya adalah yang terbaik
Walau besar sekali harapan untuk bisa sesuai dengan yang diinginkan
Kadang saya terpikir, apakah yang saya lakukan memang sudah semaksimal itu ?
Apakah yang saya doakan sudah sebanyak itu?
Lalu saya tersadar ...

Walau mungkin usaha saya belum maksimal dihadapan Allah, atau doa saya belum banyak menurut Allah tetapi yang berjuang disini bukan hanya saya pribadi
Ada orang tua
Ada anak
Ada suami
dan banyak pihak lain yang juga ikut terimbas dalam rangka saya memperjuangkan cita-cita ini
Semoga Allah memperhitungkan mahluk-mahluk baik itu
Semoga Allah menilai sebagai hal yang memperberat saya kenapa pantas untuk bisa mencapai cita-cita saya
Amiiiinnnnn .....

Walau sekarang saya belum bisa (read: sanggup) membuat step by step jika yang terjadi adalah terburuk
Perlahan saya akan mencoba menata kembali kehidupan saya
Yang saya yakini dengan pasti saya akan baik-baik saja kan ?
Iya kan ?

Semoga hasil di tanggal 7 Juli 2020 nanti menjadi jawaban atas usaha saya 2 tahun ini dan jawaban atas doa-doa saya juga doa-doa orang lain yang menginginkan saya untuk bisa mencapai cita-cita saya ini.

:)

Sabtu, 06 Juni 2020

Perempuan Diuji dan Laki-laki Diuji

Banyak orang bilang Perempuan diuji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa dan Laki-laki diuji ketika punya segalanya 

Ya rasanya gak berlebihan dan cukup tepat menurutku
Karena perempuan itu maunya banyak, mau ini mau itu, dan saat semua keinginannya gak bisa terwujud lumayan kepikiran banget 
Sedangkan laki-laki ego nya tinggi, saat punya segalanya atau minimal pekerjaan yang bagus dan uang yg cukup dia udah ngerasa semua bisa dia lakukan, ego nya semakin tinggi dan yang awalnya gak neko-neko bisa berubah 180 derajat 

Gatau gimana dengan cerita orang lain,
Tapi belakangan ini entah gimana ada hal yang menurutku tidak  biasa dan ada hal yg kurang baik tapi makin muncul 
Semua keadaan sama, Yang berbeda cuma lingkungannya, teman-temannya, dan peluang yang dia punya 

Aku kini pada posisi ku lebih membutuhkan partner
Bukan laki-laki sebagai pencari uang semata walau pasti butuh tapi aku yakin bisa diusahakan bersama
Bukan laki-laki sebagai manajerial atau di rumah saja seperti IRT
Aku butuh partner 
Partner dalam segala hal 

Partner dalam membersamai anak yg juga melihat betapa penting pengasuhan yang Baik dan bisa diajak berdiskusi atas perkembangan anak 
Partner dalam menjaga rumah, karena rumah adalah milin bersama bukan cuma aku si pembantu atau dia si Tuan rumah
Partner dalam mengejar mimpi-mimpi bersama yang bisa dengan jelas menuliskan bagaimana rencana keluarga kita kelak, 5-10tahun kedepan 
Partner bercerita tentang banyak hal, ups and downs tentang yang dikerjakan maupun akan, tentang yang sudah bisa maupun belum 

Selayaknya partner, komunikasi harus lancar bukan hanya satu pihak mencari dan satu pihak tidak merasa penting untuk berkomunikasi 
Selayaknya partner, kebutuhan untuk punya waktu bersama seharusnya ada bukan satu pihak meminta tapi pihak lain tidak merasa butuh bahkan untuk berdiskusi 
Selayaknya partner, semua dibicarakn dan diobrolkan bersama, bukan semua terjadi tiba-tiba dan serba berubah tanpa informasi yang cukup 

Apakah sangat berlebihan? 
Apakah memang bukan begitu hubungan yang baik dalam proses Pernikahan?

Ya, 
Mungkin aku memang masih perlu proses untuk mengerti lebih banyak hal dalam hubungan Pernikahan ini 
Mungkin aku memang masih perlu waktu untuk bisa memperbaiki banyak hal dalam pemikiran ku 
I need my time ...

Tapi satu hal yang aku tau pasti,
El tetap menjadi prioritas ku diatas banyak keinginanku 
El akan tetap aku dahulukan kepentingannya diatas apapun 
El butuh Ibu Yang bahagia bukan Ibu Yang sempurna 
Kebahagiaan el adalah salah satu hal utama dalam kebahagiaanku 

So, let’s make our time 
Akan ku gunakan waktuku untuk berbahagia agar bs membahagiakan el
I love you baby, beyond of everything :)