Senin, 16 November 2015

Fakta-Fakta Mengenai Dokter yang Belum Diketahui Orang Banyak

Banyak hal yang gak banyak orang tau tentang dokter, nah saya selaku dokter -ciyee- mau bocorin sedikit nih beberapa fakta-fakta mengenai dokter. Yuk mare :

1. Biaya Pendidikan Dokter Selangit


Ini contoh aja nih, dari salah satu universitas yang ada Fakultas Kedokterannya. See ? Fakultas Kedokteran jadi ranking 1 penyumbang terbesar kas Kampus. Makanya pelayanan mulai dari pengurusan masalah akademik, semester, bayaran, ujian dan lain-lain biasanya jauh lebih dimudahkan dan fasilitasnya pun jauh lebih bagus. Ya masa udah bayar mahal terus dikasihnya sama aja, kan gak mungkin dong ... Itu baru biaya secara umum. Di beberapa universitas bahkan ada yang tiap mau ujian bayar, ngulang ujian bayar, praktikum bayar, ngulang praktikum bayar. Belom lagi harga buku-buku nya yang setebel-tebel bantal tidur, gausah ditanya deh harganya berapa. 

Selain itu,  setelah lulus dari kampus kami anak kedokteran ada yang namanya pendidikan klinik atau koass daaaan sebelum bisa berangkat koass harus diuji lagi, ya pasti ujiannya bayar dong. Setelah ujian lulus, mau berangkat koass yaaa bayar lagi. Biasanya bayaran untuk koas ini bisa hampir setengahnya dari biaya bayaran kampus, diitung sendiri yah kira-kira berapa :) 

2. Lama Kuliah Dokter setara S1+S2 jurusan lain




Biasanya untuk lama pendidikan S1 jurusan lain diluar kedokteran bisa memakan waktu 5-7 tahun khususnya di Indonesia. Sedangkan untuk kami anak kedokteran 2 kali lipatnya coy. Beberapa tahap pendidikannya udah di jelasin gambar diatas. Tahap Sarjana Kedokteran tercepat bisa dilalui dalam waktu 3.5 tahun, terlama bisa sampe maksimal 7 tahun, diatas itu biasanya sudah di DO. Setelah itu program profesi dokter alias koass sekitar 1,5-2 tahun bergantung kurikulum yang dianut masing-masing universitas, namun sebelumnya kami harus diuji dulu untuk tau layak atau gak menjadi koass, proses Ujian dan pembimbingannya sekitar 6 bulan. Selesai Koass tahap selanjutnya adalah mengikuti ujian nasional atau yang biasa disebut dengan UKDI yang diadakan pertiga bulan, diantara nya ada waktu menunggu dan waktu bimbingan, total sekitar 6 bulan-1 tahun. Kemudian diangkat sumpah dokter (alias mendapat gelar dr.) lanjut program internship yang lamanya 1 tahun. Nah setelah selesai internship ini baru deh kami bisa jadi dokter yang praktek mandiri. So, total untuk kami anak kedokteran mulai masuk hingga bisa bekerja sendiri adalah selama 7.5-13 tahun. Itu rata-ratanya, ada yang lebih lagi loh :D

3. Pendidikan Dokter memiliki JUMLAH UJIAN terbanyak

Biasanya jurusan diluar kedokteran dengan sistem semester memiliki jumlah ujian formal dua kali dalam setahun, yaitu tengah semester dan akhir semester, ditambah ujian akhir skripsi, ya kan ? Kami anak kedokteran memiliki sistem yang sedikit berbeda. Kami yang dengan model paket alias blok memiliki 3-5 blok/paket pelajaran dalam 1 semester. . Masing-masing ujian terdiri dari ujian tertulis dan ujian praktek, jadi satu blok ada 2x ujian. So minimal ada 6-11 ujan formal dalam satu tahun sudah ditambah dengan ujian akhir skripsi atau karya tulis namun diluar ujian per 1 paket yang terdiri dari 5-6 materi yang tiap materi ada ujiannya tiap minggu. Setelah lulus kampus, kami ada ujian kelayakan untuk menentukan pemberangkatan koass. Semua materi yang ada di kampus menjadi materi ujian koas. Dalam 1.5-2 tahun koas terdiri dari 10-12 bagian, dan tiap selesai bagian kami ada ujian tersendiri baik ujian tulis maupun ujian lisan. Dalam pendidikan koass minimal ada 10-12 kali ujian. Lulus koass, kami belum langsung jadi dokter karena harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Ujian UKDI ini terdiri dari 2 kali ujian yaitu ujian percobaan dan ujian formal. Masing-masing terdiri dari dua tahap yaitu ujian tertulis dan ujian praktek, jadi total untuk menjadi dokter ada 4 ujian yang harus dilewati. 

Nah....sekarang kita total semua ya, total ujiannya anak kedokteran adalah 20-27 ujian formal diluar ujian per paket tiap minggu nya selama 3.5-7 tahun pendidikan kampus.

Masih ada yang ragu sama dokter setelah diuji bertubi-tubi begini ? Masih ada yang bilang dokter umum bodo dan gatau apa-apa setelah ngelewatin pilihan ujian begini? Sungguh Terlalu :p 

4. Dokter Internship TIDAK DIGAJI


Dulu, sebelum ngejalanin semua tahap pendidikan dokter ... saya pikir jadi Dek Koass adalah bagian ter-ter-ter- ... eh ternyata saya salah. Waktu Koass, wajar kami dimarahin. Waktu Koass, wajar kami disuruh. Waktu Koass, sangat wajar kami diuji. Waktu Koass, sangat wajar kami tidak digaji. Waktu Koass, yaa wajar lah kami tidak dihargai. Karena memang masih proses belajar, dan belum punya titel apapun.

Tapi sekarang, setelah menjalani internship. Rupanya semua keperihan lebih banyak ada di proses ini. Sudah bertitel tapi tidak dihargai. Sudah bertitel tapi dipandang sebelah mata. Sudah bertitel tapi malah seperti dek koass. Sudah bertitel tidak digaji.

Kami paham betul bahwa menjadi dokter berarti belajar seumur hidup. Bahwa menjadi dokter internship juga salah satu pembelajaran bagi kami. Bahkan fase hidup setelah internship pun juga fase pembelajaran bagi kami. Tapi, pasti banyak cara yang lebih baik untuk sekedar menghargai profesi kami kan ?

Kami yang sudah bekerja, menerima pasien, jaga malam, dan sebagainya diberikan oleh pemerintah bantuan hidup dasar (BHD) sebesar 2.5 jt rupiah (saya angkatan berangkat tahun 2016), berlaku untuk seluruh Indonesia. Entah ada di jawa yang semua serba murah dan serba terjangkau, atau entah yang seperti saya di daerah yang serba mahal dan semua serba jauh, atau malah seperti banyak teman sejawat lain yang di pedalaman yang bahkan sinyal saja tidak ada. BHD itu dipotong pajak pula, entah pajak apa karena kami belum berpenghasilan, masa iya ada pajak penghasilannya ?

BHD ini jauh sekali dari gaji para pegawai lain yang setara kami. BHD ini jauh sekali dari harapan kami yang ada di pedalaman yang bahkan untuk makan saja tidak cukup. Bagaimana dengan kami yang sudah berkeluarga ? Bagaimana dengan kami yang menjadi tulang punggung keluarga ? karena selama internship kami sama sekali tidak punya hak untuk bekerja di klinik/RS lain, sekedar cari penghasilan tambahan. Gak heran sih, banyak dokter internship yang jualan lah, jadi pegawai mini market lah, jadi buruh lah, demi hidup coy ! :p

Mengeluh ? Tentu tidak. Kami tetap bekerja sebagaimana mestinya.
Demo ? Tidak juga. Apa pula nanti pandangan masyarakat kalau dokternya demo. Bukannya mendapat simpati, pasti malah dicibir sana sini. Dikira menelantarkan pasien. Dikira matre. Dikira tidak bersyukur. Dikira ini dan itu.

Padahal harapan kami simple....sekedar pekerjaan kami dihargai sebagaimana beratnya resiko dan tanggung jawab kami terhadap nyawa banyak manusia, cukup itu :)
Kami sudah dokter loh ini, dokter internship yang sudah diuji bertubi-tubi, yang sudah berijazah, yang sudah bertitel :p

6. Dokter Umum diberikan 2.500 per pasien sebagai upah

Berbeda dengan banyak pekerjaan lain, beberapa fasilitas kesehatan membayar dokternya per kepala. Kini, sebagian besar masyarkat Indonesia telah memiliki asuransi kesehatan yaitu BPJS. Nah dari pasien-pasien BPJS ini, dokter dibayar 2.500/kepala yang berobat di sebagian besar klinik dan rumah sakit. Bagaimanapun bentuk sakitnya. Bagaimanapun resiko nya. Bagaimana pun keadaan pasiennya. Apapun tindakan yang dilakukan. TIDAK PANDANG BULU alias TIDAK PANDANG BESAR RESIKO :)

Padahal dokter dihadapkan pada resiko medis yang besar. Dokter dihadapkan pada tuntutan pasien yang harus sembuh, harus cepat, harus tanpa efek samping. Dokter dihadapkan pada tantangan hukum yang membayangi nya. Dokter dihadapkan pada sorotan media yang sering malah membuat profesi dokter di pihak antagonis. 

Hal tersebut, sangat berbeda dengan yang kami rasakan. Saya rasa sebagai dokter kami semua sama. Dokter manapun pasti ingin yang terbaik bagi pasiennya. Kami ingin pasien kami sehat dan terlayani dengan baik. Kami ingin pasien kami mendapat obat yang terbaik. Kami ingin memberikan penanganan yang terbaik. Tapi, ah sudah lah kami ini pada dasarnya cuma buruh rumah sakit. Apa sih yang bisa dilakuin selain ikut peraturan dan manajemen?

7. Beban Pendidikan Dokter Tinggi

Setelah lulus dokter umum, kami para dokter bisa memilih ingin terus menjadi dokter umum, pendidikan spesialis atau lain-lainnya. Tentu banyak yang ingin menjalani pendidikan spesialis dong karena secara keilmuan lebih spesifik dan secara tingkat pendidikan tentunya lebih tinggi dibandingin dr. umum -yaiyalah :p- Zaman makin berkembang, sekarang gak hanya ada satu atau dua spesialis bahkan puluhan dan berkembang lagi menjadi puluhan sub spesialis dan konsultan. So, kalau cita-cita nya klinis dan pengen pendidikan spesialis, subspesialis atau konsultan mesti nyiapin budget dan waktu lagi deh buat pendidikan. Selain waktu yang lumayan lama, biaya masuk nya yang tinggi, selama menjalani pendidikan kami gak diperkenankan untuk buka praktek lain, so selama pendidikan harus udah punya modal yang cukup bro. Makanya selama masih muda banyak dokter umum yang mati-matian kejar setoran -salah satunya gue bray, demi mencapai cita-cita dan demi masa depan yang lebih cerah- hahaha AMIN :)


Demikian, beberapa fakta-fakta tentang dokter. Masih banyak fakta lainnya loh. Semoga saya ada kesempatan untuk mengupdate ya :)
Yang jelas, tulisan ini tidak ada maksud negatif apapun. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun atau mengecilkan profesi manapun. Sekedar share, sekedar info. 
Semoga kesehatan Indonesia kedepan semakin baik dan semakin maju :)

#SAVEDOCTOR
#SAVEPEOPLE

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | 3 comments

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Kalau semua dijalani dg ikhlas dan niat baik Insyallah terasa lebih ringan sih ����

      Hapus
    2. Kalau semua dijalani dg ikhlas dan niat baik Insyallah terasa lebih ringan sih ����

      Hapus