Jumat, 27 Mei 2011

KARAKTERISTIK ASUPAN DAN POLA MAKAN REMAJA USIA 10-19 TAHUN DI INDONESIA

Oleh : Astri Sulastri Prasasti
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
2011 


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Permasalahan
Kemajuan di bidang ekonomi, sosial dan teknologi memberikan dampak positif dan negatif terhadap gaya hidup dan pola konsumsi makanan pada masyarakat Indonesia. Pola konsumsi saat ini sering mengikuti pola konsumsi kebarat-baratan (western style diet). Pola konsumsi ini mulai mengeser pola konsumsi gizi seimbang yang selama ini telah diterapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dalam jangka panjang gaya hidup seperti ini berdampak buruk bagi kesehatan karena mengakibatkan ketidakseimbangan asupan gizi (Bradialaily, 2004). Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang tadi mengakibatkan munculnya gaya hidup baru yang dikenal dengan sedentary life. Pola hidup sedentary life merupakan pola hidup yang ditandai dengan aktivitas yang rendah dan konsumsi makanan yang berlebihan. Kemajuan teknologi pengolahan pangan menyebabkan terjadinya peningkatan kebiasaan konsumsi snack, termasuk di dalamnya junk food dan fast food. Perubahan kebiasaan pola makan ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa tetapi juga pada anak-anak. Snack atau makanan ringan adalah sejenis makanan yang biasanya di konsumsi di luar waktu makan. Snack yang beredar di pasaran biasanya merupakan produk ekstruksi yang rata-rata tinggi kalori dan rendah zat gizi (Deni, 2009). Junk food dikategorikan sebagai makanan dan minuman yang tinggi garam atau tinggi kalori dan rendah zat gizi. Kriteria junk food antara lain mengandung lebih dari 30% kalori yang berasal dari lemak,  10% kalori berasal dari lemak jenuh, beberapa lemak trans, lebih dari 35% kalori berasal dari gula, lebih dari 200 kalori per sajian untuk snack, dan lebih dari 200 mg garam per sajian untuk snack. Sedangkan  fast food adalah makanan cepat saji yang biasanya dikonsumsi untuk menggantikan makanan pokok seperti nasi, roti, dan lain-lain. Perbedaan antara junk food dan fast food yaitu junk food biasanya dimakan hanya sebagai snack bukan untuk menggantikan makanan pokok (Guttierez, 2007).
Konsumsi snack yang berlebihan pada anak menyababkan terjadinya obesitas dini (Deni, 2009). Obesitas atau kegemukan mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas berarti kelebihan berat badan (BB) jauh melebihi berat yang ideal (>20%) karena  terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga BB seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara overweight (kelebihan berat badan) adalah keadaan dimana BB seseorang melebihi BB normal (Adityawarman, 2007).  Berdasarkan hasil penelitian Frank Ge dalam Virgianto (2006) mengatakan bahwa ada hubungan antara kebiasaan makan anak dengan ukuran tubuhnya. Makan siang dan makan malam remaja menyediakan 60% intake kalori, sementara makanan jajanan menyediakan 25%. Anak obesitas ternyata akan sedikit makan pada waktu pagi dan lebih banyak makan pada waktu siang dibandingkan dengan anak kurus pada umur yang sama.
Dari perkiraan 210 juta penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah penduduk yang overweight diperkirakan mencapai 76.7 juta (17.5%) dan pasien obesitas berjumlah lebih dari 9.8 juta (4.7%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa overweight dan obesitas di Indonesia telah menjadi masalah besar yang memerlukan penangan secara serius (Virgianto, 2006). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi obesitas di Indonesia pada penduduk usia > 15 tahun adalah 10,3% (laki-laki 13,9  %  dan  perempuan  23,8%),  sedangkan  pada anak-anak  usia  6-14  tahun  pada  laki-laki  9,5  %  dan  perempuan  6,4  % (Depkes, 2009).
Menurut Dietz dalam Virgianto (2006), ada 4 periode kritis terjadinya obesitas, yaitu masa prenatal, masa  bayi, masa adiposity rebound, dan masa remaja. Obesitas yang terjadi pada masa remaja, 30% akan melanjut sampai dewasa menjadi obesitas yang persisten dan risiko terjadinya obesitas lebih banyak pada remaja putri daripada remaja pria. Obesitas yang terjadi pada masa remaja perlu mendapatkan perhatian, sebab obesitas  yang timbul  pada waktu anak dan remaja bila kemudian berlanjut hingga dewasa akan sulit  diatasi  secara konvensional  (diet dan olahraga). Menurut definisi WHO remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara PBB menyebut anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun.
1.2  Perumusan Masalah
Atas dasar perubahan pola diet diatas timbul pertanyaan yaitu :
a.    Bagaimana karakteristik asupan dan pola makan pada remaja usia 10-19 tahun di Indonesia
b.    Apakah karakteristik tersebut sudah sesuai pemenuhan standard gizi berdasarkan umur dan rata-rata berat badan

1.3  Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui karakteristik asupan dan pola makan pada remaja usia 10-19 tahun di Indonesia


1.4  Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, maka diharapkan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik asupan dan pola makan pada remaja usia 10-19 tahun di Indonesia. Informasi tersebut dapat digunakan untuk evaluasi dari penerapan asupan dan pola makan sehat ataupun sebagai penelitian awal untuk mendukung penelitian-penelitian selanjutnya mengenai pola makan.

1.5  Keaslian Penelitian
Sampai penelitian ini dilakukan, dari banyak penelitian terhadap pola makan belum ada yang meneliti tentang karakteristik asupan dan pola makan pada remaja usia 10-19 tahun di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asupan dan Pola Makan
a. Definisi      
Ada beberapa definisi mengenai pola makan menurut beberapa pakar, yaitu Baliwati (2004) mengatakan pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Sedangkan Santosa dan Ranti (2004) mengungkapkan bahwa pola makan merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pendapat dua pakar yang berbeda-beda dapat diartikan secara umum bahwa pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan dan frekuensi makan yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup.

b. Makanan dan Gizi Seimbang
Menurut Diehl (1991), makanan didefinisikan sebagai bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan  atau unsur-unsurl ikatan kimia yang  dapat diubah  menjadi zat  gizi  oleh  tubuh  yang  berguna  bila  dimasukkan  ke  dalam tubuh. Tanpa  makanan,  seseorang  tidak  dapat  menjalankan  kehidupan dan aktivitasnya  dengan baik. Agar  tetap  sehat,  manusia memerlukan suatu  susunan makanan yang mengandung  zat gizi sesuai dengan kebutuhannya, yang populer dengan istilah gizi seimbang.  Gizi seimbang meliputi  zat tenaga  (karbohidrat), zat pembangun (protein), zat pengatur (mineral dan vitamin) yang dikonsumsi setiap hari.  Fungsi ketiga zat gizi  tersebut dikenal dengan  istilah Tri-Guna Makanan yang menjadi konsep dasar gizi seimbang (BBKP, 2004).
Untuk memelihara proses metabolisme  tubuh dan aktivitasnya, perlu zat  giziyang memadai  dalam  makanan.  Karbohidrat,  lemak,  protein, vitamin,  mineral  dan  air, baik  dari  bahan  pangan  nabati  maupun  hewani harus tercukupi.  Komposisi dan nilainya harus cukup dan seimbang, sebab jika  kurang maupun berlebih, dapat merugikan kesehatan. Energi diperlukan manusia untuk bergerak atau melakukan pekerjaan fisik  dan  juga  menggerakkan  proses-proses  dalam  tubuh  seperti  misalnya sirkulasi darah, denyut janturrg,  pernafasan, pencernaan dan proses-proses fisiologis (Suhardjo  &  Kusharto,  1992).  Selain  itu  energi  juga  diperlukan untuk melangsungkan  aktivitas  kehidupan.  Kebutuhan  energi  sebagian besar tergantung dari aktivitas fisik, namun dalam  keadaan diam pun energi tetap  diperlukan  untuk  kerja internal;  ini  yang  disebut  sebagai  Energi Metabolisme Basal (EMB).  Karbohidrat dan lemak merupakan sumber utama energi dalam makanan.  Karbohidrat paling  banyak dibutuhkan oleh  tubuh, yaitu sebesar 55-65% dari total asupan energi.  Dua jenis  utama karbohidrat yaitu gula (karbohidrat sederhana) dan pati (karbohidrat  kompleks).
Protein merupakan  bahan  dasar  pembentuk  sel  dan  jaringan  baru dalam  tubuh,  juga  berfungsi  untuk  pertumbuhan,  pemeliharaan,  dan perbaikan jaringan  tubuh  yang  rusak.  Beberapa  protein  juga  merupakan enzim dan hormon.  Makanan sumber  protein dibedakan menjadi dua, yaitu  (1) protein hewani (berasal dari hewan, merupakan protein  lengkap) dan (2) protein nabati (berasal dari tumbuhan, disebut protein setengah lengkap).
1.      Protein lengkap
Protein  lengkap mengandung semua  asam  amino  essensial  dalam  jumlah cukup dan  rasio  yang  tepat  untuk mempertahankan  keseimbangan N dan untuk pertumbuhan  normal.  Contohnya adalah albumin pada  telur, casein pada susu, daging, ikan dan unggas.
2.      Protein setengah lengkap
Protein  setengah  lengkap  dapat  berfungsi mempertahankan  hidup,  tetapi terdapat kekurangan asam amino essensial, sehingga tidak dapat membantu pertumbuhan  normal.  Contohnya  adalah  protein  pada  kacang-kacangan, polong  dan biji-bijian.
3.      Protein  tidak lengkap
Protein  tidak  lengkap adalah  protein yang  tidak  mengandung asam  amino essensial dalam  jenis dan jumlah yang cukup, sehingga tidak dapat berfungsi normal baik untuk mempertahankan  hidup maupun pertumbuhan.  Contohnya adalah Zein  pada  jagung,  gelatin  pada  hewan.  Pangan nabati  umumnya kekurangan lysine, methionin,  threonin, tryptophan. Protein  mempunyai  beberapa  fungsi,  antara  lain  sebagai  berikut (Suhardjo & Kusharto, 1992) :
a.       Memperbaiki protein jaringan tubuh yang aus terpakai  (Katabolisme)
b.       Membangun jaringan baru (anabolisme) terutama pada periode pertumbuhan (bayi, anak-anak, remaja dan kehamilan).
c.       Untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh
d.      Untuk pembentukan ikatan-ikatan essensial tubuh
e.       Untuk mengatur keseimbangan  air
f.       Untuk memelihara netralisis tubuh
g.      Untuk pembentukan antibodi
h.      Untuk mengangut zat-zat gizi dari saluran cerna ke berbagai jaringan.
i.        Sebagai sumber energi

Kebutuhan  protein  dari  makanan  ditentukan  oleh  umur  dan  berat  badan. Kelebihan  konsumsi  protein dapat mengkibatkan  kerja  ginjal  yang semakin berat dan penyakit hati.  Lemak  adalah  bahan-bahan  yang  mengandung  asam  lemak,  baik dalam bentuk cair yaitu minyak maupun dalam  bentuk padat yaitu,  fat.  Ada dua jenis lemak, yaitu (1) lemak  jenuh dan (2) lemak tidak jenuh.  Lemak  jenuh  banyak  terdapat pada  hewan  dan  produk  hewan,  juga  pada  minyak kelapa.  Lemak ini berbentuk padat pada suhu ruang.  Konsumsi yang tinggi  dari  .  lemak  jenuh  cenderung meningkatkan  kolesterol  darah.  Lemak  tidak jenuh  banyak  terdapat  pada  sayuran dan  minyak  sayur,  berbentuk  cairan  pada suhu ruang.  Lemak pada minyak sayur ada dua jenis  yaitu  lemak tidak jenuh  tunggal  (terdapat  pada minyak  zaitun)  dan  lemak tidak jenuh  ganda (pada  minyak  jagung,  minyak  biji  bunga  matahari  dan  minyak kedelai).  Kedua  jenis  minyak  sehat  bagi  jantung.  Pada  buah-buahan  lemak  ini terdapat  pada  alpukat  dan  pisang.  Sumber  lemak  tidak  jenuh  lain adalah ikan, ayam, itik, dan margarin. Lemak  berfungsi  sebagai  sumber  energi,  sumber  asam lemak essensial,  alat  angkut  vitamin  larut  lemak,  menghemat  protein,  memberi rasa kenyang dan  kelezatan, sebagai pelumas dan membantu pengeluaran sisa pencernaan, memelihara suhu tubuh dan pelindung organ tubuh.
Vitamin,  secara  umum  dikelompokkan  menjadi  vitamin  yang  larut  dalam lemak (vitamin A,  Dl E dan K) dan vitamin larut dalam air (vitamin B dan C).  Mineral, sama  halnya dengan  vitamin,  merupakan  zat  gizi mikro  yang sangat  dibutuhkan  tubuh  terutama  untuk  proses  metabolisme.  Beberapa contoh mineral penting adalah kalsium, fosfor,  magnesium,  natrium,  kalium, besi, iodium, seng dan selenium. Serat merupakan bagian pangan nabati yang tidak dapat dicerna olehtubuh  walaupun  tidak  mengandung  zat  gizi  namun  berperan  dalam  pemeliharaan  kesehatan  tubuh.  Serat  berfungsi  dapat  menarik  air  dari sekitar  pembuluh  darah  sehingga  melunakkan  feses  dan  mendorong  pengeluaran  yang  efisien.  Selain  itu serat  dapat  mengurangi  penyerapan  lemak,  berarti  menurunkan  tingkat  kolesterol  darah.  Sumber  makanan mengandung  serat  adalah  biji-bijian,  kulit  dan  daging  buah-buahan,  serta bahan-bahan  berserat  pada  sayuran.  Setiap  orang  dewasa  sebaiknya mengkonsumsi sekitar 25 g serat per hari.
Konsumsi zat-zat gizi, baik yang kurang atau melebihi kecukupan dan bila  berlangsung  dalam  waktu  yang  lama,  akan  memberi  dampak  pada kesehatan.  Misalnya  kurang  energi  protein  (KEP),  anemi  gizi,  gangguan  penglihatan  akibat  kekurangan  vitamin  A  (KVA)  atau  gangguan  akibat kekurangan  iodium  (GAKI).  Sedangkan  gizi  lebih  dapat  meningkatkan  prevalensi penyakit degeneratif seperti penyakit  jantung, hipertensi, diabetes mellitus dan obesitas.

c. Obesitas
Beberapa  pola  makan  sehat  yang  sederhana  ditawarkan  oleh  Tsigos (2008)  adalah  mengurangi  intake  kalori  makanan  dan  minuman, mengurangi  porsi  makan,  menghindari  snack  diantara  makan,  jangan menunda makan pagi, dan menghindari makan pada malam hari. Makanan  sangat  berperan  penting  dalam  patogenesis  obesitas. Perubahan  pola makan  yang  seringkali  terjadi  pada  era  platinum  adalah kebiasaan  makan  fast  food.  Ismoko  (2007)  dalam  Hastuti  (2008) menyatakan bahwa banyak  fast food yang mengandung kalori tinggi, kadar lemak, gula, dan  sodium  (Na)  juga  tinggi,  tetapi  rendah  akan kandungan vitamin A, asam askorbat, kalsium, dan serat. Intake kalori berlebihan ini akan berakibat pada adanya obesitas. Semakin beranekaragaman jenis fast food yang dikonsumsi, semakin tinggi pula resiko seseorang menderita obesitas. Anak yang memperoleh intake energi dari fast food sebanyak 75% lebih berpeluang untuk menjadi obesitas daripada anak yang memperoleh intake energi yang dikonsumsi dari  fast food, semakin tinggi resiko obesitas seseorang.
Obesitas atau kegemukan adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai oleh penimbunan jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan. Obesitas pada anak merupakan masalah yang sangat kompleks, yang antara lain berkaitan dengan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh seseorang, perubahan pola makan menjadi makanan cepat saji yang memiliki kandungan kalori dan lemak yang tinggi, waktu yang dihabiskan untuk makan, waktu pertama kali anak mendapat asupan berupa makanan padat, kurangnya aktivitas fisik, faktor genetik, hormonal dan lingkungan (Yussac, dkk., 2007).
Pengertian kegemukan sering kali disamakan dengan obesitas, padahal kedua  istilah  tersebut  memiliki  arti  yang  berbeda.  Kegemukan  adalah  kondisi  berat  tubuh  melebihi  berat  tubuh  normal,  sedangkan  obesitas  adalah  kondisi  kelebihan berat tubuh akibat pertumbuhan lemak, untuk pria dan wanita masing-masing melebihi  20%  dan  25%  dari  berat  tubuh  (Rimbawan  &  Siagian  2004). Seseorang disebut mengalami obesitas apabila besar  lemak  tubuhnya melebihi  batas normal. Jumlah  lemak yang normal pada wanita adalah sekitar 15  - 28% dari berat badanya dan untuk pria  jumlah  lemak yang normal adalah 10  - 18% dari  berat  badannya.  Persentase  lemak  simpanan  dibawah  kulit  pada  wanita  adalah  9%  dan  pada  pria  adalah  4,4%,  persentase  lemak  simpanan  dirongga perut dan dada pada wanita adalah 2,3% dan 1,55 pada wanita (Effendy 1995). Faktor risiko utama penyebab obesitas berdasarkan hasil penelitian Gu et al.  (1995)  diantaranya  adalah  frekuensi  konsumsi  snack  (OR=2,65),  kebiasaan makan  yang  terlalu  cepat  (OR=2,51),  kebiasaan  makan  yang  tidak  seimbang (OR=1,84), memiliki  ibu atau ayah yang obes (OR= 1,73), serta berat  lahir >3,5 kg (OR=1,52). Faktor risiko lainnya adalah kesukaan terhadap daging atau telur, ketidaksukaan  terhadap sayuran dan buah, serta kurang aktif dalam melakukan aktivitas  fisik.  Lingkungan  yang  berpengaruh  terhadap  kebiasaan  makan diantaranya  termasuk perubahan alami  suplai makanan, peningkatan konsumsi di  luar  rumah,  pemasaran,  promosi  dan  juga  harga makanan  tersebut. Kondisi orangtua  yang  sama-sama  bekerja,  serta  keterbatasan  waktu  di  rumah  juga menjadi  faktor  penting  dalam  menentukan  tipe  makanan  yang  dikonsumsi.
Menurut Dietz dalam Virgianto (2006), ada 4 periode kritis terjadinya obesitas, yaitu masa prenatal, masa  bayi, masa adiposity rebound, dan masa remaja. Obesitas yang terjadi pada masa remaja, 30% akan melanjut sampai dewasa menjadi obesitas yang persisten dan risiko terjadinya obesitas lebih banyak pada remaja putri daripada remaja pria. Obesitas yang terjadi pada masa remaja perlu mendapatkan perhatian, sebab obesitas  yang timbul  pada waktu anak dan remaja bila kemudian berlanjut hingga dewasa akan sulit  diatasi  secara konvensional  (diet dan olahraga). Menurut definisi WHO remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara PBB menyebut anak muda (youth) untuk usia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24 tahun.

c.       Penghitungan IMT (Indeks Mass Tubuh)
Pengukuran IMT didapatkan dari berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter persegi (kg/m2). Interpretasi IMT tergantung pada umur dan jenis kelamin anak, karena anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai komposisi   tubuh   yang   berbeda. Dengan mengukur IMT akan diketahui apakah berat seseorang dinyatakan normal, kurus atau gemuk.Nilai   batas   IMT   untuk   obesitas   pada   remaja mengikuti   kriteria   NHANES   (National   Health   Assesment   and   Nutritional  Examination Survey) yaitu persentil ke-95.   Remaja yang memiliki  IMT lebih atau sama dengan persentil ke-95 dikategorikan obes sedangkan yang kurang dari persentil ke-95 diketegorikan non obes (Adityawarman, 2007).
Batasan ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan, dan penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berusia diatas 18 tahun. Tetapi timbullah masalah yang diterapkan oleh WHO NCHS dengan keterbatasan tinggi badan yakni, laki-laki maksimal 145 cm dan perempuan maksimal137 cm. Dengan keterbatasan satu hal di atas, maka dibutuhkan batas ambang IMT yang dapat ditentukan berdasarkan baku IMT meurut umur (CDC 2000) yang membedakan batas ambang untuk remaja laki-laki dan perempuan (Anonim, 2000).
Sedangkan untuk menghitung konsumsi zat-zat gizi, seperti energi digunakan suatu metode. Metode yang sering dipakai adalah metode  recall, yang dilakukan dalam waktu 24 jam dan sebaiknya dilakukan 2 (dua) hari berturut-turut. Metode food recall  24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jmlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Selain mudah dilakukan, murah dan cepat. Metode ini juga memberi gambaran yang nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari (Virgianto, 2006).


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada rumah penduduk yang terdapat di lingkungan setiap center. Di Yogyakarta sendiri, penelitian bertempat di 5 rumah pada setiap kabupaten yang dipilih berdasarkan kesesuaian populasi dan sampel sumber data. Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 September 2011 dilakukan serempak pada setiap tempat disetiap kabupatennya. Untuk center lain tempat, jumlah dan waktu penelitian disesuaikan dengan kondisi dan situasi pada masing-masing center.

3.2 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Desain penelitian ini dipilih karena permasalahan yang akan diteliti bersifat dinamis dan kompleks. Penelitian kualitatif sendiri dapat diartikan metode penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran), dimana peneliti adalah instrumen kunci, analisis data bersifat deskriptif.

3.3 Definisi Operasional
Remaja : adalah mereka yang berusia 10-19 tahun

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah:
1.        Remaja yang masih menjadi penduduk Indonesia
Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang sudah terancang tujuannya dan rencananya dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan untuk sampel dari remajaadalah:
1.        Remaja yang terlahir dari orang tua bukan obes
2.        Remaja dengan berat lahir < 3,5 kg
3.        Suka terhadap semua jenis makanan
4.        Remaja yang tidak memiliki gangguan psikososial
Di Propinsi D.I. Yogyakarta peneliti merencanakan sampel yang diambil sebanyak 25 orang. Perinciannya adalah 5 orang untuk setiap Kabupaten (Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kotamadya DIY). Terhadap daerah lain, jumlah sampel disesuaikan sejumlah 5 sampel disetiap Kabupaten.

3.5 Instrumen Penelitian
Peneliti sendiri (human instrument) yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya. Dan data wawancara berupa pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada informan yang sudah ditetapkan. Selain data wawancara ada beberapa alat pendukung dalam penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data diantaranya adalah alat tulis dan alat perekan suara (tape recorder) sehingga percakapan yang dilakukan dapat direkam sebagai dokumentasi.

3.6 Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap setiap informan dengan bentuk wawancara semiterstruktur (semistructure interview). Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden) dan atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2005).
Sedangkan wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan wawancara semiterstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan disusun dengan rapi dan ketat. Format wawancara dapat bermacam-macam, pertanyaan disusun sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam rancangan penelitian. Namun pada prakteknya, tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari. Hal ini disebabkan tujuan wawancara ini mengungkap maksud dan penjelasan dari responden atau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi atau keadaan tertentu (Moleong, 2006).
Adapun tahapan atau alur penelitian yang dilakukan antara lain :
3.6.1. Persiapan
Peneliti melakukan penyusunan proposal penelitian, melakukan revisi, dan mengurus surat izin penelitian di Fakultas atau center masing-masing dan di tempat penelitian.
3.6.2. Pengumpulan Data
   Pengumpulan data dilakukan di tempat pelayanan kesehatan primer  untuk center Yogyakarta akan dilakukan pada tanggal 20 September 2010 pada pukul 13.00-15.00 WIB, untuk setiap center waktu dan tempat disesuaikan sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing.

3.7 Rencana Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah metode untuk data kualitatif. Menurut Bodgan dan Biklen, analisis untuk data kualitatif merupakan upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari serta memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2006)

0 komentar:

Posting Komentar