Senin, 04 Desember 2017

Krisis Hiburan

Dunia sudah semakin serius, tentang politik, karier, bahkan sosial. Mungkin ini salah satu penyebab banyak orangtua yang mengalami krisis hiburan. Sering sekali saya melihat berita di media sosial pun media lain mengenai anak2 yang mengalami kekerasan mental dan fisik. Balita dicekoki minuman, bayi di lakban, dan lain-lain yang tidak kalah hebohnya. Sebegitu krisis hiburannya kah kita, orang tua, hingga anak sendiri dijadikan lelucon yang sama sekali tidak lucu ?
Naudzubillahimindzalik,

Anak bukanlah miniatur dewasa, anak bukan pula manekin yang bebas diperlakukan, anak bukan sekedar anak yang hanya ikut kemana dan bagaimana orang tua.
Anak adalah manusia sempurna (terlepas dari kekurangan yang ada) yang memiliki akal pemikiran, kehendak, hak dan keinginannya sendiri.

Sangat tidak lucu menjadikan anak sendiri korban bully. Sangat tidak lucu menjadikan anak lelucon yang menurut kita sepele padahal menghancurkan harga diri anak dan dapat menimbulkan trauma yang akan membekas sepanjang hidupnya. Jika orang tua saja yang seharusnya adalah orang yang paling dekat, paling tau dan paling melindungi anak tetapi malah membully dan membuat anak sebagai bulan-bulanan yang tidak pantas lalu anak harus minta perlindungan kemana lagi ?

Saya yang juga sebagai ibu sangat sulit membayangkan apa yang melatarbelakangi orang tua yang dengan tega dan gampangnya memperlakukan anaknya dengan semena-mena, memukul, mencaci, atau bahkan membunuh.

Sebegitu bersalah dan berdosanya kah anak itu ? 
Sebegitu menyebalkan dan menjengkelkan nya kah dia ?

Atau jangan-jangan justru kita yang tidak cukup sabar, kita yang tidak cukup tenang, kita yang stress dengan permasalahan kita sendiri yang bahkan orang lain tidak tau ?
Astagfirullahalazim, 

Anak lahir atas keinginan dan undangan orang tua. Meski pada beberapa kasus menjadi anak yang tidak diinginkan. Tetapi sudah menjadi hukum alam bahwa ada sebab dan akibat. Anak sama sekali tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan orang tua tetapi orang tua bertanggung jawab penuh, dunia dan akhirat atas apa yang terjadi pada anaknya. Orang tua bertanggung jawab penuh atas hidup anak sejak di kandungan hingga dia aqil baligh. Orang tua bertanggung jawab penuh dalam segala aspek dalam hidup anak.

Sungguh sangat besar tanggung jawab orang tua pada anaknya.

Maka,menjadi sangat penting untuk tetap waras dalam membesarkan anak. Menjadi orang tua tidaklah mudah. Pun saya sudah merasakan sendiri bagaimana lelah nya bekerja dan mengasuh anak 24 jam. Tapi tentu, bukan menjadi alasan untuk saya bisa berbuat semaunya pada EL, saya sadar itu. 

Bagaimana untuk tetap waras dan rileks saat membesarkan anak kembali lagi pada masing-masing keadaan orang tua. Setiap orang tentu memiliki masalahnya sendiri. Penyelesaiannya tidak lah sama.  Tapi satu yang jelas bahwa apapun permasalahan yang kita hadapi, anak bukanlah media penyalur luapan emosi negatif kita. Mereka sama sekali tidak pantas untuk itu! 

Masih ada teman, orang tua, tetangga, pasangan atau apapun yang bisa menjadi mediasi dan tempat bercerita berkeluh kesah. Akan selalu ada sajadah untuk sujud kembali pada Illahi Rab Sang Pemilik SegalaNya. Akan selalu ada jalan keluar, tinggal bagaimana kita mencarinya. 

Beberapa cara yang sudah saya lakukan dan efektif memberi angin segar adalah dengan rajin mencari referensi dari berbagai bacaan positif tentang bagaimana menjadi orang tua, tentang anak dan pengasuhan, juga bergabung dalam komunitas orang tua supaya ada 'tempat' untuk sekedar sharing dan bertanya. Selain itu mengikuti berbagai seminar parenting yang kirakira cocok dan memang di butuhkan juga sangat membantu. Dengan begitu kita akan semakin sadar bahwa We're not alone!

Saya sendiri bukan orang tua yang sempurna, masih jauh sekali dari kata sempurna. Masih sulit mengendalikan emosi, efek capek, masalah di RS, pasien, dan lain sebagainya. Saat sudah begitu saya selalu menjauh dari EL untuk beberapa waktu, melakukan apapun yang membuat saya rileks, entah minum kopi, membuka medsos, menonton film di laptop, apapun yang saya suka. Setelah cukup, lalu saya bisa kembali bermain dengan EL dengan suka cita. 

EL adalah little escape yang selalu menyenangkan bagi saya. Justru saat saya me lihat El semua masalah saya perlahan hilang. Menyadari ada mahluk kecil yang masih sangat membutuhkan dan bergantung pada saya. Maka masalah lainnya menjadi tidak penting lagi.

EL tidak berhak menerima semua masalah saya. EL tidak berkewajiban menanggung masalah saya. Maka di depan EL saya akan berusaha untuk selalu menjadi Ummi yang El inginkan, yang selalu mau bermain dan berbahagia 🌼




Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments