Minggu, 13 November 2016

Proses Ke-Tiga Dalam Hidup

Menjadi seorang anak adalah proses pertama dalam kehidupan manusia. Kita semua (sudah pasti) terlahir dari rahim seorang Ibu dan menjadi bagian hidup dari seorang Ayah.

Menjalani hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan tahun berganti puluhan tahun sebagai anak dari orang tua yang entah bagaimanapun keadaannya adalah orang tua terbaik sepanjang masa.

Menjadi anak yang entah bagaimanapun bentuknya tetapi selalu ingin menjadi kebanggaan orang tuanya.

Menjadi anak adalah proses seumur hidup, begitu juga proses-proses setelahnya.

Meski sudah puluhan tahun tetapi belumlah selesai (read: tidak akan pernah selesai) bakti kita kepada orang tua, lalu (kebanyakan) kita sudah melangkah lebih jauh lagi pada proses kedua yaitu menikah.

Menjadi pasangan bagi orang yang (semoga) kita cintai dunia akhiratnya.

Menjadi pelengkap bagi pasangan (semoga) dalam suka dan dukanya.

(Sama-sama) menjadi pembimbing yang (semoga) membawa kita ke dalan ridha Allah SWT lalu mencapai kebahagiaan hakiki di surga-Nya

Cepat atau lambat, setelah menikah beberapa (insyaAllah) akan memasuki proses ketiga dalam kehidupan ini yaitu menjadi orang tua, menjadi Ibu atau ayah dari seorang, dua orang ataupun banyak anak.

Menjadi orang tua adalah sebuah berkah juga ujian. Menjadi berkah karena banyak sekali pasangan yang ingin merasakan memiliki anak namun belum berkesempatan. Menjadi ujian karena dititipi mahluk luar biasa yang wajib dijaga, dibimbing dan dibesarkan.

Kini (alhamdulilah) saya tengah menjalani proses ketiga ini dengan berbahagia penuh suka cita dan bersemangat.

Meski masih seumur jagung tetapi rasanya banyak sekali rasa yang sudah tercurah, pikiran yang sudah terpakai, dan pengalaman baru yang sudah didapatkan -lalu membayangkan bagaimana usaha yang sudah dilakukan oleh papa dan mama, masyaAllah-. Semoga Allah SWT membalas dengan beratus-ratus triliun miliar juta (pokonya berkalikali lipat lah :p) kebaikan bagi kedua pahlawan saya itu, karena sepanjang hayat tidak mampu saya membalas segala yang sudah mereka perjuangkan bagi saya :")

Perlahan,

Saya mulai memahami bahwa menjadi orang tua sama sekali bukan perkara mudah dan remeh temeh. Butuh banyak ilmu serta kesiapan lahir dan bathin untuk menjalani tiap detiknya. Itu kenapa sebaiknya kehamilan dan cita-cita memiliki anak terencana dengan baik. Karena peran menjadi orang tua bukan dimulai sejak anak dilahirkan tetapi jauh sejak masa kehamilan.

Saya mulai menyadari bahwa menjadi orang tua adalah proses pembelajaran seumur hidup dan proses pembelajaran paling dinamis yang tidak pernah bisa disamakan antar satu orang tua dengan orang tua yang lain. Karena anak itu unik, sama sekali bukan miniatur dewasa.

Saya mulai mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu yang kasihnya (katanya) sepanjang masa, yang selalu memberi dan tak harap kembali, yang selalu disamakan dengan mentari -tetiba keinget lagu jaman kecil judulnya Kasih Ibu- and all of that mites are really true !!!

Saya mulai mempelajari hal-hal kecil yang dulu pernah saya anggap sepele tapi ternyata rumit. Mulai dari memberi ASI, memberi stimulus, memberi makanan bagi anak dan banyak hal lagi yang tidak pernah diajari dibangku sekolah -bahkan bagi saya yang seorang dokter-. 

Merasa diri ini kerdil sekali, karena banyak hal di dunia anak dan parenting yang belum saya ketahui. Merasa diri ini kerdil sekali, karena banyak tantangan sulit (ternyata) dalam membesarkan anak, dan ilmu serta kesabaran saya masih jauh dari kata baik.

Kini saya adalah seorang Ibu dari anak laki-laki pertama, yang akan saya jadikan sebagai bahan pembelajaran seumur hidup, bahan percobaan bahkan mungkin penelitian dan praktek dari semua ilmu yang sedang dan akan (selalu) saya pelajari.

Kini saya adalah seorang Ibu dari anak laki-laki yang (insyallah) akan menjadi anak yang saya banggakan dunia dan akhiratnya...

Kini saya adalah seorang Ibu dari anak laki-laki yang (insyallah) akan saya didik dengan penuh cinta kasih bertubi-tubi yang bisa saya berikan.

Kini saya adalah seorang Ibu dari anak laki-laki yang dari namanya menggambarkan betapa saya (dan suami) mencintainya karena penuh dengan doa-doa baik agar menjadi anak yang selalu beruntung dan terbimbing dari golongan bangsawan yaitu Ahza Rasyid El Aria...

Bismillah ya Allah bimbing saya dan suami agar selalu bisa berbenah diri detik demi detik agar mampu mengemban amanah seumur hidup ini.

Bismillah ya Allah bimbing saya dan suami agar selalu bisa memberikan segala yang terbaik bagi dunia dan akhirat anak-anak kami.

Bismillah ya Allah berikan kemudahan kepada kami dalam mengambil, menyerap dan mengamalkan ilmu sebagai orang tua serta jadikan ini menjadi salah satu ladang ibadah kami yang dapat membawa kami ke surga-Mu

Bismillah ya Allah :)


Posted on by Astri Sulastri Prasasti | No comments

0 komentar:

Posting Komentar