Kamis, 06 September 2012

Pasienku Sayang, Pasienku Malang :')

Hah! akhirnya bisa posting juga, setelah sekian lama cuma jadi wacana, karena banyak keadaan. Sejak beberapa hari lalu saya sudah jadi warga Jogja lagi, gak 100% ding, karena hampir setengah hari lebih bahkan kalo pas jaga IGD saya menetap di Klaten. Stase Jiwa di RSJD dr. RM Soedjarwadi ini antara seneng, ngerasa abstrak, bingung juga, semangat tapi agak cape, males juga gak, ah entah lah campur aduk, tapi yang jelas, saya menikmati sekali hari-hari disini ;')

Selama 5 minggu kedepan, kami ber 10, dibagi menjadi 3 kelompok kecil untuk jaga bangsal, poli dan IGD. Minggu ini jadwal saya di bangsal pasien laki-laki, Perkasa, dan bangsal perempuan, Permaisyuri. Mungkin sama yak kayak anggapan banyak orang, kalo orang sakit jiwa itu nyeremin lah, gak bisa ditebak lah, bahaya lah dan lain-lain. Gak salah dan gak bener juga pandangan itu. Setelah saya berhari-hari bersama mereka, rasanya menyenangkan, ya menyenangkan sekali. Mereka gak jahat kok, gak berbahaya, selama kita gak sekalipun menyinggung. Walaupun ada gangguan, tapi mereka punya naluri. Mereka bisa begitu baik- baik bangeeeet, aneh, atau beringas sekalipun. Tapi, meski begitu dari cerita-cerita mereka, saya banyak dapet pelajaran. Gak semua pasien jiwa bodoh loh, malah ada juga yang dulunya pinter, jenius malah walaupun gak sedikit juga yang nasibnya kurang beruntung, dari kecil udah mengalami gangguan kejiwaan.

Beberapa pasien yang saya tangani malah, mereka punya cerita masing-masing yang unik. Ada namanya M, laki-laki usia sekitar 18 tahun. M adalah penderita autisme yang asik sendiri sama dunianya. Dia bisa senyum senyum sendiri, ketawa sendiri atau tiba-tiba ngucapin potongan potongan doa secara spontan dan berulang. M selalu membawa pelastik atau gelas-gelas melanin kesukaannya kemanapun dia pergi. Sejak kecil M sudah sering masuk RSJ karena sering mengamuk. Tapi, ada satu hal yang saya sangat suka dari M. Wajahnya itu selalu membuat orang yang melihat bahagia. Serius :)) Gak pernah sekalipun ada gambaran sedih, atau marah, atau bosan, dan lain-lain, yang ada cuma senyum, iya senyum. Saya suka :"D Walaupun M beberapa kali mengamuk :p

Selain M, ada bapak P, 45 tahun. Bapak P adalah pasien jiwa paling normal yang pernah saya lihat (pas gak ngamuk). Dia adalah D3 yang pernah bekerja sebagai karyawan dan sopir. Sama seperti M, dia dibawa ke RSJ karena sering mengamuk. Setiap harinya di RSJ, bapak P ini yang menjadi kapten teman-temannya yang lain. Kadang dia juga bertugas menenangkan teman-temannya membantu perawat. Saat ada kegiatan apapun, bapak P selalu menghidupkan suasana. Dia sering memimpin doa, memimpin bernyanyi, memimpin senam, bahkan mengaji. Yak, bapak P sama sekali tidak bermasalah, itu kesan saya :')

Dan ada satu pasien kurang beruntung laiinya, namanya An.X, usia sekitar 15 tahun. Satu matanya mengalami infeksi sehingga terus mengeluarkan kotoran dan sudah tidak dapat melihat. An.X menderita autis sejak lahir, dan ia memiliki kekurangan dalam perkembangan dan kecerdasan atau disebut retardasi mental. Siapapun yang melihat An.X pasti langsung dapat menyimpulan betapa An.X ini adlah anak yang istimewa dengan kekurangannya. An.X yang sering buang air kecil di depan umum, dimanapun dia mau, makan apapun yang bisa dimakan, kebersihan dirinya buruk, gak bisa berkounikasi baik. Sehari-hari An.X selalu terpisah dari pasien yang lain. Ya, dia tidak mampu berinteraksi dengan baik dengan siapapun. Meski ada satu pasien (Bapak.L) yang selalu setia menemani An.X. Bapak L denga sabar dan senang hati membersihkan bekas air pipis An.X, memberi makan, gendong sana sini, ah pokonya so sweet lah. Gak jarang juga, saya lihat bapak L, mengajak An.X berkomunikasi meski tidak pernah ada tanggapan yang berarti. Melihat itu, saya sadar bahwa kesempurnaan yang saya miliki sangat berharga dan saya harus selalu bersyukur untuk itu. Saya juga belajar bahwa kasih sayang bukan cuma milik orang yang sehat jiwanya, bahkan dalam kekurangan dan ketidaknormalan, kasih saya tetap ada :') Seharusnya kita semua belajar kasih sayang dari Bapak L ini, kasih sayangnya tulus, terlihat dari senyumnya yang selalu keluar setelah menolong dan melihat An.X tersenyum. Indaaaaaahhhhhh :")

Kedepan akan sangat banyak pelajaran yang bisa saya dapat. Belajar memanusiakan manusia, belajar memperlakukan orang yang "spesial" dengan seharusnya, dan banyak lagi. Saya akan memanfaatkan 5 minggu ini dengan sebaik mungkin. Saya yakin, di tempat ini, bersama orang-orang inilah, arti kehidupan benar-benar bisa saya lihat dengan nyata :)

0 komentar:

Posting Komentar