Kamis, 15 Desember 2016

Menjadi Ibu Sesungguhnya

"oeaaaa oeaaaa...." begitu kira-kira suara lengkingan tangis bayi yang sayup saya dengar karena dalam kelelahan setelah proses melahirkan panjang 3x24 jam.

Masih samar saya melihat dokter kandungan yang sudah setengah baya tersenyum lega mencium saya sembari memberikan ucapan selamat "selamat ya dek akhirnya bayinya bisa lahir normal, sehat dan selamat." Kemudian beliau terlarut lagi dengan dentingan suara ini itu untuk memulai proses penjahitan karena saya harus di episiotomi atau dilakukan pengguntingan pada dinding jalan lahir agar memudahkan proses pengeluaran bayi.

Disusul oleh bidan muda yang dengan cekatan meletakkan bayi mungil diatas dada saya dalam posisi telungkup setelah melakukan tata laksana bayi baru lahir bersama dokter anak yang juga masih muda untuk dilakukan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD), "ini ya bu anaknya, IMD dulu", katanya.

Entah perasaan dan pikiran apa yang ada saat itu, semua jadi satu. Lelah, lega, bahagia, sedih, sakit, haru, bercampur aduk hingga tidak ada satu katapun yang bisa saya ucap selain tetesan air mata.

Anak perempuan yang dulu begitu polah dengan banyak kegiatan. Anak perempuan yang sama sekali tidak terbayang menjadi istri sekaligus Ibu di usia muda. Kini di atas dadanya (read: saya) tergolek bayi mungil yang dengan penuh semangat menggeliat demi menjemput rejeki pertama nya dari Sang Pencipta melalui puting susu. Kini anak perempuan itu telah menjadi Ibu, ya Ibu sesungguhnya ...

Melewati proses persalinan yang cukup melelahkan memutar kembali memori di kepala saya tentang banyak Ibu yang proses persalinannya telah saya saksikan, saya bantu bahkan saya lakukan sendiri. Ternyata mudahnya memberikan istruksi berbanding terbalik dengan usaha yang harus dilakukan si Ibu yang harus dengan "tenang" menghadapi rasa sakit yang teramat sangat. Padahal saya dengan mudahnya memberikan aba-aba "ayo bu, tenang yaa, tarik nafas panjang, jangan dulu ngeden ya bu...." dan sebagainya.
But, now... I know that feel... Bahkan teknik hypnobearthing yang sudah saya pelajari jauh sebelum proses ini, entah kemana perginya...

Hari-hari pertama menjadi Ibu adalah sebuah perjuangan versi lain. Saya yang notabene orang medis harus dihadapkan pada mitos pasca persalinan yang masih sangat kental. Begitu juga dengan mitos merawat bayi baru lahir yang masih sangat lekat. Dan "lawan" saya adalah orang tua dan orang terdekat saya sendiri :)

Sempat mengalami baby blues yang lumayan "ringan" tidak membuat saya sampai tega menelantarkan anak bayi kebanggaan saya. Saya harus bisa bertahan, begitu saya membatin. Toh meski dengan "cara nenek" si anak akan tetap tumbuh tetapi tidak ada salahnya memperbaiki banyak hal yang sebatas mitos kan ? Mungkin egois, tapi saya ingin anak saya dibesarkan dengan cara-cara yang baik dan "benar", bukan sekedar "tumbuh besar".

Kini bayi mungil saya telah berusia 4 bulan dengan segudang keistimewaannya, karena setiap bayi dilahirkan istimewa, bukan ?

Perasaan campur aduk masih mengisi hari-hari saya, dan kini ditambah dengan kebanggaan. Kebanggaan karena memiliki anak luar biasa dengan tumbuh kembang yang luar biasa. Kebanggaan karena akhirnya bisa mengalahkan banyak mitos yang ada.

Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

0 komentar:

Posting Komentar