Selasa, 08 Februari 2011

Human As The Lifelong Learner

Astri Sulastri Prasasti
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Tahun 2008



PENDAHULUAN

Dunia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Teknologi buatan manusia mewabah membawa perubahan besar pada semua ranah kehidupan. Pendidikan yang juga merupakan aset berharga yang dimiliki oleh manusia terus berkembang dan memunculkan paradigma baru dalam pentingnya menuntut ilmu. Waktu, pendidikan, pikiran manusia, teknologi, dan peradaban berjalan sejajar beriringan. Demikian juga aspeknya di dunia usaha kerja. Munculnya mesin-mesin dan robot otomatis membuat lapangan kerja yang dibutuhkan manusia semakin berkurang, padahal keharusan memiliki sebuah pegangan penghidupan semakin meningkat. Paradigma yang kini terjadi mempertegas kodrat dan kewajiban manusia untuk belajar atau human as the lifelong learner. Perdana Menteri Tony Blair (dalam Colin dan Malcolm, 2002) menyatakan :

Kita tidak boleh lupa bahwa pendidikan bukan hanya kejadian sekali saja bagi seseorang yang berumur dibawah 18 tahun. Konsensus baru harus didasarkan pada akses yang luas terhadap pendidikan tinggi dan peluang berkesinambungan bagi setiap orang dewasa untuk belajar.

Dalam Islam, kedudukan ilmu sangat tinggi. Kewajiban untuk menuntut ilmu didasarkan pada kodrat manusia untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT. Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk pengabdian paling nyata kepada Allah SWT. Dalam QS. Adz Dzariat : 56 disebutkan bahwa “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Maka jelas menjadi seorang lifelong learner bukanlah sebuah keharusan melainkan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Sama dengan kebutuhan primer lain manusia seperti makan dan minum. Tanpa ilmu yang berkembang, eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi akan terlibas zaman.


ISI

Dasar
Human as the lifelong learner mengandung konsep bahwa manusia selalu menjalani proses belajar selama hidup (lifelong learning), hingga manusia disebut sebagai mesin belajar. Proses belajar memberikan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan yang diperlukan untuk menjalani hidup. Dasar utama manusia menjalani fungsi sebagai mesin belajar yaitu adanya perubahan dan kodrat alami manusia. Perubahan terjadi sangat cepat meliputi seluruh aspek kehidupan mulai dari pola pikir manusia, kebutuhan, teknologi, tingkat ekonomi, bahkan peraturan dan gaya hidup masyarakat. Dengan adanya perubahan besar-besaran itu manusia dituntut untuk bisa mengikuti dan menyesuaikan diri. Lifelong learning adalah suatu sikap dan bentuk kebiasaan yang nantinya akan menentukan kesuksesan hidup setiap orang. Adanya perubahan ini merupakan tahap terbaik karena tidak akan ada proses belajar tanpa ada perubahan. Dasar utama kedua yaitu kodrat alami manusia untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT. Belajar merupakan salah satu bentuk pengabdian yang nyata. Dengan belajar manusia menggunakan akal yang dimanfaatkan untuk mengeksplorasi sumber daya yang tersedia. Pengeksplorasian bermanfaat bagi kehidupan bumi merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT terkait kewajiban manusia sebagai khalifah, terlebih jika ilmu diimbangi dengan keimanan dan ketakwaan yang terus bertambah. Seperti yang diungkapkan dalam QS. Faathir : 39 yang artinya :

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi. Barang siapa yang kufur, akibatnya ditanggung sendiri. Kekufuran seorang yang ingkar hanya akan menambah murka Tuhannya. Kekufuran seorang yang ingkar hanya akan menambah kerugian yang besar baginya.

Pada ayat diatas disebutkan agar manusia tidak mengkufuri nikmat Allah. Selain pengabdian, belajar juga merupakan salah satu bukti syukur kepada Allah yaitu dengan memanfaatkan potensi diri berupa akal dan pikiran untuk belajar.


Bagaimana menjadi lifelong learner sejati ?
Banyak alasan melatarbelakangi manusia menjalani lifelong learning. Perkembangan ilmu dan teknologi yang cepat mengakibatkan bertambahnya kebutuhan pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas hingga perguruan tinggi. Meningkatnya kebutuhan akan pendidikan mengakibatkan terjadinya pergeseran kebutuhan tenaga kerja mengenai standar kemampuan yang dimiliki. Untuk meningkatkan kemampuan tersebut dibutuhkan peran aktif yang menurut Steinbach (2002) dapat diwujudkan dengan menerapkan ASK, yaitu :
Actively Seek Knowledge (aktif memburu pengetahuan)
Always Seek Knowledge (selalu memburu pengetahuan)
Assertively Seek Knowledge (asertif memburu pengetahuan)
Aggressively Seek Knowledge (agresif memburu pengetahuan)

Perkembangan teknologi termasuk didalamnya teknologi informasi menjadikan penyebaran informasi semakin bebas. Selanjutnya menurut Hancock (2007) para pelajar diharuskan untuk berperan aktif dalam mengelola informasi yang ada yaitu dengan mencari banyak informasi dari berbagai media, mengomunikasikannya agar informasi tersebut mudah dimengerti, mengajukan pertanyaan berhubungan dengan informasi yang didapat, memaksimalkan sumber belajar tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan bermain dan tempat tinggal, merefleksikan apa yang telah dipelajari, yang terakhir bertanggung jawab atas informasi yang telah diperoleh.
Hal lain yang harus dimiliki oleh seorang lifelong learner yaitu adanya motivasi, adannya tujuan yang jelas, sebuah visualisasi pencapaian dan perayaan atas prestasi. Secara sederhana hubungan antara ketiga hal tersebut yaitu manusia harus memiliki motivasi yang mendorong tindakan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Namun dengan motivasi saja usaha tidak akan maksimal, oleh karena itu manusia juga harus melakukan visualisasi pencapaian agar semangat belajar semakin terpompa. Setelah mengerahkan semua daya yang dimiliki, menjadi sangat perlu melakukan perayaan kecil atas setiap prestasi yang telah berhasil kita capai. Hal ini dimaksudkan agar semangat yang ada kembali tumbuh dan terstimulasi untuk kembali meraih kesuksesan.
Colin dan Malcolm (2002) menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan semangat kita perlu memikirkan Apa Gunanya Bagiku (AGB). AGB merupakan langkah penting yang pertama harus diketahui oleh seorang pelajar. Tanpa ada alasan positif mengapa kita mempelajari sesuatu maka informasi yang disampaikan akan lebih sulit untuk dicerna. Setelah mengetahui AGB, langkah selanjutnya adalah membuat daftar sukses yang akan dicapai dalam proses belajar. Lalu berikan penegasan terhadap tujuan yang telah disusun dalam daftar sukses tersebut. Penegasan dibutuhkan untuk menumbuhkan sikap positif yang dapat memberikan energi positif kepada pikiran pada proses belajar.
Banyak langkah yang dapat ditempuh agar kegiatan lifelong learning menjadi lebih menyenangkan. Setiap orang memiliki gaya dan cara pandang yang berbeda agar hasil belajar yang diperoleh lebih optimal. Oleh karena itu, gaya belajar perlu dikembangkan dengan baik.

Ciri-ciri Lifelong Learner
Ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya, begitu juga lifelong learner sejati. Menurut Eikenberry (2007) ada beberapa karekteristik yang secara umum dimiliki oleh lifelong learner yaitu :
1. Memiliki pola pikir yang tertata. Dalam melakukan kegiatan termasuk belajar kita harus memiliki pikiran seperti seorang ahli. Pikiran tersebut akan memberi peluang besar untuk menguasai ilmu pengetahuan.
2. Membuat hubungan. Agar pengetahuan dapat berkembang maka diperlukan penguasaan pembuatan hubungan antara informasi yang satu dengan yang lain.
3. Fleksibel dan dapat beradaptasi dengan baik. Belajar adalah akibat adanya perubahan, lifelong learner harus dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi.
4. Selalu mempelajari sesuatu. Lifelong learner menyamakan otaknya dengan otot yang harus terus dilatih setiap hari secara rutin.
5. Penuh rasa keingintahuan. Satu dari banyak pertanyaan menakjubkan yang sering dilontarkan oleh seorang lifelong learner adalah `mengapa`. Pertanyaan ini menggambarkan rasa keingintahuan yang besar.
6. Belajar dengan banyak cara. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan proses belajar. Namun yang terbaik adalah memadukan berbagai langkah misalnya saja dengan memaksimalkan membaca, mendengar dan berbicara bahkan praktek.
7. Menjadi sumber ilmu. Ada banyak hal yang dapat diperoleh dengan menjadi sumber ilmu. Selain pemahaman lebih mendalam, ilmu pengetahuan yang dimiliki semakin terasah.

Disamping itu, tujuh karakter seorang lifelong learner lebih singkat diungkapkan oleh Smith (2007) yaitu :
1. Memiliki pengetahuan dengan pemahaman mendalam
2. Pemikir kompleks
3. Orang yang kreatif
4. Aktif dalam mencari informasi
5. Pembicara efektif
6. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
7. Pembelajar sendiri yang ulung

Manfaat
Sebenarnya penjelasan rinci mengenai manfaat dari proses belajar tidak diperlukan lagi. Manfaat itu dengan sendirinya akan dirasakan baik oleh pemiliknya sendiri, orang lain bahkan masyarakat secara luas. Orang yang terus menggali ilmu hingga pengetahuannya senantiasa bertambah dari waktu ke waktu akan memperoleh karir dengan prospek gemilang. Meskipun dunia kerja berubah namun dengan ilmu yang terus berkembang tidak akan ada kesulitan untuk beradaptasi dan mengembangkan kemampuan individu baru yang lebih diperlukan. Setelah karir, kemajuan ekonomi yang baik selanjutnya akan mengikuti. Begitu juga dari aspek sosial yang dianggap sebagai sumber ilmu bagi orang lain, secara tidak langsung akan menimbulkan citra diri positif di kalangan masyarakat. Sebagaimana telah diungkapkan Colin dan Malcolm (2002) bahwa kualitas pembelajaran dan kualitas pemikiran kita akan menghasilkan kualitas kehidupan secara langsung. Orang yang berilmu akan memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat melebarkan kariernya dimana saja atau dengan kata lain menjadi orang yang inovatif.
Manfaat lain yang diperoleh dengan menjadi seorang lifelong learner adalah mendapat keridhaan Allah SWT karena telah menjalankan fungsi sebagai khalifah di bumi. Melakukan pengabdian dan pemanfaatan nikmat akal yang telah dianugerahkan Allah SWT yang sejatinya dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan yang meningkat akan membawa manusia mendapatkan kebahagiaan akhirat yang merupakan tujuan akhir dari semua proses belajar. Hanya kepada Allah manusia akan kembali, firman Allah dalam QS. Ali Imran : 145 yang artinya

Tidak seorangpun akan mati kecuali dengan seizin Allah, suatu ketentuan yang terencana. Siapa yang menghendaki pahala dunia Kami akan memberinya. Dan siapa yang menghendaki pahala akhirat Kami akan memberinya. Kami pasti membalas orang-orang yang bersyukur.

So, How then?
Setelah mengetahui langkah-langkah yang diperlukan untuk menjalani misi lifelong learning serta mengetahui karakteristik dan manfaatnya bagi kehidupan manusia, kemudian yang harus dilakukan adalah praktek. Tanpa ada praktek semua ilmu dan pengetahuan akan sia-sia. Gunakan ilmu atau hilang sama sekali dan dengan begitu kita tidak layak disebut sebagai manusia tanpa menjalankan kewajiban dan kodrat seorang manusia untuk belajar. Mulai praktek itu sekarang, disini dan dari diri sendiri. Mempraktekan pengetahuan akan menjadi sama mengasikannya seperti saat mencari dan menyusunnya menjadi suatu informasi yang utuh. Belajar tidak hanya dilakukan pada pendidikan formal semata, pendidikan tidak hanya didapat di bangku sekolah, pendidikan tidak hanya berasal dari guru, Lifelong learning memiliki cakupan lebih luas. Bagaimana dapat memanfaatkan lingkungan untuk belajar semaksimal mungkin dan bagaimana belajar untuk selalu menggali informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan diri sehingga dapat bertahan di dunia global seperti sekarang adalah esensi sesungguhnya pada proses lifelong learning.




SIMPULAN

Menjadi lifelong learner bukan hal yang mudah tetapi juga bukan beban yang memberatkan. Seharusnya lifelong learning tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban dan keharusan yang mengikat. Tetapi lebih dipandang sebagai kebutuhan pokok dalam hidup yang tanpanya hidup tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian proses belajar yang dijalani sudah semestinya direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari dengan membawa pencerahan bagi orang lain, keluarga serta masyarakat luas. Dampak utama dengan terus menerus menggali ilmu pengetahuan yaitu meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT seperti yang dituangkan dalam QS Al Fatiir : 28, “Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya ini adalah orang-orang yang berilmu”
Kunci dari proses lifelong learning adalah menaklukan teknologi informasi dengan begitu dunia telah ada dalam genggaman. Menaklukan dunia dengan ilmu yang terus berkembang akan membawa manfaat besar bagi peradaban manusia selanjutnya. Terakhir, praktekan ilmu itu sekarang juga.

0 komentar:

Posting Komentar