Sabtu, 22 Oktober 2011

Selamat Pagi !

Pagi ini indah tanpa kamu, migrain. Gila, semaleman doang bareng migrain pagi bangun tidur mata udah bengkak. Gak tau karena apa, mungkin air mata. Sakit yang paling gak bisa aku terima dengan santai adalah sakit kepala, dan sayangnya sakit yang paling sering dan selalu aku derita adalah sakit kepala. Sungguh-sungguh tragis nasib kepalaku. Walaupun aku yakin pasti memang ada kerusakana entah di bagian mana, selain aku yang selalu sakit kepala, aku juga pelupa kronis, dan entah apa namanya itu. Tiap nulis, yang dilihat apa-yang ditulis apa. Berkali-kali aku ngasistensi Fisiologi dan berkali-kali juga aku di marahin sama temen-temen asisten yang lain, karena salah nulis angkatan ulang anak-anak mana yang harus inhal Hyufff :( Satu yang sudah semakin jelas dengan keadaanku sekarang, aku calon penderita Demensia di hari tua. Demensia adalah penyakit karena degenerasi kronis pada otak yang mengakibatkan hilangnya fungsi intelegensia, intelektualitas dan eksekutif. Faktor resiko nya ya orang-orang kaya aku ini. jalan keluarnya dengan menggunakan saraf otak sebanyak-banyaknya, ya ini jalan yang akan aku tempuh. Bismillah :)

Walaupun begitu, aku tidak pernah khawatir bagaimana hidupku kedepan dan nanti. Aku yakin apapun yang terjadi, insyaAllah baik :) Aku tidak pernah ragu sedikitpun dengan apa yang telah digariskan Tuhan. Meskipun sakit mungkin atau kadang sulit menerka apa hikmah dibalik perpisahan, kegagalan, keikhlasan tetapi sungguh tidak ada alasan sedikitpun untuk aku menentang keputusan Tuhan. Manusia hanya berusaha, Tuhanlah yang berkehendak. Itu sunatullah.

Pagi ini aku masih harus mengerjakan banyak hal karena semalaman membuang waktu tidur-tiduran gak bisa tutup mata karena migrain hebat. Jadi konsekuensinya hari ini harus full bales dendam sama waktu. Oh iya ngomong-ngomong tentang bales dendam. Aku teringat dengan perkataan salah seorang pengamat politik senior sekaligus budayawan yang mengomentati peristiwa pembunuhan dan pembantaian Muammar Khadafi, bahwa dimanapun reformasi selalu berujung dengan pembalasan dendam. Aku seidkit tidak setuju, oke misalnya pun memang pemberotakan adalah sebuah pembalasan dendam tetapi apakah tidak ada jalan yang lebih baik dari membunuh dengan aniaya. Sungguh tidak berperikemanusiaan. Dan dari potret kematian Khadafi, bisa aku lihat bahwa betapapun banyak kebaikan tetapi tetap bisa tenggelam dalam amarah. Oleh karena itu Tuhan, berkali-kali mengingatkan dalam ayat-ayatnya bahwa amarah adalah pekerjaan tangan setan sedangkan kash sayang adalah perpanjangan tangan Tuhan. Demi alasan apapun, manusia sama sekali tidak memiliki hak mengeksekusi orang yang jelas-jelas sudah kritis, karena manusia tidak bekuasa atas hidup matinya seseorang. Itu urusan tangan Tuhan pemirsa :)

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS.16:7)

0 komentar:

Posting Komentar