Kamis, 11 Juni 2015

PENGARUH PEMBERIAN MATERI TENTANG BANTUAN HIDUP JANTUNG DASAR TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT DALAM MENANGANI PASIEN DENGAN KEGAWATDARURATAN JANTUNG DI PUSKESMAS MALILI

BAB I
PENDAHULUAN
     1.1 Latar Belakang
Penyakit jantung dan pembuluh darah sampai saat ini masih merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Diperkirakan akan semakin banyak orang yang meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan dengan penyakit lain. Dari survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2004, diperkirakan sebanyak 17,1 juta orang meninggal (29,1% dari jumlah kematian total) karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari kematian 17,1 orang tersebut diperkirakan 7,2 juta kemantian disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Pada tahun 2030, WHO memperkiraqkan akan terjadi 23,6 juta kematian karena penyakit jantung dan pembulu darah. Asia tenggara juga diprediksikan merupakan daerah yang mengalami peningkatan tajam angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.
Manifestasi komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah yang paling sering diketahui dan bersifat fatal adalah kejadian henti jantung mendadak. Sampai saat ini kejadian henti jantung mendadak merupakan penyebab kematian tertinggi di amerika dan kanada. Walaupun angka insiden belum diketahui secara pasti, pusat pngendalian pencegahan dan control penyakit amerika serikat memperkirakan 330.000 orang meninggal karena penyakit jantung koroner di luar rumah sakit atau di ruang gawat darurat. 250.000 di antaranya meninggal di luar rumah sdakit. Di Indonesia sendiri, berdasarkan prevalensi nasional penyakit jantung sebesar 7,2% namun angka henti jantung mendadak belum didapatkan.
Sebagian besar kejadian henti jantung mendadak terdokumentasi memperlihatkan irama ventricular fibrillation (VF). Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, terutama jika henti jantung mendadak tersebut disaksikan, maka tindakan Bantuan Hidup Jantung Dasar harus secepatnya dilakukan, berdasarkan penelitian, bantuan hidup jantung dasar akan memberikan hasil yang paling baik jika dalam waktu 5 menit pertama saat defibrillator (AED). Pada umumnya waktu  yang diperlukan Sesudah dilakukan permintaan tolong awal dengan jarak atara system pelayanan kegawatdaruratan medis serta lokasi kejadian akan memakan waktu lebih dari 5 menit, sehingga untuk mempertahankan angka keberhasilan yang tinggi, tindakan bantuan hidup jantung dasar bergantung terhadap pelatihan umum bantuan hidup jantung dasar terhadap kau awam serta ketersediaan alat AED sebagai fasilitas umum. Keberhasilan kejut jantung enggunakan defibrilaor akan menurun 7 – 10% per minut jika tidak dilakukan tindakan bantuan hidup jantung dasar. Sebagai konsekuensi, semakin laa waktu yang diperlukan untuk melakukan tindakan kejut jantung pertama kali, maka semakin kecilpeluang keberhasilan tindakan tersebut.
Tindakan bantuan hidup jantung dasar merupakan layanan kesehatan dasar yang dilakukan terhadap penderita yang menderita penyakit yang mengancam jiwa sampai penderita tersebut mendapat pelayanan kesehatan secari paripurna. Tindakan bantuan hidup jantung dasar umumnya dilakukan oleh paramedis, namun di Negara-negara maju seperti amerika serikat, kanada serta Inggris dapat dilakukan oleh kaum awam yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya. Tindakan bantuan hidup jantung dasar secara garis besar dikondisikan untuk keadaan diluar rumah sakit sebelum mendapat perawatan lebih lanjut, sehingga tindakan bantuan hidup jantung dasar dapat dilakukan di luar rumah sakit tanpa menggunakan peralatan medis.
            Penyebab tingginya angka kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan adalah tingkat keparahan, kurang memadainya peralatan, sistem yang belum memadai dan pengetahuan/keterampilan dalam penanggulangan penderita gawat darurat kurang mencukupi. Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang porsi besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Pada kehidupan nyata, banyak penderita gawat darurat yang justru meninggal dan mengalami kecacatan yang disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan pertolongan.
            Oleh karena itu perlu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan penanggulangan pendarita gawat darurat pada perawat terutama yang bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD). Atas dasar latar belakang ini maka kami melakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian materi tentang bantuan hidup jantung dasar terhadap tingkat pengetahuan dan sikap perawat dalam menangani pasien kegawatdaruratan jantung.
    1.2   Perumusan Masalah
1.      Apakah terdapat pengaruh pemberian materi tentang bantuan hidup jantung dasar terhadap tingkat pengetahuan dan sikap perawat?
     1.3 Tujuan penelitian
1.      Tujuan Umum.
Untuk mengetahui  pengaruh pemberian materi tentang bantuan hidup jantung dasar terhadap tingkat pengetahuan dan sikap perawat dalam menangani pasien kegawatdaruratan jantung.
2.      Tujuan Khusus.
a.          Mengetahui karakteristik perawat di Puskesmas Malili
b.      Menganalisis perubahan tingkat pengetahuan dan sikap perawat sebelum dan sesudah pemberian materi tentang bantuan hidup jantung dasar.
     1.4 Manfaat penelitian
1.   Teoritis
a.         Memberi informasi tentang pengaruh pemberian materi tentang bantuan hidup jantung dasar terhadap tingkat pengetahuan dan sikap perawat dalam menangani pasien kegawatdaruratan jantung di Puskesmas Malili.
2.     Praktis
a.          Manfaat bagi perawat diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai penanganan pertama kegawatdaruratan jantung dengan benar.
b.      Bagi puskesmas diharapkan dapat memberikan pelatihan yang tepat pada perawat yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam penanganan kegawatdaruratan jantung


BAB II
ISI
2.1 Sistem Respirasi
2.1.1. Anatomi Sistem Respirasi
Anatomi sistem respirasi terbagi menjadi 4 komponen, yaitu :
1.      Saluran nafas sebagai tempat masuknya udara luar ke dalam tubuh manusia
2.      Alveoli, kantong udara tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbondioksida di paru-paru
3.      Komponen neuromuskular
4.      Komponen pembuluh darah : arteri, kapiler, vena
Saluran pernafasan terbagi menjadi 2, yaitu : saluran pernafasan atas dan saluran pernafasan bawah. Bagian atas terdiri dari hidung, mulut, laring, faring. Bagian bawah terdiri dari trakhea, bronkus, bronkiolus dan berakhir di alveoli.
Komponen neuromuskular sistem respirasi meliputi pusat saraf di otak, batang otak, serta jaras saraf menuju otot diafragma, otot interkosta serta otot bahu dan leher. Dinding dada terdiri dari 12 pasang tulang iga yang melekat di vertebra; 10 pasang tulang iga melekat di sternum dan 2 pasang tulang iga tidak melekat di sternum. Alveoli yang dilapisi oleh selapis sel tipis dengan pembuluh darah kapiler di dalamnya adalah kantung udara tempat terjadinya pertukaran antara oksigen dan karbondioksida.
Arteri pulmonalis merupakan pembuluh darah yang keluar dari ventrikel kanan, berisi darah dengan kandungan oksigen rendah menuju alveoli paru. Sesudah dilakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida di kapiler, darah tersebut mengalir ke atrium kiri melalu vena pulmonalis dengan kandungan yang lebih tinggi untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.

2.1.2. Fisiologi Sistem Respirasi
Sistem respirasi berfungsi membawa oksigen dari udara luar masuk ke dalam darah dan membuat karbondioksida dari dalam tubuh. Oksigen dibutuhkan sebagai bahan bakar pada metabolisme tubuh.
Sistem kardiovaskuler mendistribusikan darah baik dari paru-paru ke seluruh tubuh atau sebaliknya. Jika terjadi penurunan jumlah oksigen yang dibawa dalam darah atau kemampuan darah mengikat oksigen, maka akan terjadi kerusakan jaringan karena kekurangan oksigen. Untuk mempertahankan keseimbangan, tubuh mengubah sistem metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik dengan hasil samping adalah asam laktat. Jika proses tersebut terjadi dalam proses besar akan terjadi asidosis metabolik. Sebaliknya, jika sistem respirasi mengalami kegagalan maka pengeluaran karbondioksida dalam tubuh akan mengalami gangguan. Keadaan tersebut akan mengakibatkan penumpukan gas karbondioksida (hiperkarbia) sehingga darah menjadi asam yang disebut asidosis respiratori.
Dalam keadaan normal, kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah mengalami kesetimbangan yang diatur oleh pusat pernafasan di otak. Karbondioksida juga berfungsi sebagai stimulus primer pengaturan kecepatan dan kedalaman pernafasan.

2.1.3. Henti Nafas dan Gangguan Sistem Respirasi
Konsekuensi gangguan respirasi adalah gangguan distribusi oksigen yang adekuat ke seluruh tubuh. Sebagai contoh, bila penderita mengalami henti nafas maka diperlukan ventilasi bantuan dengan tekanan positif dari mulut ke mulut, mulut ke sungkup atau bag mask ventilation. Ventilasi dengan tekanan positif dan suplemen oksigen, untuk membantu supaya asupan oksigen ke tubuh tetap adekuat.

2.1.4. Henti Nafas Sentral
Pusat pernafasan di otak dipengaruhi oleh aliran darah serta kadar oksigen dan karbondioksida dalam tubuh. Keadaan tertentu seperti henti jantung, syok, atau stroke menyebabkan gangguan aliran darah ke otak. Pernafasan akan berhenti beberapa detik Sesudah henti jantung. Penurunan suplai oksigen serta gangguan pengeluaran oksigen dari tubuh yang disebabkan oleh sumbatan jalan nafas atau gangguan otot-otot rangka pernafasan juga menyebabkan henti nafas.

2.1.5. Sumbatan Jalan Nafas
Sumbatan jalan nafas adalah tertutupnya jalan nafas yang umumnya disebabkan oleh benda asing yang menutupi jalan nafas atau jatuhnya lidah dan epiglotis saat penderita tertidur atau tidak sadarkan diri. Menurut data statistik di Amerika Serikat, kematian akibat jalan nafas disebabkan benda asing sangat jalan terjadi (1,2 per 100.000 kematian), namun penanganan kasus-kasus sumbatan jalan nafas yang disebabkan benda asing perlu diketahui masyarakat untuk penganganan di rumah, restaurant dan tempat lain.


2.2 Sistem Kardiovaskuler
2.2.1 Anatomi
FG20_06
Gambar 1. Anatomi Jantung (Martini, 2008)

1)   Lapisan jantung (Martini, 2008):
(a)      Pericardium, terdiri dari parietal (bagian luar) dan visceral (bagian yang langsung melekat pada jantung).
(b)     Miokardium
(c)      Endokardardium
2)   Ruang-ruang jantung (Martini, 2008):
(a)      Atrium kanan-atrium kiri (dipisahkan oleh septum interatrium).
(b)     Ventrikel kanan-venrtikel kiri (dipisahkan oleh septum interventrikel).
(c)      Antara atrium dan ventrikel dipisahkan septum interatrioventrikularis.

3)   Anatomi bagian dalam jantung
Berawal dari vena cava inferior dan superior kemudian ke atrium kanan (muara dari vena cava inferior, vena cava superior dan sinus coronarius). Di atrium kanan ada struktur khas yaitu auricula yang letaknya kanan dan kiri, kemudian masuk ke ventrikel kanan melalui valvula trikuspidalis (mempunyai 3 cuspis yaitu anterior, posterior, media), di ventrikel kanan terdapat muculus papilaris dan corda tendinae, dilanjutkan ke truncus pulmonaris, masuk ke valvula pulmonalis (punya 3 cuspis posterior, kanan, kiri), ke vena pulmonaris, kemudian masuk ke atrium kiri. Dari atrium kiri darah masuk ke ventrikel kiri, kemudian menuju aorta acenden melalui valvula semilunaris aorta (punya 3 cuspis yaitu anterior, kanan, kiri) (Martini, 2008).
Arteria coronaria kanan merupakan cabang langsung aorta yang keluar dari sinus aortae kanan, kemudian berjalan dalam sulcus coronaries di bawah auricula kanan mengelilingi jantung ke arah posterior. Cabang-cabangnya, yaitu: Ramus coni arteriosi, Ramus nodi sinuatrialis, Ramus marginalis dexter, Ramus interventricularis posterior, Ramus transversus, Ramus nodi atrioventricularis. Arteria coronaria kiri keluar dari sinus aortae sinister, kemudian berjalan di antara arteri pulmonalis dengan auricula kiri dan akhirnya mengeluarkan cabang-cabang, yaitu: Ramus interventricularis anterior, Ramus circumflexus Ramus nodi sinuatrialis, Ramus nodi atrioventricularis (Moffat dan Faiz, 2004).
Pola jalan vennae cordis pada umumnya sama dengan arteri-arterinya, hanya vena berjalan lebih superficial. Sebagian besar vennae cordis bermuara ke dalam sinus coronarius, yang terletak pada sulcus atrioventricularis di permukaan posterior jantung, dan dari tempat ini darah baru dialirkan ke dalam atrium dextrum. Vena cordis yang bermuara ke dalam sinus coronarius, yaitu: V. cordis magna, V. cordis media, V. cordis parva, V. cordis posterior, dan V. cordis obliqua Marshalli. Vennae yang langsung bermuara ke dalam ruang-ruang jantung, yaitu: Vv. cordis anterior dan Vv. cordis minimae Thebesii (Moffat dan Faiz, 2004).
Pembuluh-pembuluh limfe jantung jumlahnya banyak dan tersebar di mana-mana, baik di dalam jaringan myokardium maupun di permukaannya. Pembuluh-pembuluh ini disalurkan melalui 2 buah saluran limfe besar ke nodi lymphatici mediastinalis anteriores, yaitu: Lnn. mediastinalis anterior dexter, menyalurkan limfa dari bagian kanan jantung mengikuti jalannya arteri coronaria kanan dan Lnn. mediastinalis anterior kiri, menyalurkan limfa dari bagian kiri jantung, berjalan pada permukaan truncus pulmonalis (Martini, 2008).
Sistem Limfatik merupakan suatu sistem saluran berlapiskan endotel dengan dinding tipis yang mengandung cairan dari ruang-ruang jaringan dan mengembalikannya ke dalam darah. Cairan tersebut disebut cairan limfe, yang hanya mengalir dalam satu arah, yaitu ke arah jantung. Saluran limfatik berfungsi untuk menampung atau mengembalikan sebagian cairan yang mengalami ekstravasasi pada kapiler ke sirkulasi darah sehingga jumlah cairan darah dapat dipertahankan. Akhir aliran limfatik masuk kembali ke vasa subclavia kiri. Sepanjang aliran dilengkapi dengan kelenjar getah bening untuk membersihkan cairan tubuh dari benda asing sebelum masuk sirkulasi darah. Kapiler limfe berasal dari berbagai jaringan, sebagai pembuluh halus yang terdiri atas satu lapis endotel dan lamina basal yang tidak utuh. Pembuluh-pembuluh limfe tipis secara berangsur-angsur bergabung dan akhirnya membentuk dua pembuluh besar, yaitu duktus torasikus dan duktus limfatikus kanan, dan masing-masing bermuara ke perbatasan antara vena jugularis kiri dan vena subclavia kiri, serta bermuara ke pertemuan vena subclavia kanan dengan vena jugularis interna kanan (Moffat dan Faiz, 2004).

Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan yaitu endokardium, miokardium dan epikardium. Endokardium, merupakan bagian dalam dari atrium dan ventrikel. Endokarium homolog dengan tunika intima pada pembuluh darah. Endokardium terdiri dari endotelium dan lapisan subendokardial. Endotelium pada endokardium  merupakan epitel selapis pipih dimana terdapat tight/occluding junction dan gap junction. lapisan subendokardial terdiri dari jaringan ikat longgar. Di lapisan subendokardial terdapat vena, saraf, dan sel purkinje.
Miokardium, terdiri dari otot polos. Miokardium pada ventrikel kiri lebih tebal dibandingkan pada ventrikel kanan. Sel otot yang khusus pada atrium dapat menghasilkan atriopeptin, ANF (Atrial Natriuretic Factor), kardiodilatin dan kardionatrin yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Miokardium terdiri dari dua jenis serat otot yaitu serat kondukdi dan serat kontraksi.
Serat konduksi pada jantung merupakan modifikasi dari serat otot jantung dan menghasilkan impuls. Serat konduksi terdiri dari dua nodus di dinding atrium yaitu nodus SA dan AV, bundle of His  dan serat purkinje. Serat purkinje merupakan percabangan dari nodus AV  dan terletak di subendokardial. Sel purkinje mengandung sitoplasma yang besar, sedikit miofibril, kaya akan mitokondria dan glikogen serta mempunyai satu atau dua nukleus yang terletak di sentral.
Serat kontraksi merupakan serat  silindris yang panjang  dan bercabang. Setiap serat terdiri hanya satu atau dua nukleus di sentral. Serat kontraksi mirip dengan otot lurik karena memiliki striae. Sarkoplasmanya mengandung banyak mengandung mitokondria yang besar. Ikatan antara dua serat otot adalah melalui fascia adherens, macula adherens (desmosom), dan gap junctions.
Epikardium terdiri dari tiga lapisan yaitu perikardium viseral, lapisan subepikardial dan perikardium parietal. Perikardium viseral terdiri dari mesothelium (epitel selapis pipih). Lapisan subepikardial terdiri dari jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah koroner, saraf serta ganglia. Perikardium parietal terdiri dari mesotelium dan jaringan ikat.

2.2.2 Fisiologi
Jantung memiliki dua fungsi yaitu sebagai pompa darah ke seluruh tubuh dan sebagai regulasi hormonal. Pada bahasan kali ini yang akan lebih dibahas adalah jantung sebagai pompa darah. Ada dua sirkulasi yang berkaitan erat dengan fungsi jantung sebagai pompa yaitu sirkulasi sistemik dimana jantung memompakan darah ke seluruh tubuh dari ventrikel kiri dan sirkulasi pulmonary yaitu jantung memompakan darak ke pulmo untuk di oksigenasi dari ventrikel kanan (Sherwood, 2001).
Dalam memompa darah baik secara sirkulasi sistemik maupun pulmonal jantung memiliki sebuah siklus jantung. Tahapan siklus jantung adalah sebagai berikut (Sherwood, 2001):
1)   Fase Diastole
     Pada fase ini darah masuk ke atrium karena adanya bantuan dari tekanan daran di vena cava lalu darah yang ada di atrium akan masuk ke ventrikel karena membukanya katup atrioventrikular. Darah yang masuk ke ventrikel secara pasif hanya 70%.
2)   Fase Kontraksi Atrial
     Atrium akan berkontraksi untuk mengalirkan darah yang tersisa di atrium agar dapat masuk ke ventrikel. Darah yang masuk pada fase ini adalah 30%.
3)   Fase Kontraksi isovolumetric
     Keadaan dimana tekanan didalam ventrikel sudah lebih besar dari tekanan di atrium sehingga menutup katup atiroventrikular, tetapi tekanan di ventrikel belum melebihi tekanan di arteri sehingga katup semilunaris belum membuka. Pada fase ini tidak terjadi perbedaan volume darah yang ada terjadi hanya perbedaan tekanan.
4)   Fase Ejeksi
     Tekanan darah di ventrikel sudah melebihi tekanan darah di arteri sehingga katup semilunaris membuka dan darah dialirkan ke paru dan seluruh tubuh. Pada fase ini darah yang di alirkan dari tiap vcentrikel hanya 60%. Darah yang dikeluarkan tiap denyutannya di kenal sebagai velume sekuncup atau stroke volume.
5)   Fase Isovolumetric Relaxation
     Pada fase relaksasi otot, tekanan di ventrikel menjadi lebih rendah dari tekanan di arteri sehingga terjadi penutupan katup semilunaris, akan tetapi tekanan di ventrikel masih lebih besar dari tekanan di atrium sehingga katup atrioventrikular belum membuka.

Gambar 2. Siklus jantung (Cummings, 2004)
Kontraksi otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang menyebar melalui membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu  99% sel otot jantung kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel-sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah, sel otoritmik, tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel-sel pekerja.
Gambar 3. Penjalaran impuls pada jantung (Cummings, 2004)
Kontraksi otot jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik. Penyebab pergeseran potensial membran ke ambang masih belum diketahui. Secara umum diperkirakan bahwa hal itu terjadi karena penurunan siklis fluks pasif K+ keluar yang langsung bersamaan dengan kebocoran lambat Na+ ke dalam. Di sel-sel otoritmik jantung, antara potensial-potensial aksi permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot rangka. Permeabilitas membran terhadap K+ menurun antara potensial-potensial aksi, karena saluran K+ diinaktifkan, yang mengurangi aliran keluar ion kalium positif mengikuti penurunan gradien konsentrasi mereka. Karena influks pasif Na+ dalam jumlah kecil tidak berubah, bagian dalam secara bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser ke arah ambang.Sesudah ambang tercapai, terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respon terhadap pengaktifan saluran Ca2+ dan influks Ca2+ kemudian; fase ini berbeda dari otot rangka, dengan influks Na+ bukan Ca2+ yang mengubah potensial aksi ke arah positif. Fase turun disebabkan seperti biasanya, oleh efluks K+ yang terjadi karena terjadi peningkatan permeabilitas K+ akibat pengaktifan saluran K+.Sesudah potensial aksi usai, inaktivasi saluran -saluran K+ ini akan mengawali depolarisasi berikutnya. Sel-sel jantung yang mampu mengalami otortmisitas ditemukan pada nodus  SA, nodus AV, berkas His dan serat purkinje.

Tabel 1. Kecepatan normal pembentukan potensial aksi di jaringan otoritmik jantung
Jaringan
Potensial aksi per menit
Nodus SA ( pemicu normal)
70 – 80
Nodus AV
40 – 60
Berkas His dan serat-serat purkinje
20 – 40
 (Sherwood, 2003)
Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali akan menyebar ke atrium melalui jalur antar  atrium dan jalur antar nodus lalu ke nodus AV. Karena konduksi nodus AV lambat maka terjadi perlambatan sekitar 0,1 detik sebelum eksitasi menyebar ke ventrikel. Dari nodus AV, potensial aksi akan diteruskan ke berkas His  sebelah kiri lalu kanan dan terakhir adalah ke sel purkinje. Potensial aksi yang timbulkan di nodus SA  akan menghasilkan gelombang depolarisasi yang akan menyebar ke sel kontraktil melalui gap junction.
Gambar 4. Bagan potensial aksi di sel kontraktil jantung (Sherwood, 2003)
Kontraksi otot jantung dilihat dari segi biokimia, otot terdiri dari aktin, miosin, dan tropomiosin. Aktin, G aktin monomerik menyusun protein otot sebanyak 25% berdasarkan beratnya. Pada kekuatan ion fisiologik dan dengan adanya ion Mg2+ akan membentuk F aktin. Miosin, turut menyusun 55% protein otot berdasarkan berat dan bentuk filamen tebal. Miosin merupakan heksamer asimetrik yang terdiri dari satu pasang rantai berat dan dua pasang rantai ringan. Troponin ada tiga jenis yaitu troponin T yang terikat pada tropomiosin, troponin I yang menghambat interaksi F aktin miosin dan troponin C yang mengikat kalsium.
Gambar 5. Pengaruh ion Ca2+ terhadap kontraksi otot jantung (Cummings, 2004)

Mekanisme kontraksi otot, adanya eksitasi pada miosit akan menyebabkan peningkatan kadar Ca2+ di intraseluler.Eksitasi akan menyebabkan  Ca2+ msk dari ECM ke intrasel melalui L type channels lalu  Ca2+ tersebut akan berikatan dengan reseptor ryanodin- sensitive reseptor di Sarkoplasmik retikulum  dan akan  dihasilkan lebih banyak lagi Ca2+ ( CICR = Ca2+ induced Ca2+  release). Kalsium yang masuk akan berikatan dengan troponin C  dan dengan adanya energi dari ATP akan menyebabkan kepala miosin lepas dari aktin dan dengan ATP berikutnya akan menyebabkan terdorongnya aktin ke bagian dalam (M line). Proses ini terjadi berulang-ulang dan akhirnya terjadi kontraksi otot.
Sumber ATP untuk kontraksi berasal dari anaerob glikolisis, glikogenolisis, kreatin fosfat, dan fosforilasi oksidatif. SumberATP pertama sekali adalah cadangan ATP, Sesudah itu menggunakan kreatin fosfat diikuti dengan glikolisis anaerob, lalu glikolisis aerob dan akhirnya lipolisis.
Kecepatan denyut jantung terutama ditentukan oleh pengaruh otonom pada nodus SA. Nodus SA dalam keadaan normal adalah pemacu jantung karena memiliki kecepatan depolarisasi paling tinggi. Penurunan gradual potensial membran secara otomatis antara denyutan secara umum dianggap disebabkan oleh penurunan permeabilitas terhadap K+. Jantung dipersarafi oleh kedua divisi sistem saraf otonom, yang dapat memodifikasi kecepatan kontraksi, walaupun untuk memulai kontraksi tidak memerlukan stimulai saraf. Saraf parasimpatis ke jantung adalah saraf vagus terutama mempersarafi atrium, terutama nodus SA dan AV, sedangkan persarafan ke ventrikel tidak signifikan.

2.3. Sistem Serebrovaskuler
2.3.1 Anatomi sistem serebrovaskuler
Susunan sistem saraf pusat terdiri dari otak besar (serebrum), otak kecil (serebelum), batang otak dan susunan saraf spinal. Bagian otak yang memiliki peranan besar dalam sistem saraf adalah serebrum yang mengendalikan hampir sebagian besar kegiatan sensorik dan motorik tubuh. Serebrum terdiri dari 2 hemisfer yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Setiap hemisfer terdiri dari beberapa lobus, yaitu lobus anterior, medial, parietal, temporal dan oksipital. Masing-masing hemisfer mengatur dan mengontrol bagian yang berbeda dari tubuh, secara garis besar hemisfer kiri mengendalikan tubuh bagian kanan dan hemisfer kanan mengendalikan tubuh bagian kiri. Batang otak yang terletak diantara otak besar dan susuna saraf spinal memiliki beberapa jaras yang menghubungkan antara otak besar, otak kecil dan saraf spinal. Keistimewaan batang otak adalah pusat pengendali saraf otonom (saraf yang berdiri sendiri) contohnya adalah pusat pernafasan dan peredaran darah.

2.3.2 Sirkulasi pada otak
Otak merupakan bagian tubuh yang paling banyak memerlukan oksigen untuk aktifitasnya, sehingga diperlukan suplai darah kaya oksigen secara konstan. Apabila terjadi gangguan aliran darah menuju otak, atau bila berhenti total, maka akan terjadi kerusakan jaringan otak yang bisa menimbulkan kematian. Pembuluh darah yang mendarahi otak terbagi menjadi arteri carotis kanan dan kiri memperdarahi 80% bagian otak, 20% diperdarahi arteri vertebralis kanan dan kiri. Kedua arteri ini bertemu membentuk lingkaran yang disebut arteri sirkulus Willisi yang membuat otak tersuplai darah.

2.3.3 Patofisiologi otak
Kerusakan jaringan otak menyebabkan penurunan fungsi bagian yang terkena. Sebaliknya bagian otak yang tidak mengalami kerusakan akan tetap berfungsi secara normal. Keadaan yang mengganggu metabolisme seperti henti jantung akan mempengaruhi sel-sel otak. Penderita mungkin akan kehilangan kesadaran, tidak merasakan rangsang atau nyeri, tidak dapat bergerak, dan kehilangan kontrol terhadap pernafasan. Saat terjadi henti jantung, semua sel tubuh akan terpengaruh termasuk sel-sel otak.

2.3.4. Interaksi Sistem Respirasi Jantung dan Otak
Tujuan utama pertolongan gawat darurat kardiovaskuler adalah untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembalikan pasokan oksigen secara normal ke organ tubuh yang sangat membutuhkan oksigen seperti sel saraf, jantung, paru dan otak.
Jaringan paru yang merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondiksida menyediakan suplai oksigen untuk tubuh yang diangkut dengan menggunakan sel darah yang dipompakan oleh jantung ke seluruh tubuh. Henti jantung serta henti nafas akan menyebabkan aliran oksigen ke otak terputus.

2.4. Bantuan Hidup Jantung Dasar Pada Dewasa
2.4.1        Definisi
Bantuan Hidup Jantung Dasar pada dewasa adalah tindakan pertolongan medis sederhana yang dilakukan pada penderita yang mengalami henti jantung sebelum diberikan tindakan pertolongan medis lanjutan.

2.4.2        Tujuan
Memberikan bantuan sirkulasi dan pernapasan yang adekuat sampai keadaan henti jantung teratasi atau sampai penderita dinyatakan meninggal.

2.4.3        Henti Napas dan Henti Jantung
Henti napas adalah adalah berentinya pernapasan spontan yang disebabkan gangguan jalan napas, baik parsial maupun total atau karena gangguan di pusat pernapasan. Henti jantung adalah berhentinya sirkulasi peredaran darah karena kegagalan jantung untuk melakukan kontraksi secara efektif. Keadaan tersebut bisa disebabkan oleh penyakit primer dari jantung atau penyakit sekunder non-jantung. Henti napas dan henti jantung merupakan dua keadaan yang sering berkaitan, sehingga penatalaksanaannya tidak bisa terpisahkan.
2.4.4   Penyebab Henti Napas
1.      Sumbatan Jalan Napas
Jalan napas dapat mengalami sumbatan total atau parsial. Sumbatan jalan napas total dapat menimbulkan henti jantung mendadak karena berhentinya suplai oksigen baik ke otak maupun ke miokard. Sumbatan jalan napas parsial umumnya lebih lambat menimbulkan keadaan henti jantung, namun usaha yang dilakukan tubuh untuk bernapas dapat menyebabkan kelelahan.

Kondisi-kondisi yang menyebabkan sumbatan jalan napas :
a.       Benda asing (termasuk darah)
b.      Muntahan
c.       Edema laring atau bronkus akibat trauma langsung pada wajah atau tenggorokan
d.      Spasme laring atau bronkus akibat radang atau trauma
e.       Tumor

2.      Gangguan Paru
Kondisi-kondisi paru yang menyebabkan gangguan oksigenasi dan ventilasi antara lain :
a.       Infeksi
b.      Aspirasi
c.       Edema paru
d.      Kontusio paru
e.       Keadaan tertentu yang menyebabkan rongga paru tertekan oleh benda asing, seperti pneumotoraks, efusi pleura.

3.      Gangguan Neuromuskular
Kondisi-kondisi yang menyebabkan penurunan kemampuan otot-otot utama pernapasan (otot dinding dada, diafragma dan otot interkostal) untuk mengembangkempiskan paru antara lain :
a.       Miastena gravis
b.      Sindroma Guillian Barre
c.       Sklerosis multipel
d.      Poliomielitis
e.       Kiposkoliosis
f.       Distrofi muskular
g.      Penyakit motor neuron
2.4.5 Penyebab Henti Jantung
Henti jantung dapat disebabkan karena primer atau sekunder. Kondisi primer penyebab henti jantung :
1.      Gagal jantung
2.      Tamponade jantung
3.      Miokarditis
4.      Kardiomiopati hipertrofi
5.      Fibrilasi ventrikel yang mungkin disebabkan oleh iskemia miokard, infark miokard, tersengat listrik, gangguan elektrolit atau konsumsi obat-obatan.
2.4.6 Indikasi Bantuan Hidup Jantung Dasar
1.      Henti jantung
2.      Henti napas
3.      Tidak sadarkan diri
2.4.7        Pelaksanaan Bantuan Hidup Jantung Dasar
Urutan pelaksanaan Bantuan Hidup Jantung Dasar yang benar akan memperbaiki tingkat keberhasilan. Berdasarkan panduan Bantuan Hidup Jantung Dasar yang dikeluarkan oleh American Heart Association dan European Society of Resuscitation, pelaksanaan Bantuan Hidup Jantung Dasar dimulai dari penilaian kesadaran penderita, aktivasi layanan gawat darurat dan dilanjutkan dengan tindakan pertolongan yang diawali dengan CABD (Circulation-Airway-Beathing-Defibrilator).

2.4.8        Penilaian Respon
Penilaian respons dilakukan Sesudah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman untuk melakukan pertolongan. Penilaian respons dilakukan dengan cara menepuk-nepuk dan menggoyangkan penderita sambil berteriak memanggil penderita. Hal yang perlu diperhatikan Sesudah melakukan penilaian respons penderita :
1.      Bila penderita menjawab atau bergerak terhadap respons yang diberikan, maka usahakan tetap mempertahankan posisi seperti pada saat ditemukan atau diposisikan ke dalam posisi mantap; sambil terus melakukan pemantauan tanda-tanda vital sampai bantuan datang.
2.      Bila penderita tidak memberikan respons serta tidak bernapas atau bernapas tidak normal (gasping), maka penderita dianggap mengalami kejadian henti jantung. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan aktivasi sistem layanan gawat darurat.

2.4.9        Pengaktifan Sistem Layanan Gawat Darurat
Sesudah melakukan pemeriksaan kesadaran penderita dan tidak didapatkan respons dari penderita, hendaknya penolong meminta bantuan orang terdekat untuk menelepon sistem layanan gawat darurat (atau sistem kode biru bila di rumah sakit). Bila tidak ada orang lain di dekat penolong untuk membantu, maka sebaiknya penolong menelepon sistem layanan gawat darurat. Saat melaksanakan percakapan dengan petugas layanan gawat darurat, hendaknya dijelaskan lokasi penderita, kondisi penderita, serta bantuan yang sudahdiberikan kepada penderita.

2.4.10    Kompresi Jantung (Circulation)
Sebelum melakukan kompresi dada pada penderita, penolong harus melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan bahwa penderita dalam keadaan tanpa nadi saat akan dilakukan pertolongan. Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan perabaan denyutan arteri karotis dalam waktu maksimal 10 detik. Melakukan pemeriksaan denyut nadi bukan hal yang muda untuk dilakukan, bakan tenaga kesehatan yang menolong mungkin memerlukan waktu yang agak panjang untuk memeriksa denyut nadi, sehingga :
·         Tindakan pemeriksaan denyut nadi bisa tidak dilakukan oleh penolong awam dan langsung mengasumsikan terjadi henti jantung jika seorang dewasa mendadak tidak sadarkan diri atau penderita tanpa respons yang bernapas tidak normal
·         Pemeriksaan arteri karotis dilakukan dengan memegang leher penderita dan mencari trakea dengan 2-3 jari. Selanjutnya dilakukan perabaan bergeser ke lateral sampai menemukan batas trakea dengan otot samping leher (tempat lokasi arteri karotis berada).

2.4.11    Pelaksanaan Kompresi Dada
Kompresi dada terdiri dari pemberian tekanan secara kuat dan berirama pada setengah bawah dinding sternum. Penekanan ini menciptakan aliran darah yang akan melalui meningkatkan tekanan intratorakal serta penekanan langsung pada dinding jantung. Komponen yang perlu diperhatikan saat melakukan kompresi dada :
·         Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras.
·         Tentukan lokasi kompresi di dada dengan cara meletakkan telapak tangan yang telah saling berkaitan di bagian setengah bawah sternum.
·         Frekuensi minimal 100 kali per menit.
·         Kedalaman minimal 5 cm (2 inch).
·         Penolong awam melakukan kompresi minimal 100 kali per menit tanpa interupsi. Penolong terlatih tanpa alat bantu napas lanjutan melakukan kompresi dan ventilasi dengan perbandingan 30 : 2 (setiap 30 kali kompresi efektif, berikan 2 napas bantuan).

2.4.12    Airway dan Breathing (Ventilasi)
Perubaan yang terjadi pada alur Bantuan idup Dasar ini sesuai dengan panduan American Heart Association mengenai Bantuan Hidup Jantung Dasar, bahwa penderita yang mengalami henti jantung umumnya memiliki penyebab primer gangguan jantung, sehingga kompresi secepatnya harus dilakukan daripada menghabiskan waktu untuk mencari sumbatan benda asing pada jalan napas.
Sesudah melakukan tindakan kompresi sebanyak 30 kali maka dilanjutkan dengan pemberian bantuan napas sebanyak 2 kali yang diawali dengan membuka jalan napas. Posisi penderita saat diberikan bantuan napas tetap terlentang. Jika mungkin dengan dasar yang keras dan datar dengan posisi penolong tetap berada di samping penderita. Hal yang diperhatikan dalam ventilasi :
·         Napas bantuan 2 kali dalam waktu 1 detik setiap hembusan.
·         Berikan bantuan napas sesuai dengan kapasitas volume tidal yang cukup untuk memperlihatkan pengangkatan dinding dada.
·         Berikan bantuan napas bersesuaian dengan kompresi dengan perbandingan 2 kali bantuan napas Sesudah 30 kali kompresi.

Buka Jalan Napas
Pada penderita yang tidak sadarkan diri, maka tonus otot-otot tubu akan melemah termasuk otot rahang dan leher. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan lidah dan epiglotis terjatuh ke belakang dan menyumbat jalan napas. Jalan napas dapat dibuka oleh penolong dengan metode :
1.      Head tilt chin lift maneuver (dorong kepala ke belakang sambil mengangkat dagu). Tindakan ini aman dilakukan bila penderita tidak dicurigai mengalami gangguan/trauma tulang leher.
2.      Bila penderita dicurigai mengalami gangguan/trauma leher, maka tindakan untuk membuka jalan napas dilakukan dengan cara menekan rahang bawah ke arah belakang/posterior (jaw thrust).

Sesudah dilakukan tindakan jalan napas, langkah selanjutnya adalah dengan pemberian napas bantuan. Tindakan pembersihan jalan napas, serta maneuver look, listen and feel (liat, dengar dan rasakan) tidak dikerjakan lagi, kecuali jika tindakan pemberian napas bantuan tidak menyebabkan paru terkembang secara baik.
Breathing (Ventilasi)
Tindakan memberikan napas bantuan dilakukan kepada penderita henti jantung Sesudah satu siklus kompresi selesai dilakukan (30 kali kompresi). Pemberian napas bantuan bisa dilakukan dengan metode :

1. Mulut ke Mulut
Metode pertolongan ini merupakan merupakan metode yang paling mudah dan cepat. Oksigen yang dipakai berasal dari udara yang dikeluarkan oleh penolong. Cara melakukan pertolongan adalah :
·         Mempertahankan posisi head tilt chin lift, yang dilanjutkan dengan menjepit hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan.
·         Buka sedikit mulut penderita, tarik napas panjang dan tempelkan rapat bibir penolong melingkari mulut penderita, kemudian hembuskan lambat, setiap tiupan selama 1 detik dan pastikan sampai dada terangkat.
·         Tetap pertahankan head tilt chin lift, lepaskan mulut pennolong dari mulut penderita, lihat apakah dada penderita turun waktu ekshalasi.

2. Mulut ke Hidung
Napas bantuan ini dilakukan bila pernapasan mulut ke mulut sulit dilakukan, misalnya karena trismus. Caranya adalah katupkan mulut penderita disertai chin lift, kemudian hembuskan udara seperti pernapasan mulut ke mulut. Buka mulut penderita waktu ekshalasi.

3. Mulut ke Sungkup
Penolong menghembuskan udara melalui sungkup yang diletakkan di atas dan melingkupi mulut dan hidung penderita. Sungkup ini terbuat dari plastik transparan, sehingga muntahan dan warna bibir penderita dapat terlihat. Cara melakukan pemberian napas mulut ke sungkup :
·         Letakkan sungkup pada muka penderita dan dipegang dengan kedua ibu jari.
·         Lakukan head tilt-chin lift / jaw thrust, tekan sungkup ke muka penderita dengan rapat, kemudian hembuskan udara melalui lubang sungkup ke muka penderita dengan rapat, kemudian hembuskan udara melalui lubang sungkup sampai dada terangkat.
·         Hentikan hembusan dan amati turunnya pergerakan dinding dada.

4. Dengan Kantung Pernapasan
Alat ini terdiri dari kantung yang berbentuk balon dan katup satu arah yang menempel pada sungkup muka. Volume kantung napas ini 1600 ml. Alat ini digunakan untuk pemberian napas bantuan dengan disambungkan ke sumber oksigen.
Bila alat tersebut disambungkan ke sumber oksigen, maka kecepatan aliran oksigen bisa sampai 12 L/menit (memberikan konsentrasi oksigen yang diinspirasi sebesar 74,0%). Penolong hanya memompa sekitar 400-600 ml (6-7 ml/kg) dalam 1 detik ke penderita. Bila tanpa oksigen dipompakan 10 mg/kg berat badan penderita dalam 1 detik. Caranya dengan menempatkan tangan untuk membuka jalan napas dan meletakkan sungkup menutupi muka dengan teknik E-C Clamp (bila seorang diri), yaitu jari-jari ketiga, keempat dan kelima membentuk huruf “E” dan diletakkan di bawah rahang bawah untuk mengekstensi dagu dan rahang bawah, ibu jari dan jari telnjuk penolong membentuk huruf “C” untuk mempertahankan sungkup di muka penderita. Tindakan ini akan mengangkat lidah dari belakang faring dan membuka jalan napas. Hal yang harus diperhatikan pada tindakan ini antara lain :
1.      Bila dengan 2 penolong, 1 penolong pada posisi di atas kepala penderita menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan untuk mencegah agar tidak terjadi kebocoran di sekitar sungkup dan mulut, jari-jari yang lain mengangkat rahang bawah dengan mengekstensikan kepala sambil melihat pergerakan dada. Penolong kedua secara perlahan memompa kantung sampai dada terangkat.
2.      Bila 1 penolong, degan ibu jari dan jari telunjuk melingkari pinggir sungkup dan jari-jari lainnya mengangkat rahang bawah (E-C Clamp), tangan yang lain memompa kantung napas sembari melihat dada terangkat.

2.5   Bantuan Hidup Jantung Dasar Pada Anak
2.5.1 Pendahuluan
Bantuan Hidup Jantung Dasar yang diberikan untuk anak dan bayi berbeda dengan yang dilakukan untuk orang dewasa.

2.5.2   Sebab-sebab Henti Jantung pada Anak
1.    Kegawatan napas yang tidak dikelola dengan benar.
2.    Akibat penyakit atau trauma.
3.    Masalah gangguan irama jantung primer jarang pada anak umur kurang dari 8 tahun.

2.5.3   Tahapan-tahapan Bantuan Hidup Jantung Dasar pada Anak
Secara garis besar, prinsip pertolongan Bantuan Hidup Jantung Dasar baik dewasa atau anak harus dikerjakan secara berurutan. Namun yang sangat perlu diperhatikan mengenai cara pemberian Bantuan Hidup Jantung Dasar adalah jumlah penolong dan adanya usaha napas atau tidak. Untuk anak usia >8tahun, pertolongan sama dengan dewasa.
2.5.4   Penilaian Respons
Penilaian respons pada anak dilakukan Sesudah penolong yakin bahwa tindakan yang akan dilakyukan bersifat aman bagi penolong dan anak yang ditolong. Pertama kali yang diperiksa adalah apakah penderita tersebut memberikan respon terhadap rangsang dengan memanggil dan menepuk atau menggoyangkan penderita sambil memperhatikan apakah ada tanda-tanda trauma pada anak tersebut.
2.5.5.      Mengaktifkan Sistem Gawat Darurat
Bila penderita tidak memberikan respons dan penolong lebih dari satu orang, minta tolong kepada orang terdekat untuk menelpon system gawat darurat dan mengambil AED. Bila penolong seorang diri dan henti hantung disaksikan/mendadak baru terjadi, segera aktifkan system gawat darurat dan ambil AED bila tersedia. Bila penolong seorang diri dan hentik jantung tidak disaksikan, lakukan RJP selama 2 menit lalu aktifkan system gawat darudat dan ambil AED.
https://ibnurrasyid.files.wordpress.com/2010/11/health-care-provider-bls.png
 
















Gambar 6. Alur Bantuan Hidup Jantung Dasar pada Anak ( Dikutip dari AHA Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation)
2.5.6        Kompresi Jantung (Circulation)
Pemeriksaan denyut nadi pada bayi dan anak sebelum melakukan komresi adalah yal yang tidak mudah. Pemeriksaan pada arteri besar pada bayi tidak dilakukan pada arteri karotis, melainkan pada arteri brakialis atau arteri femoralis. Sedangkan untuk anak berumur lebih dari satu tahun dapat dilakukan mirip pada orang dewasa.
https://tiure.files.wordpress.com/2011/11/5.jpg
http://circ.ahajournals.org/content/vol102/issue90001/images/large/hc33t0076010.jpeg
 











Gambar 7. Pemeriksaan Sirkulasi pada Anak dan Bayi
Kompresi dilakukan segera pada anak dan bayi yang tidak sadarkan diri, tidak ada denyut nadi serta tidak bernafas. Yang menjadi perbedaan dalam melaksanakan kompresi adalah teknik kompresi pada bayi yang menggunakan teknik kompresi 2 jari atau 2 ibu jari, sedangkan anak berumur kurang dari 8 tahun teknik satu tangan.
https://samoke2012.files.wordpress.com/2012/10/neonatus-4.jpg,https://silahuddinm.files.wordpress.com/2013/03/unduhan.jpg,http://doctormums.com/wp-content/uploads/2015/04/gr5.jpg
 









Gambar 8. Kompresi pada Bayi dan Anak

2.5.7        Kompresi Dada pada Anak Umur 1-8 tahun
1.    Letakkan tumit satu tangan pada setengah bawah strnum, hindarkan jari-jari pada tulang iga anak.
2.    Menekan sternum sekitar 5cm dengan kecepatan minimal 100 kali per menit.
3.    Sesudah 30 kali kompresi, buka jalan napas dan berikan 2 kali napas bantuan sampai dada terangkat (1 penolong).
4.    Kompresi dan napas bantuan dengan rasio 15:2 (2 penolong).

2.5.8        Kompresi Dada pada Bayi
1.    Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah bawah sternum; lebar 1 jari berada di bawah garis intermammari.
2.    Menekan sternum sekitar 4cm kemudian angkat tanpa melepas jari dari sternum dengan kecepatan minimal 100 kali per menit.
3.    Sesudah 30 kali kompresi, buka jalan napas dan berikan 2 kali napas bantuan sampai dada terangkat (1 penolong).
4.    Kompresi dan napas bantuan dengan rasio 15:2 (2 penolong).

2.5.9        Airway dan Breathing (Ventilasi)
Sesudah melakukan 30 kompresi (untuk 1 penolong) atau 15 kompresi (untuk 2 penolong), maka diberikan 2 napas bantuan. Teknik pemberian napas bantuan pada anak serupa dengan teknik pada dewasa. Namun harus diperhatikan pemberian volume pernapasan tidak berlebihan jika memberikan bantuan napas dengan kantong pernapasan untuk mecegah pneumotoraks.

2.5.10    Posisi Mantap pada Anak dan Bayi
Jika bayi atau anak sudah kembali ke dalam sirkulasi spontan (ROSC = Return of Spontaneous Circulation), maka bayi atau anak tersebut dibatingkan ke dalam posisi mantap.
http://pediatrics.aappublications.org/content/117/5/e989/F3.large.jpg
http://www.thebabywebsite.com/articleaddimage/recoveryposition.jpg
 







Gambar 9. Posisi Mantap pada Bayi dan Anak

Untuk anak berumur 1-8 tahun, posisi mantap yang dilakukan serupa dengan dewasa. Untuk bayi, langkah yang dilakukan adalah :
1.         Gendong bayi di lengan penolong sambil menyangga perut dan dada bayi dengan kepala bayi terletak lebih rendah.
2.         Usahakan tidak menutupi mulut dan hidung bayi
3.         Monitor dan rekam tanda vital, kadar respons, denyut nadi dan pernapasan sampai pertolongan medis datang.

2.6 Pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan isinya termasuk manusia dan kehidupannya. Pengetahuan juga merupakan hasil dari tahu yang terjadi Sesudah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu dan pengetahuan hanya akan terwujud jika manusia tersebut adalah bagian dari objek itu sendiri. Penginderaan tersebut terjadi melalui panca indera manusia yang nantinya akan berperan penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1)    Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai memanggil (recall) memori yang telah ada sebelumnya Sesudah mengamati sesuatu. Sehingga tahu merupakan tahap paling rendah dari pengetahuan.
2)    Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menginterpretasikan secara benar suatu objek tertentu. Orang yang memahami suatu objek dapat menjelaskan, menyebutkan, dan menyimpulkan objek yang telah dipelajari.
3)    Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Sesudah memahami suatu proses, juga harus dapat membuat perencanaan untuk melaksanakan proses tersebut.
4)    Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan dan memisahkan suatu komponen, kemudian mencari hubungan antar komponen terkait.
5)    Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau merangkum satu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada sebelumnya.
6)    Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuaan untuk melakukan penilaian terhadap objek. Penilaian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma yang berlaku di masyarakat.
Tingkat pengetahuan dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif sebagai berikut:
1)   Baik     : Hasil presentase 76%-100%
2)   Cukup : Hasil presentase 56%-75%
3)   Kurang            : Hasil presentase kurang dari 56%

2.7 Sikap
Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial atau secara sederhana. Sikap merupakan respon terhadap stimulasi sosial yang telah terkondisikan.
Sikap merupakan kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (ravorably) atau secara negatif (untavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. Ahli psikologi W.J Thomas yang dikutip oleh Notoadmodjo memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif yang berhubungan dengan obyek psikologi.
Dalam teori Allport tahun 1954 yang dikutip oleh Notoadmodjo, menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 4 komponen pokok yaitu kepercayaan, ide dan konsep terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek serta kecenderungan untuk bertindak. Keempat komponen ini akan membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan sikap ini, pengetahuan memegang peranan penting.
          Adapun tingkatan sikap yaitu:
1)      Menerima (receiving)
  Menerima diartikan bahwa subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.
2)      Menanggapi (responding)
Memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang diberikan.
3)      Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus seperti membahas dengan orang lain, mengajak atau menganjurkan orang lain merespon.
4)      Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko. Merupakan sikap yang paling tinggi.
Tingkatan sikap dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala likert, yaitu untuk pernyataan favourable bila menjawab:
1)                      Sangat setuju          : nilai 5
2)      Setuju                      : nilai 4
3)      Ragu-ragu               : nilai 3
4)      Tidak setuju            : nilai 2
5)      Sangat tidak setuju : nilai 1
Sedangkan pernyataan unfavourable bila menjawab:
1)      Sangat tidak setuju : nilai 5
2)      Tidak setuju            : nilai 4
3)      Ragu-ragu               : nilai 3
4)      Tidak setuju            : nilai 2
5)      Setuju                      : nilai 1
2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan dan Sikap
Dalam teori Lawrence dan Green yang dikutip oleh Notoadmodjo, perilaku manusia dianalisis dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan oleh 3 faktor, yaitu :
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya.
2)    Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam fasilitas atau sarana, peralatan medis dan nonmedis.
3)    Faktor-faktor pendorong (renforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap seseorang dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain intelegensia, pendidikan, pengalaman, usia, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat ekonomi, sosial budaya dan informasi.
1)   Intelegensia
Intelegensia merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu. Tingkat intelegensia mempengaruhi seseorang dalam menerima suatu informasi. Orang yang memiliki intelegensia tinggi akan mudah menerima suatu pesan maupun informasi.
2)   Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi tentang kesehatan yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.
3)   Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Misalnya seorang ibu yang berpengalaman tentang suatu penyakit yang diderita anaknya akan lebih mendalami penyakit tersebut sehingga di masa yang akan datang apabila kasus serupa terjadi lagi mendapat penanganan yang tepat.  
4)   Usia
Usia dapat mempengaruhi seseorang, semakin cukup umur maka tingkat kemampuan, kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan menerima informasi. Akan tetapi faktor ini tidak mutlak sebagai tolak ukur misalnya seorang yang berumur lebih tua belum tentu memiliki pengetahuan lebih baik mengenai demam berdarah dibandingkan dengan seseorang yang lebih muda.
5)   Tempat tinggal
Tempat tinggal adalah tempat menetap responden sehari-hari. Seseorang yang tinggal di daerah endemis demam berdarah lebih sering menemukan kasus demam berdarah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, sehingga masyarakat di daerah tersebut seharusnya memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah non endemis. Hal ini juga berhubungan dengan informasi yang didapat seseorang di daerah endemis demam berdarah akan lebih sering mendapatkan penyuluhan kesehatan bila dibandingkan dengan daerah non endemis.
6)   Pekerjaan
Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi dan menunjang kebutuhan hidup. Tujuannya adalah mencari nafkah. Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung dan tidak langsung. Misalnya individu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan mempunyai pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang bekerja di luar bidang kesehatan.
7)   Tingkat Ekonomi
Tingkat ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Individu yang berasal dan keluarga yang berstatus sosial ekonominya baik dimungkinkan lebih memiliki pengetahuan lebih baik karena mudah mengakses berbagai informasi yang berasal dari keluarga berstatus ekonomi rendah.
8)   Sosial Budaya
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Sosial termasuk pandangan agama, kelompok etnis dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap khususnya dalam penerapan nilai-nilai keagamaan untuk memperkuat kepribadiannya. Misalnya orang yang berasal dari suku tertentu memiliki kecenderungan untuk bersikap lebih peduli atau acuh.
9)   Informasi dan Media Massa
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, termasuk peyuluhan kesehatan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan pengetahuan seseorang. Semakin banyak seseorang menerima informasi mengenai suatu penyakit maka pengetahuannya mengenai penyakit tersebut pun akan meningkat.
2.9 Skor Knowledge and Attitude
Dalam perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru dibutuhkan 3 komponen yaitu pengetahuan (knowledge), sikap (attitude). Cara memperoleh data tentang pengetahuan dan sikap cukup dilakukan dengan wawancara, baik terstruktur maupun mendalam.


BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS



3.1 Kerangka Teori













Gambar 10. Kerangka teori











3.2 Kerangka Konsep
 














Gambar 11. Kerangka Konsep
3.3 Hipotesis
3.3.1 Hipotesis Mayor
            Pemberian materi tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung berpengaruh terhadap  tingkat pengetahuan dan sikap perawat dalam menangani pasien.
3.3.2 Hipotesis Minor
Tingkat pengetahuan dan sikap perawat sesudah mendapat materi tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung lebih tinggi daripada sebelum mendapat materi.


BAB 4
METODE PENELITIAN



4.1    Ruang Lingkup Penelitian
     Ilmu Kardiologi.
4.2    Tempat dan Waktu Penelitian
Di Puskesmas Malili, Kecamatan Puncak Indah, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Waktu penelitian dilakukan sejak Bulan Mei 2015 sampai Juni 2015.
4.3    Jenis dan Rancangan Penelitian
     Penelitian intervensional dengan rancangan pra-experimental one group pre and post test design.

 




Gambar 12. Rancangan Penelitian
4.4    Populasi dan Sampel
4.4.1        Populasi Target
Seluruh perawat.
4.4.2        Populasi Terjangkau
Perawat Puskesmas Malili pada periode penelitian.       
4.4.3        Sampel
Perawat Puskesmas Malili pada periode penelitian yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
4.4.3.1  Kriteria Inklusi
1)      Perawat yang bersedia mengikuti penelitian.
4.4.3.2  Kriteria Eksklusi
1)      Tidak hadir pada saat proses penelitan
4.4.4        Cara Sampling
Cara pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil semua sampel consecutive sampling.
4.4.5        Besar Sampel
Perhitungan besar sampel dilakukan dengan rumus besar sampel untuk uji hipotesis.  Berdasarkan perhitungan di atas minimal dibutuhkan 27 subyek penelitian.
4.5    Variabel Penelitian
4.5.1        Variabel Bebas
Pemberian materi tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung.
4.5.2        Variabel Terikat
Tingkat pengetahuan dan sikap perawat dalam Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung.
4.5.3        Variabel Perancu
1)      Tingkat ekonomi
2)      Pengalaman mengikuti Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung
3)      Usia.
4.6    Definisi Operasional
Tabel 2. Definisi Operasional
No

Variabel
Unit
Skala

1.
Pemberian materin tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar Jantung
Kegiatan pendidikan kesehatan meliputi definisi, cara pengenalan kegawatdaruratan jantung dan tatalaksananya. Metode penyuluhan yang digunakan adalah penyuluhan langsung menggunakan media powerpoint dimana pemberi materi adalah peneliti dan sasaran adalah perawat di Puskesmas Malili.
Pengaruh pemberian materi dilihat dari perbedaan skor total jawaban kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan.
Penilaian Penyuluhan kesehatan tersebut dikategorikan sebagai berikut
a.       Sebelum penyuluhan
b.      Sesudah penyuluhan
-
Nominal

2.
Skor Pengetahuan dan Sikap
Skor Pengetahuan dan Sikap diperoleh dari penjumlahan skor knowledge and attitude.
Rentang total Skor Pengetahuan dan Sikap adalah 15-100
Kategori baik     : 76-100
Kategori sedang : 56-75
Kategori buruk   : <56
-
Ordinal


Skor Knowledge (pengetahuan)
Pengetahuan perawat dalam Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung. Segala hal yang diketahui tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung. Pengetahuan tersebut meliputi gejala dan tanda, serta tatalaksananya.
Skor ini diperoleh memiliki rentang nilai 0-25, dan dibagi menjadi 3 kategori.
a. Kategori baik (76-100%)     : 19-25
b.Kategori cukup (56%–75%) : 14-18
c. Kategori kurang  (<56%)     : 0-13




Skor Attitude (sikap)
Sikap dalam Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung adalah kesediaan untuk bereaksi secara positif, netral atau negatif terhadap penanganan kegawatdaruratan jantung.
Setiap pertanyaan diberi skor berdasarkan kriteria Likert.27
Untuk pernyataan favourable bila menjawab:
Sangat setuju          : nilai 5
Setuju                      : nilai 4
Ragu-ragu               : nilai 3
Tidak setuju            : nilai 2
Sangat tidak setuju : nilai 1

Sedangkan pernyataan unfavourable bila menjawab
Sangat tidak setuju : nilai 5
Tidak setuju            : nilai 4
Ragu-ragu               : nilai 3
Tidak setuju            : nilai 2
Setuju                      : nilai 1
Skor ini diperoleh memiliki rentang nilai 15-75, dan dibagi menjadi 3 kategori
a. Sikap positif   : 55-75
b. Sikap netral    : 35-54
c. Sikap negatif  : 15-34



3.
Pengalaman mengikuti BCLS
Diketahui dari hasil wawancara dengan menjawab:
a. Ya : bila sudah pernah.
b.Tidak : bila belum pernah.
-
Nominal

4
Usia perawat
Diketahui dari hasil wawancara karakteristik responden  dalam kuisioner. Usia dikategorikan sebagai berikut berdasarkan penelitian sebelumnya12:
a.                   < 20
b.                  20-30
c.                   31-40
d.                  >40
Tahun
Rasio

5
Tingkat ekonomi yang dimaksud merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu bulan. Tingkat ekonomi dihitung dari pendapatan kepala keluarga dan dikategorikan berdasarkan UMK Kota Semarang yang berlaku mulai 1 Januari 2012.39 Jumlah pendapatan yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan dinilai melalui wawancara dengan responden.
a. Kategori tinggi    : > Rp 2.000.000,-
b. Kategori rendah : ≤ Rp 2.000.000,-
Rupiah
Nominal


4.7 Cara Pengambilan Data
4.7.1 Bahan
Materi pemberian materi yang berisi pengertian, gejala dan tanda,  penatalaksanaan kegawatdaruratan jantung.
4.7.2 Alat
Powerpoint dan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan metode expert validity. Kuesioner dikonsultasikan kepada 3 ahli yang berkompeten (expert validity). Masing-masing item diberi nilai +1 apabila setuju, +0 apabila ragu-ragu, dan -1 apabila tidak setuju. Item pertanyaan dimasukkan ke dalam daftar kuisioner apabila rata-rata penilaian  ≥ 0,5. Sedangkan untuk reliabilitasnya menggunakan uji reliabilitas Cronbach alpha.
4.7.3 Jenis Data
Data yang diambil merupakan data primer. Data primer yang dikumpulkan adalah data karakteristik responden dan data mengenai pengetahuan dan sikap perawat dalam Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung.
4.7.4 Cara Kerja
Penentuan wilayah penelitian ditentukan berdasarkan lokasi pelaksanaan internship, yaitu di Puskesmas Malili, Kecamatan Puncak Indah, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan tahun 2015. Sesudah wilayah penelitian ditentukan, sampel penelitian adalah perawat Puskesmas Malili yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan peneliti dengan cara membuat kelompok seminar berisi ± 50 orang perawat. Subjek yang bersedia mengikuti penelitian dibuktikan dengan menandatangani informed consent. Kemudian perawat diberi kuesioner sebagai pretest, selanjutnya diberikan pemberian materi tentang Bantuan Hidup Jantung Dasar jantung dengan metode ceramah Sesudah pretest. Penyuluhan kesehatan disajikan dalam bentuk lembar balik (leaflet). Sesudah 5 hari dilakukan posttest. Kemudian  dilakukan analisis data.
4.8 
Perawat yang  dikumpulkan bersedia mengikuti penelitian dibuktikan dengan menandatangani informed consent
 
Alur Penelitian

 











Gambar 13. Alur Penelitian
4.9  Analisis Data
Pada data yang terkumpul sebelum dianalisis dilakukan cleaning, editing, coding, tabulating, dan entry data.
Analisis data meliputi analisis deskriptif dan uji hipotesis. Pada analisis deskriptif ada yang berskala kategorial dinyatakan sebagai distribusi frekuensi dan persentase. Sedangkan data yang berskala kontinyu dinyatakan sebagai rerata dan simpang baku atau median apabila terdistribusi tidak normal. Uji normalitas distribusi data dilakukan dengan uji Saphiro Wilk.
Uji hipotesis untuk mencari hubungan pretest, dan posttest 5 hari dianalisis dengan uji T tidak berpasangan karena berdistribusi tidak normal.
 Nilai P dianggap bermakna apabila p<0,05.  Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer.
4.10    Etika Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan protokol penelitian dimintakan persetujuan dari Kepala Puskesmas Malili. Calon subyek penelitian diberi penjelasan mengenai maksud, tujuan, dan manfaat penelitian. Subyek yang bersedia ikut serta dalam penelitian diminta untuk menandatangani informed consent. Subyek berhak menolak untuk diikutsertakan tanpa ada konsekuensi apapun. Subyek juga berhak untuk keluar dari penelitian sesuai dengan keinginan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar