Selasa, 08 Februari 2011

Hakikat dan Pandangan Islam terhadap Ilmu

Oleh Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Yogyakarta


Dalam islam menuntut ilmu adalah suatu kewajiban seumur hidup yang harus selalu dijalankan. Manusia dianugerahi Allah dengan fitrah untuk selalu mencari kebenaran. Untuk selalu berpikir karena rasa ingin tahu manusia yang tidak terbatas. Atas dasar itulah manusia menuntut ilmu. Ilmu merupakan hasil akhir dari proses panjang manusia dalam mencari kebenaran. Proses pencarian tersebut pada dasarnya melewati tiga tahap yaitu, dengan akal melalui ilmu pengetahuan, filsafat dan agama. Ketika manusia hanya mengandalkan akalnya pencarian kebenaran manusia akan terhenti pada suatu titik, karena ada sangat banyak hal yang belum bisa dijangkau oleh akal karena keterbatasannya. Misalnya manusa telah mampu mempelajari berbagai benda hidup dan benda mati yang ada di sekitarnya namun ketika muncul pertanyaan apa tujuan dari pencipataan itu, manusia akan mengalami kerancuan dalam menjawab. Sedangkan apabila manusia hanya mengandalkan filsafat dalam pencarian ilmu, manusia akan tetap menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab begitu saja, misalnya mengapa batu, tanah , dan benda mati lainnya tidak hidup saja seperti adanya manusia. Untuk itulah diperlukan agama untuk menyelesaikannya. Agama berguna untuk meluruskan keyakinan mengenai pencarian kebenaran dan penyelesaian atas semua masalah yang ada. Kebenaran pada dasarnya hanya milik Allah SWT, Allah menuangkannya kedalam Al quran sebagai pedoman hidup manusia, yang merupakan kebenaran mutlak karena berisi firman-firman Allah. Sebagaimana telah difirmankan dalam QS. Al Ankabut : 43

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami berikan untuk manusia, dan tiada memehaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Dari ayat ini kita tau bahwa hanya orang-orang yang berilmulah yang dapat mengerti dan memahami semua perumpamaan yang diberikan Allah dalam Alquran maupun alam semesta. Al quran dan alam semesta ini kemudian dikenal sebagai dua sumber ilmu. Ilmu yang berasal dari Alquran disebut dengan ilmu Kauliyah, sedangkan ilmu yang ada dalam alam semesta disebut ilmu Kauniyah. Sesungguhnya ilmu Kauliyah mencangkup juga ilmu Kauniyah karena dalam Al quran dijelaskan juga bagaimana proses penciptaan alam semesta dan berbagai kejadian di alam, Alquran merupakan pembukuan segenap alam semesta. Sama seperti ilmu Kauliyah, ilmu Kauniyah juga secara tersurat menjelaskan ilmu-ilmu Kauliyah yang ada, dengan memberikan bukti-bukti yang nyata atas semua kejadian yang dijelaskan dalam Al quran. Sehingga bisa dibilang ilmu Kauliyah dan Kauniyah saling menafsirkan. Itulah sebabnya tidak ada dikotomi antara ilmu Kauliyah adan ilmu Kauniyah, karena keduanya berjalan beriringan saling melengkapi. Seperti kata Albert Eistein ilmu tanpa agama akan picang. Sebagi bukti bahwa dalam ilmu Kauliyah berisi juga penjelasan ilmu Kauiniyah ada dalam QS Albaqarah : 164

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, lalu dengan air iru Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angina dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkannya.”

Esensi ilmu yang sesungguhnya adalah apabila kita telah mampu untuk mengaitkan ilmu kauliyah dengan ilmu kauniyah sehingga kebenaran dan keesaan Allah akan semakin tampak sehingga dapat menambah keimanan serta ketakwaan kita kepada Allah sang Pemilik Ilmu. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang akan tampak pada diri pemiliknya yaitu berupa cahaya di wajahnya, rasa takut dalam hatinya dan keisriqamahan dalam tingkah lakuknya serta jujur kepada Allah, manusia lain dan dirinya sendiri. Sehingga kita akan memperoleh tujuan ilmu yang sesungguhnya yaitu untuk beribadah kepada Allah. Manusia dan semua mahluk Allah diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah (QS). Menuntut ilmu akan menjadi bukti ketakutan kita kepada Allah. Hal itu karena dengan menuntut ilmu kita akan tau tentang Allah dan kedudukan kita sebagai mahluknya, dengan mengetahua tentang pencipta dan hakikat penciptaan, sejatinya kita akan mengimani dan dengan iman itulah akhirnya muncul ketakwaan sebagai bukti ketakutan kita kepada Allah, sepeti termaktub dalam QS Al Fatiir : 28

“ Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya ini adalah orang-orang yang berilmu”

Manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu sepanjang hayat selama kita masih bernafas. Itu karena ilmu sangat penting bagi kehidupan. Dengan ilmu manusia akan bisa menerjemahkan, memahami dan meneliti serta dapat mengetahui yang benar dan salah, haram dan halal, wajib dan sunat. Tanpa ilmu manusia akan kehilangan arah, manusia tidak akan memiliki pedoman dan takaran dalam bertindak. Manfaat ilmu dalam hidup ini tidak lain untuk menopang kehidupan kita di dunia dan akhirat. Kembali lagi pada hakikat penciptaan manusia di muka bumi ini yaitu untuk beribadah, dan ilmu yang hanya bisa diperoleh dengan belajar merupakan salah satu wujud ibadah kepada Allah. Dalam islam menuntut ilmu disamakan dengan jihad fisabililah karena sama-sama menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Orang yang menuntut ilmu karena Allah kemudian mengamalkannya maka ia telah menegakan agama Allah. Menuntut ilmu merupakan bukti ketakutan kita yang telah dijelaskan diatas. Menuntut ilmu juga merupakan bukti syukur kita kepada Allah atas anugerah akal pikiran yang telah diberikan kepada manusia. Akal pikiran yang membuat manusia diberi tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi, akal pikiran yang membuat manusia menjadi mahluk paling sempurna, yang membedakan kita dari mahluk Allah lainnya. Sungguh , akal merupakan nikmat Allah yang wajib untuk disyukuri. Wujud syukur itu dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan akal dengan semaksimal mungkin yaitu dengan menuntut ilmu. Makin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seseorang, makin tinggi juga derajat orang tersebut di sisi Allah sepanjang ilmunya diamalkan untuk mencari keridhaan Allah, berilmu ilmiah dan beramal amaliah, dalam QS Al-Mujadalah : 11

“Maka, Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang yang diberi ilmu ke berbagai derajat”

hal yang sama dijelaskan dalam QS Thaahaa : 114

“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Dengan fakta dan penjelasan di atas tidak seharusnya ada pertanyaan mengapa kita harus belajar dengan giat khususnya bagi pelajar yang notabene dalam keseharian tugas utamanya adalah belajar. Ilmu sebagai pedoman hidup harus digali dan digali lagi karena ilmu bersifat dinamis. Selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Selama manusia hidup dan sepanjang manusia masih merasakan fitrahnya dalam mencari kebenaran dan memiliki rasa keingintahuan, ilmu akan selalu berkembang. Maka kita diharuskan untuk belajar dengan giat agar tidak tertinggal dengan perkembangan ilmu yang ada dan bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Belajar dengan giat harus ditopang dengan cara-cara belajar yang baik, dalam Tips Belajar Para Ulama, ada 13 etika belajar yang dapat dijalankan dalam kegiatan belajar kita sehari-hari agar ilmu yang didapatkan bermanfaat, yaitu :

1. Ikhlas; belajar dan bahkan semua kegiatan yang kita lakukan harus diniatkan untuk mencari ridha Allah.
2. Beramal dengan ilmu dan menjauhi maksiat; ilmu diberikan Allah dalam hati manusia dalam bentuk cahaya hidayah, bila hati kita telah terkotori dan menjadi gelap karena maksiat, maka tidak akan ada tempat untuk menerima ilmu. Beramal dengan ilmu maksudnya ialah mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari, hindari perkataan tanpa disertai amalan ilmu.
3. Tawadhuk (rendah hati); orang disebut berilmu apabila ia takut kepada Allah sehingga ia tidak menjadi sombong dan tetap rendah hati dengan ilmunya.
4. Menghormati ulama dan majelis; wujud penghormatan ini antara lain dengan tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan, tidak memperdebatkan hal yang akan membawa pada permusuhan dengan niat menjatuhkan ulama, tidak memperumit masalah dengan tujuan menguji ilmu si ulama dan tidak mencela ulama.
5. Sabar dalam menuntut ilmu; karena menuntut ilmu memerlukan usaha yang cukup besar sehingga butuh kesabaran yang besar pula.
6. Berlomba dalam menuntut ilmu; seseorang akan tetap memiliki ilmu selama dia belajar jika manusia berhenti untuk menuntut ilmu, ia termasuk orang yang bodoh. Berlomba dalam menuntut ilmu dapat diwujudkan dengan banyak bertanya sebagai kunci ilmu dengan catatan pertanyaan yang diajukan untuk menambah ilmu yang dimiliki dan antusias kepada buku-buku sebagai penolong dalam mencari ilmu. Buku diperlakukan bukan sebagai sumber ilmu karena dengan memperlakukan buku sebagai sumber ilmu akan memberi dampak kemalasan untuk bertanya kepada ulama dan akan menimbulkan pikiran sempit bahwa dari buku saja ilmu yang diperoleh sudah mencukupi.
7. Jujur dan amanah, ilmu merupakan amanah yang harus disampaikan dan kita harus jujur dalam penyempaian ilmu tersebut dengan tidak mengada-ada yang sebenarnya memang tidak ada.
8. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya, dalam menyebarkan ilmu kita harus mengetahui kapasitas si penerima dan teknik serta tingkatan ilmu yang kita berikan, agar ilmu tersebut bisa bermanfaat.
9. Zuhud, jangan condong pada dunia. Zuhud tidak berate meninggalkan dunia secara utuh karena justru di dunia ini banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
10. Mengoptimalkan waktu dengan mengoptimalkan masa muda, jangan menunda pekerjaan dan memeksimalkan waktu giat, yaitu saat pikiran kita jernih dan siap menerima ilmu pengetahuan, karena waktu tidak pernah bisa kembali.
11. Mendiskusikan ilmu agar tidak lupa, yang menghilangkan ilmu adalah lupa dan tidak pernah melakukan repetisi atau pengulangan.
12. Menjaga wibawa dan rasa malu, karena merupakan pakaian dan hiasan bagi ilmu. Orang yang berilmu akan terlihat dalam ucap dan perilakunya bila ilmu tersebut benar-benar telah diamalkan.
13. Pergaulan yang baik, yaitu dengan memilih lingkungan dan bersahabat dengan hal-hal yang dapat memberikan manfaat dunia dan akhirat.

Kejarlah ilmu hingga ke negei Cina, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. Dengan ilmu hidup akan lebih terarah, dengan ilmu hidup akan lebih mudah, dan dengan ilmu manusia akan dapat merasakan keindahan serta manfaat hidup itu sendiri. Ali bin Abu Thalib berkata : Ilmu memiliki banyak keutamaan, kepelanya adalah tawadhuk, matanya adalah berlepas diri dari sifat dengki, telinganya adalah pemahanman, lisannya adalah kejujuran, hafalan adalah muroja`ah. Hatinya adalah niat yang baik, akalnya adalah mengetahuai perkara yang wajib. Tangannya adalah rahmat, kakinya adalah mengunjungi para ulama, cita-citanya adalah keselamatan, hikmahnya adalah kewibawaan. Tempat tinggalnya adalah kejayaan, komandannya adalah sifat pemaaf. Kendaraannya adalah menepati janji, senjatanya kata-kata yang lembut, pedangnya adalah sifat ridha. Busurnya adalah sikap lunak. Tentaranya adalah dekat dengan ulama, hartanya adalah etika yang baik. Harta simpanannya adalah menjauhi dosa, bekalnya adalah kebaikan, airnya adalah kasih sayang, penunjuk jalannya hidayah dan sahabat karibnya adalah bergaul dengan orang-orang baik.

0 komentar:

Posting Komentar