Rabu, 21 Februari 2018

Balada Daycare (3)

Setelah berkali-kali maju mundur cantik untuk memasukkan el ke daycare, akhirnya saya teguhkan hati saya, oke el mau daycare aja. Nangis mah biasalah, namanya juga lagi adaptasi, yang penting el di lingkungan yg lebih sehat dan aman daripada RS. Di daycare el akan lebih baik karena (semoga) daycare yang saya pilih professional, bisa me jaga sekaligus memberikan stimulasi yang cukup bagi el yang tidak bisa didapatkan jika saya titip el di nenek. Gitu pikir saya.

Sampai pada kemarin, hari ke-3 El di daycare. Karena Alhamdulilah saya bisa pulang cepet hari itu, suami pun jadwal nya lowong jadi kita bisa bersama-sama jemput el lebih awal 1 jam dari jam seharusnya. Kirakira jam 15.40an saya sudah sampai di daycare.

Masuk ke daycare nya el, saya langsung disambut penanggung jawab kelas el yang seperti nya waktu saya datang sedang duduk di pojok ruangan (main hape?), el tidur bu karena nangis terus, katanya. Sambil ke arah tempat el tidur, saya perhatikan temen-temen daycare el yang lain masih lengkap belum ada yg di jemput dan mereka 'asik' main sendiri. Ada yg cuma duduk, ada yg ketok-ketok mainan pelastik ke lantai, ada yang merangkak kesana kemari, ada 2 bayi yang diem di bouncer, salah satunya sambil disuapi biskuit oleh salah satu pengasuh padahal tidak sedang jam nya makan snack. Plus ada satu pengasuh lagi yang sedang menemani el tidur dipojok ruangan lainnya.

Wait, ada yang aneh dari pemandangan sore ini.

Sejenak saya perhatikan semua anak-anak yang ada di ruangan. Mereka semua berbeda usia yang tidak terlalu jauh, namun ada satu persamaan dari kesemuanya yaitu tatapan mereka semua sama. Tatapan kosong. Saya sempat ajak salah satu nya berkomunikasi, no respon, tetap datar dan kosong.

Astagfirullahaldziiim ๐Ÿ˜ข

Apa arti tatapan mereka ? Kenapa mereka semua begitu ? Sedih, kosong, hampa. Iya itu yang saya lihat dari semua mata mereka. Adakah yang Salah dengan daycare ini ? Atau ada hal lain yang membuat mereka begitu, tapi apa ? Dan apakah el nanti pun akan begitu ? 

Dengan cepat, saya langsung membawa El yang tadi nya tertidur lalu seketika terbangun setelah mendengar suara saya. Saya menerima pelukan el yang sangat erat, pelukan antara lega dan rindu, lalu pulang dengan penuh tanda tanya dan ...... kembali galau ๐Ÿ™ˆ

Malam hari nya, saya ceritakan pada Abinya el tentang semua yang saya lihat dengan semua pertanyaan-pertanyaan saya terkait daycare. Suami yang tadi ikut menemani ke kelas El pun ternyata melihat dan memiliki pertanyaan yang sama dengan saya. Oke fix berarti penilaian tadi memang bukan hanya perasaan saya sendiri.

Maka akhirnya, malam itu juga kami putuskan untuk tidak lagi membawa el ke daycare itu atau daycare manapun. Case closed untuk pencarian daycare. 

Dengan mempertimbangkan beberapa hal, Salah satu nya usia el yang masih sangat kecil (18bulan genap bulan Februari ini). El masih sangat butuh sentuhan dan kasih sayang dari saya, Umminya. Sentuhan dan Kasih sayang yang full, tidak terpotong. Saya khawatir jiwa el akan kosong, minim perhatian, atau bahkan el merasa dijauhkan dari Umminya. El memang belum bisa berkomunilasi dengan baik, masih belum bisa mengutarakan perasaannya. Tapi cukup lah dengan melihat pemandangan daycare sore tadi, menjadi satu pelajaran berharga bagi saya pribadi.

Tempat terbaik bagi anak adalah bersama orang tuanya. Kalaupun harus tidak bersama, yakinkan tempat lain yang kemudian jadi tempat pengasuhan anak adalah tempat terbaik dari semua yang terbaik.

Saya tidak menjudge atau menuduh apapun pada daycare el. Karena sayapun sebelumnya percaya penuh pada daycare itu hingga akhirnya memutuskan untuk memasukkan el disana. Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, kami sudah survey dan searching sana sini dan daycare ini yang menurut saya terbaik. Tetapi, memang ada satu yang aneh, dan entah itu apa. Wallahualam.

Finally ... El, ikut Ummi lagi ya sayang๐Ÿ˜˜

Karena pilihan daycare pupus, maka pada kasus saya dan el pilihan lain yang mungkin diambil adalah Ummi resign lalu cari kerja yang lebih affordable supaya bisa bareng el terus. Doakan Ummi sayang, bismillah kita cari ya nak ๐Ÿ”…


Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments