Jumat, 11 Mei 2012

Kematian hanya milik Allah SWT

Manusia memang hanya berencana, pada akhirnya Allah SWT yang menentukan segalanya. Mati, hidup, jodoh, rezeki semua sudah di atur dalam Lauhul Mahfudz. Begitu yang terjadi pada bapak tua yang didiagnosis stroke hemoragik yang sudah luas, beberapa bahkan ada yang mengalami iskemik. Stroke multiple ini memang memiliki pognosis yang buruk. Meski begitu, usaha tidak pernah salah kan ? Apapun hasilnya.

Pagi kemarin, tepat pada saat saya memasuki pintu bangsal, bapak tua itu dipanggil oleh Allah SWT, dihadapan beberapa perawat, penjenguk pasien lain, dan tangisan istri serta anak-anaknya. Memang sejak beberapa hari lalu perawat di bangsal selalu bilang bahwa sudah tercium aroma kematian dari ruangan bapak itu, karena si kanan kiri bapak itu selalu ditemani oleh orang-orang yang mengaji dan membimbing bapak tersebut untuk melafalkan "Lailahaillallah Muhammadarrasulullah"

Yang saya rasakan, tentu sedih, syok dan kehilangan. Sudah beberapa hari ini saya selalu visite ke bed bapak tersebut dan tidak henti-hentinya memberi semangat pada istri si bapak. Beberapa kali saya akui, ada ketakutan untuk melakukan pemeriksaan karena saya takut salah berucap dan akhirnya mematahkan semangat atau malah memberikan harapan palsu yang lebih. Tapi, saya percaya bahwa bagi Allah tidak ada satu halpun yang mustahil, maka saya terus memberikan dukungan.

Satu hari sebelum hari meninggalnya bapak tersebut, saya melakukan visite seperti biasa dan alhamdulilah hasil pemeriksaannya menunjukkan perkembangan meskipun tidak begitu berarti. Maka pagi itu saya mulai mengedukasi si ibu untuk membantu penyembuhan bapak. Sore harinya perawat melaporkan bahwa suhu bapak terus naik, hingga malam. Kondisinya semakin memburuk, hingga pagi harinya, nafasnya tersengal, reflek pupil negatif, seluruh keluarga menangis dengan pilu sambil mengalafalkan pengantar kepergiaan bapak tersebut. Proses genting itu tidak berlangsung lama, beberapa menit kemudian, nafas si bapak berhenti, dan hasil EKG negatif. Dan pagi kemarin telah menjadi hari terakhirnya di kamar bangsal yang isinya rata-rata penderita stroke berusia lanjut.

Satu hal yang saya sesali adalah pada pagi itu saya tidak dapat melakukan apapun. Diam. Kaget. Syok. Sedih, semuanya campur aduk jadi satu. Bahkan saat melakukan pemeriksaan pada pasien lain di kamar yang sama, saya tidak sanggup melihat ke bed bapak tua itu. Hingga jasadnya dibawa oleh ambulans ke pemakamannya. Saya menyesal. sungguh menyesal. Hari itu saya merasa menjadi orang paling bodoh :(

Saya berjanji, penyesalan ini tidak akan terulang. saya tidak ingin melihat kematian untuk kedua, ketiga dan seterusnya dengan posisi yang sama. Paling tidak saya bisa melakukan apapun, meski kecil. Bukan cuma diam dan menahan air mata. Saya harus lebih kuat dan bisa menguatkan orang-orang di sekitar saya.
HARUS !

Meski kematian adalah kepastian yang hak, tapi saya harus mengerti bahwa tidak ada satu kematianpun yang berjalan begitu saja tanpa air mata. Paling tidak saya harus berusaha walaupun akhirnya kalah. Daripada kalah sebelum berusaha. Semua orang memiliki mimpi yang sama saat pertama kali masuk RS yaitu ingin SEMBUH dan SEHAT ! Itu yang harus saya perjuangkan.

0 komentar:

Posting Komentar