Minggu, 01 Oktober 2017

Anak dan Menjadi Orang Tua versi Saya

Semua dari kita insyallah akan menjadi orang tua pada waktunya, bagaimana pun prosesnya, seberapa lamapun waktu menunggunya ... beberapa tidak ditakdirkan begitu, sungguh Allah adalah sebaik-baik nya perencana

Bagi yang sudah memiliki anak, entah berapapun usia nya pasti memiliki cara berbeda dalam hal pengasuhan, bergantung latar belakang, kebiasaan, pendidikan, sosial, ekonomi serta cara pandang orang tersebut terhadap anaknya... 

Satu hal yang pasti bahwa semua orang tua yang waras akalnya akan melakukan apapun yang dia pikir baik untuk anak-anaknya, akan berkorban sebisa mungkin demi kebahagiaan anaknya, akan melakukan banyak hal demi kesejahteraan anak-anaknya, and i believe that ! 

Namun, orang tua yang bijak akan mau lebih banyak mendengar, lebih banyak merasa dan lebih banyak memanusiakan anaknya. Bukan sebatas harus ini harus itu, begini dan begitu, karena mereka paham bahwa anak pun memiliki hak-hak yang harus dipenuhi, anak pun manusia yang mampu berpikir dan merasa ♥️

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan saya, dengan berbagai ideologi dan keegoisan saya, dalam membesarkan EL saya memiliki standar-standar tertentu (bukan larangan-larangan). Bagaimana kata orang tentang ini ? Ya terserah lah Karena kembali lagi setiap orang tua tentu punya cara sendiri dalam membersamai dan membesarkan anak dengan berbagai macam faktor tadi.

Bagi saya,
Anak adalah amanah yang Allah titipan dengan banyak alasan, kenapa saya yang begini dikaruniai seorang anak semacam EL, kenapa pula El semacam itu dihadirkan untuk menjadi anak melalui rahim saya. Tentu semua ada alasannya kan?

Maka saya akan dengan sebaik-baiknya membesarkan EL dengan secuil ilmu yang saya punya, dan dari EL pula saya mengerti bahwa menjadi orang tua sangatlah rumit dan tidak gampang. Untuk itu saya terus berbenah diri dan banyak menggali dari berbagai buku maupun seminar parenting, bagaimana seharusnya menjadi orang tua yang bukan hanya baik tapi juga benar, karena kebaikan itu relatif sedangkan kebenaran akan bisa diterima di manapun.

Sama sekali tidak mengecilkan orang tua zaman dulu yang tidak dibekali ilmu parenting, ataupun orang tua sekarang yang tidak peduli dengan ilmu parenting. Hanya saja zaman berubah, perkembangan ilmu terus bergulir, semua orang pun punya pilihan. Dan saya memilih untuk banyak belajar.

Bagi saya,
Anak tidak sekedar dilahirkan, disusui, disekolahkan, kemudian dinikahkan dan selesai. Tetapi bagaimana kita sebagai orang tua bisa memelihara dan memantapkan fitrah yang sudah ada dalam diri anak. Bagaimana kita sebagai orang tua bisa memberikan bekal yang cukup untuk kehidupannya 10, 20, 30 tahun dan sampai akhirat kelak. Karena sungguh bekal uang saja tidak cukup, dan semua yang telah kita lakukan pada anak akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, sanggupkah kita ?😢

Pernah suatu hari saya membaca tulisan bagus dari salah seorang pakar parenting, ibu Elly Risman, bahwa sejatinya mendidik anak adalah menyiapkannya untuk berpisah dengan kita 😇 bukannya terus menerus ingin kita pangku dan timang-timang, terus menerus ingin kita atur dan kita kasih ini itu. Padahal waktu terus berjalan dan dunia berputar, akankah anak kita bisa bertahan setelah kita wafat jika kita sama sekali tidak mendidik dan menyiapkannya untuk bisa mandiri ?

Maka sungguh bekal untuk kemandirian, memberikan kesempatan pada anak untuk berusaha jatuh bangun sambil terus  diberi dorongan, memberikan kesempatan untuk anak bisa sukses dengan hasil usahanya sendiri sangatlah penting. Di sinilah kenapa orang tua harus menjaga dan menguatkan fitrah anak. Disini pula kenapa org tua harus cukup bijaksana dan besar hati untuk memberi kepercayaan pada anaknya yang ingin berdiri pada kedua kakinya sendiri, ingin bermanfaat bagi sekitar tanpa ada embel-embel nama besar orang tua.

Sangat tidak bijak orang tua yang terlalu sombong dan angkuh hingga merasa semua yang anaknya lakukan harus dia dikte karena merasa anaknya tidak "sekompeten" dirinya. Sangat tidak bijak orang tua yang terlalu egois sehingga merasa dia lah yang paling berkuasa atas diri anaknya lalu bebas mengatur hidup si anak. Sangat tidak dewasa orang tua yang ingin selalu dipandang orang bahwa semua yang dicapai anaknya adalah hasil pemberian darinya.

Padahal setiap anak adalah unik, membawa peran dan potensinya masing-masing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka salah besar jika menjadikan diri sendiri sebagai parameter keberhasilan anak. Jangan-jangan anak yang katanya "bodoh" dan "nakal" adalah justru korban dari didikan orang tua yang secara tidak sengaja mencederai fitrah anak ?

Bukankah sejak kecil anak kita adalah pembelajar ulung ? Yang bisa melakukan apapun hanya dengan melihat sekelilingnya

Bukankah sejak kecil anak kita adalah anak yang penuh semangat tanpa takut ? Yang mau mencoba semua hal meski berkali2 cedera atau jatuh dan tidak pernah lelah untuk melakukan ini itu sampai benar-benar lelah lalu tertidur 

Bukankah sejak kecil anak kita adalah anak yang rajin bangun pagi ? Yang sebelum adzan subuh sudah menangis ingin digendong kemudian diajak main

Bukankah sejak kecil anak kita adalah anak yang sangat peka terhadap orang lain dan lingkungan ? Yang akan tertawa bila sekelilingnya tertawa, yang akan sedih bila melihat orang lain menangis

Lalu siapa yang merusak semua kebiasaan baik itu ? Pertanyaan besar juga untuk diri saya sendiri ☺️

Bagi saya,
Anak bukanlah aset atau tabungan yang nanti dikemudian hari akan bisa saya petik buahnya. Sama sekali tidak. Yang saya inginkan adalah kebaikannya di kemudian hari terhadap saya dan sekelilingnya bukan karena diminta atau disuruh tapi karena hatinya sendiri yang tergerak, karena kedermawanannya sudah terbentuk sejak dini. Yang saya inginkan kebaikan hatinya di kemudian hari bukan karena sekedar menunaikan kewajiban tetapi bentuk rasa syukur dan bahagia memiliki orang tua dan lingkungan yang menyenangkan.

Bagi saya,
Membesarkan anak sama sekali bukan perkara remeh temeh 
Membesarkan anak perlu ilmu dan banyak bekal
Membesarkan anak perlu banyak persiapan dari berbagai macam aspek 

Membesarkan anak tentu sangat melelahkan dan menguras energi jika dibawa terlalu "serius" seperti saya ?
Biarkanlah itu menjadi bagian dari jungkir baliknya hidup saya ini namun saya yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan semua usaha pun tetesan keringat kita, insyallah 😇

Bismillah,
Semoga kita semua diberikan kemauan untuk terus belajar dan berubah menjadi orang tua yang lebih baik lagi 
Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi orang tua yang tidak hanya baik tetapi juga benar dihadapan Allah SWT
Semoga kita semua diberikan kesanggupan untuk memberikan dan menyiapkan anak kita menjadi generasi hebat pembangun peradaban 
Amiin 🙏🏻



Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments