Selasa, 03 Juli 2012

Stressor is Just a Stressor

Masa-masa mengahadapi stressor adalah masa yang penuh emosi. Orang kalo lagi stress ya bawaannya macem-macem, selain marah-marah, sedikit sensitif, makannya juga banyak banget. Ya gitu juga buat saya. Beberapa minggu lalu adalah masa-masa galau dimana saya bener-bener bingung bertindak dan bingung memutuskan. Sudah sejak 1 atau 2 bulan lalu saya menerima pengumuman bahwa abstrak penelitian saya diterima dalam sebuah kongres Internasional di Slovakia. Dalam 2 bulan itu, saya belum merasakan efek apapun, masih bisa tidur enak, tertawa nyaman dan sebagainya. Hingga kegalauan itu baru benar-benar saya rasakan dalam 2 minggu terakhir menjelang keberangkatan.

Entah bodoh atau apa, pada saat itu saya masih sangat amat percaya bantuan Allah akan datang tepat pada waktunya. Bahkan hingga detik ini. Padahal saya dihadapkan pada kenyataan yang melarang saya untuk terus berspekulasi, saya butuh kepastian, ya kepastian. Mulai dari pendanaan, perizinan, hingga kesiapan mental pribadi. Tetapi dengan kepercayaan yang begitu bulat, saya terus melangkah dengan membuat visa dan persiapan lainnya. Banyak kendala yang saya hadapi, banyak juga yang sudah saya korbankan. Waktu, tenaga, pikiran, dan uang tentu saja. Saat perjalanan pembuatan visa contohnya, saya hanya memiliki waktu satu hari di sela-sela kegiatan koas yang cukup padat. Dengan bermodal keyakinan, saya berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api dari stasiun Purwokerto pada pukul 20.00. Saya sudah tiba di stasiun sejak pukul 15.00 diantar oleh teman-teman saya yang sungguh luar biasa. Waktu 4 jam saya habiskan dengan mengunjungi salah satu teman yang kebetulan rumahnya dekat dengan stasiun dan alhamdulilah waktu 4 jam sama sekali bukan apa-apa. Lalu, saya melakukan perjalanan selama kira-kira 5 jam dan tiba di terminal Jatinegara pada pukul 01.00. Sendiri, takut, mengantuk, bingung, dan sebagainya, itulah perasaan saya pada waktu itu. Saya masih harus menunggu pagi untuk bisa melanjutkan perjalanan. Selama 5 jam saya berdiam diri di dalam stasiun dan tidak melakukan pergerakan apapun karena pada jam tersebut memang tidak ada kegiatan perkereta apian. Saya dikelilingi orang-orang yang tidur di lesehan warung, bapak-bapak dengan wajah yang cukup meakutkan saya, yang sejak saya tiba terus mondar-mandir dan beberapa pemuda lain. Ah, kalau tidak karena keyakinan mungkin saya tidak akan pernah mau melakukan perjalanan gila itu.saya benar-benar takut dan bingung harus apa. Mau ke mushola, tapi mushola nya jauh di belakang stasiun, sepi, terpencil. Saya tidak mungkin kesana. Akhirnya saya hanya duduk manis di deretan kursi dipinggir rel kereta. Diam, tanpa suara, saya hanya mengamati sekeliling dan berusaha sebisa mungkin untuk tetap terjaga. Daaan, saya berhasil, sampai pukul 5 pagi saya baru berani untuk ke mushola, lalu mandi di WC umum yang letaknya tepat di pinggir mushola. Ya seperti WC umum pada umumnya, kotor, bau, tapi saya tidak punya pilihan lain yang lebih baik. Take it or leave it!

Pagi tiba dan perjalanan saya belum berhenti disitu, setelah menunggu lama untuk menunggu kedutaaan Slovakia menerima tamu, dan selesai mengurus visa saya langsung menuju stasiun untuk membeli tiket pulang ke Purbalingga, jam menunjukkan pukul 12.00. Bukan istrirahat atau sedikit refresh, saya masih harus berkutat dengan orang-orang yang antri membeli tiket kereta di Stasiun Senen. Keadaan saya waktu itu tentu saja lelah, lelah sekali. Malangnya, Saya pun bukan termasuk orang yang beruntung pada hari itu, semua tiket di semua kelas habis. Bingung, ya tentu. Tapi alhamdulilah pertolongan Allah yang pertama muncul. Saya mendapat tiket dengan jurusan ke Malang, pada sore hari tepat pukul 14.00 dari seorang calo yang sudah lama berkeliaran di stasiun ini. Sebenarnya calo ini adalah calo kedua yang saya temui. Calo pertama yang saya pikir bisa membantu saya malah kabur karena dikerjar-kejar oleh pihak keamanan di satsiun itu. saya hampir putus asa dan memutuskan untuk mencari kendaraan lain, risiko yang saya hadapi bahkan jauh lebih parah, saya tidak dapat bis atau travel dan malah terjebak di pelosok Jakarta yang sedikit asing, karena saya sudah lama tidak mengunjungi Jakarta sejak kuliah di Jogjakarta. Setelah berpikir-dan berpikir ulang, saya masuk kembali ke stasiun dan bertemu dengan calo kedua yang menyelamatkan hidup perkoasan saya. Harga yang ditawarkan cukup mahal, 2 kali lipat dari harga normal, dan itu kereta api ekonomi. Ya bisa dibayangkan, betapa sesak dan panasnya perjalanan itu.

Mau tidak mau, suka tidak suka, iya atau tidak, saya harus tetap ambil tiket itu. Dengan risiko saya harus berpikir ulang bagaimana caranya saya bisa sampai di Purbalingga karena kereta tersebut tidak berhenti di stasiun Purwokerto. Stasiun terdekat dengan Purbalingga adalah stasiun Tegal dan Pekalongan. Lagi-lagi dengan modal keyakinan saya memutuskan untuk menghentikan perjalanan di Pekalongan, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Saya buta sama sekali tentang Pekalongan. Dulu saya memang sering melakukan perjalanan di pulau Jawa, salah satunya pekalongan. Tapi itu dulu sekali, dan keadaan sekarang berbeda 180 derajat. Sekarang saya sendiri, malam, dan tidak tau arah. Beruntung, saya memiliki beberapa teman yang bisa saya tanyai tentang kendaraan umum disana, dan dia menyarankan saya untuk menggunakan taksi.


Halllooooo!! Taksi dari Pekalongan ke Purbalingga berapa uang coba. Padahal perjalanan yang ditempuh masih cukup jauh yaitu sekitar 3-4 jam. Dan oke, lagi-lagi saya tidak punya pilihan lain karena tidak ada satupun kendaraan umum yang jauh lebih aman yang bisa saya gunakan. Beruntung, saat saya keluar dari stasiun, saya langsung melihat bapak-bapak taksi yang wajahnya baik sekali, muda, berkaca mata, dan terlihat lugu. Berbeda dengan pengendara taksi lain yang wajahnya nakal, menyeramkan. Pilihan saya jatuh pada bapak taksi lugu itu. Walaupun selama perjalanan saya benar-benar was-was, karena bapak itu melakukan banyak perhentian yang menurut saya tidak perlu. Beli pulsa lah, beli minum lah, beli cemilan lah dan lain-lain. Saya pun memutuskan untuk tidak tidur selama perjalanan, sedikitpun. Meski lelah sekali, ngantuk sudah pasti, tapi saya bertekad untuk tidak tidur. Yap, berhasil.

Alhamdulilahirabbil alamin, pada pukul 23.00 saya tiba di Purbalingga dengan selamat sentosa dan tanpa kekurangan satu appun, kecuali uang tentunnya. Ongkos yang harus saya bayar cukup fantastis saudara, 350 ribu rupiah. Dengan ongkos itu saya bisa bolak-balik Cikarang Purbalingga. Tapi yasudah lah, semua perjuangan harus ada bayarannya. Saya cukup bersyukur, berhasil melakukan perjalanan gila dalam satu hari dan hanya bermodal keyakinan. Beberapa mungkin bilang saya cukup nekat dan sebagainya, tapi bukankan sudah sangat banyak orang yang memilih untuk hidup dalam comfort zone? Buat apa saya ikut bergabung didalamnya :)

Dan kegalauan selanjutnya pun berlanjut, semakin hari semakin dekat dengan hari H, stressorsnya semakin tinggi dan tinggi. Saya belum memutuskan apapun, hingga saya merasa terjebak dengan keyakinan saya sendiri. Satu hari menjelang hari keberangkatan, saya bimbang, galau dan masih belum memiliki keputusan apakah akan berangkat atau tidak. GILA ya gila. ...

0 komentar:

Posting Komentar